The LIII : Gerak Dalam Diam

24 3 0
                                        


GO!

Egan membuka mata perlahan, kelopak matanya berat seperti habis digantung batu. Pandangannya buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada langit mendung yang menggantung di atas lapangan belakang gedung utama. Tubuhnya seakan memberat, tapi bibirnya justru membentuk senyum simpul kecil.

Meski wajahnya bonyok—pipinya lebam ungu, bibirnya pecah, sudut alisnya sobek tipis—Egan tidak peduli. Ia bahkan seperti tidak merasakan sakitnya. Ia bangkit sambil dengusan kecil keluar dari hidungnya. Badannya sempat oleng, tapi ia menahan diri dengan menyentuh tanah.

“Ramuan-ramuanku aman.” gumamnya pelan.

Tangan kirinya terangkat, memperlihatkan satu botol kaca kecil berisi cairan merah pekat. Ia meremasnya dengan sangat hati-hati. Tangan kanannya meraba tas selempangnya yang terjatuh tidak jauh dari tempat ia pingsan.

Ramuan hitam masih ada di dalam tas—terbungkus kain kasar dan tertutup rapat.

Napaknya sedikit menyeret ketika ia berdiri, menimbulkan suara gesekan sepatu hitamnya dengan aspal. Pincang, tapi stabil. Dia berjalan menuju gedung utama seperti seseorang yang selalu tahu ke mana harus melangkah meski dunia sedang miring.

Wajah Egan menegang, tapi sorot matanya santai. Senyum tipis itu tidak hilang.

---

Di Dalam Gedung Utama – Lantai 2 Menuju UKS

Kedatangan Ken seperti kedatangan panglima yang selalu mereka banggakan. Para OSIS berdiri di sepanjang lorong, dan kepala sekolah muncul dari balik pintu ruangannya dengan ekspresi terlalu dibuat-buat.

“Bentar, Kak!”
Salah satu OSIS laki-laki bahkan buru-buru berlari membukakan pintu UKS.

Ken menghentikan langkahnya. “Ngga perlu, gue aja.”

Tangan Ken menepis bahu OSIS itu sedikit, membuatnya mundur. Ia tidak suka perlakuan yang terasa menjilat seperti itu. Tatapan-tatapan bangga mereka justru membuatnya muak. Di mata Ken, penghormatan berlebihan bukanlah bentuk hormat… tapi bentuk ketakutan yang menjengkelkan.

Ia membuka pintu UKS. Erlando mengikuti di belakang, sementara OSIS-OSIS kesehatan menunduk dan merapat ke dinding ketika Ken lewat. Aroma antiseptik menyeruak begitu pintu tertutup.

Ada satu kasur di ujung ruangan yang tertutup hordeng putih dengan rapat.

Srek.
Ken membukanya dengan kasar.

Sosok Jo langsung terlihat—lebih tinggi dari Ken, berdiri di samping ranjang UKS sambil menoleh perlahan. Ekspresinya dingin, terlalu datar untuk anak seusianya. Di tangan kirinya, ia menggenggam buku putih lusuh yang sejak tadi tak dilepaskan.

Jo menatap ke belakang Ken. Lalu ke Erlando.
Daerah sekitar matanya mengencang.

“Tinggalkan kami.” katanya pendek.

Para OSIS kesehatan dan Erlando langsung mundur keluar ruangan tanpa protes. Pintu menutup lagi, menyisakan tiga orang: Ken, Jo, dan Pak Yuan yang terbaring lemah.

“Siapa dia?” tanya Ken sambil mendekat.

“Polisi detektif. Namanya Pak Yuan.” jawab Jo pelan, suaranya turun satu oktaf. Ia memegang besi ranjang, mencondongkan tubuh sambil memijit dahinya. Nada dinginnya runtuh.

Ken dan Jo saling bertatapan—yang satu menahan amarah, yang satu menahan cemas.

“Gue sengaja nyuruh OSIS dan kepsek buat lumpuhin dia sementara,” lanjut Jo. “Tapi… ternyata Pak Yuan terlalu lemah. Darahnya keluar banyak banget. Gue panik, Ken. Ramuan lo aja dicuri, dan gue nggak tau pelakunya siapa.”

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang