The XXV : Peringatan Misterius

20 6 1
                                        


GO!

Taptaptap

Langkah kaki Ken terdengar menggema di lorong, napasnya berat. Keringat membasahi wajahnya. Tapi ia terus berlari. Di belakangnya, tempat Wen ‘menghilang’ yang terus menghantui pikirannya.

‘Wen...’

Tapi ia tak berani kembali.

“MASUK! MASUK KE DALAM!!”

Ken berteriak sekencang-kencangnya ke setiap kelas Excellent. Anak-anak melongok dari jendela, bingung. Tak ada yang paham.

“LO SEMUA MAU MATI?! TUTUP JENDELA! TETEP DI DALAM!!”

Ia berteriak sampai suaranya serak. Ini bukan waktunya menjelaskan.

Ia hanya tahu satu hal: ada monster di sekolah ini.

---

Sementara itu...

Gelap.

Dingin.

Aku gak bisa bergerak. Cairan coklat lengket itu terus melilit seluruh tubuhku. Masuk ke seragamku. Merayap di bawah kulit. Nafasku perlahan melemah. Dunia perlahan menghilang di mataku.

Sampai—

CETAR!

Suatu benda keras menghantam pipiku. Aku kaget. Tidak tahu itu dari mana. Tapi aku merasa… manusia.

Suara napas seseorang di dekat telingaku. Berat. Tenang.

"Bangun, tolol."

Aku membuka mataku perlahan. Samar. Di hadapanku… seseorang berdiri. Berjongkok, sebenarnya. Sosok dengan hoodie putih bersih. Tudungnya menutupi sebagian besar wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata. Mata yang dingin. Kosong. Tapi ada sedikit—aku tak tahu—rasa familiar di sana.

Dia tidak bicara lagi. Tangannya menarikku.

Aku kesakitan. Tubuhku terasa seperti baru saja dihantam besi. Tapi genggamannya kuat. Dia menyeretku keluar dari gumpalan lendir itu.

Aku mendengar sesuatu menggeram. Lendir itu seperti hidup. Berusaha menarikku kembali. Melilit pergelangan kakiku. Tapi si hoodie putih menendangnya.

Lendir itu seperti terbakar di ujung sepatunya. Aku tak paham bagaimana.

Dia menyeretku menjauh dari monster lumpur itu. Membawaku keluar dari toilet.

Kami sampai di lorong. Aku terlempar ke lantai. Kepalaku membentur dinding.

Aku batuk. Berat. Sesuatu yang lengket keluar dari mulutku. Lendir. Aku muntahkan semuanya. Air mataku bercucuran.

Aku menggigil.

Dia berdiri di depanku. Diam. Tidak bicara. Hanya berdiri. Masih dalam hoodie putihnya. Seperti… menungguku mati?

Aku tak tahu.

“Alex…?” gumamku lirih.

Dia tidak menjawab. Wajahnya nyaris tak terlihat dari balik tudung. Tapi aku tahu. Itu dia.

Dia akhirnya bicara. Suaranya datar. Bahkan lebih dingin daripada lendir yang hampir membunuhku.

"Belajar bertahan hidup dulu, baru banyak tanya."

Aku terdiam. Lalu menangis.

Tanganku bergetar. Aku mencoba berdiri, tapi lututku lemas. Aku terduduk di lantai.

“Wen… dia… Wen di dalam…” bisikku, suaraku hampir hilang.

Dia diam sesaat. Lalu menjawab pelan. 

PCS: True TotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang