“Dalam permainan kekuasaan, kebenaran jarang bersuara.
Yang berbicara justru mereka yang tak terlihat —para saksi tanpa nama.”
~Raisha Arsene ♡
GO!
Sosok berambut gondrong itu berbalik badan, langkahnya tenang saat ia menyeberang halaman menuju gedung utama. Dari sana, ia berbelok ke samping kiri bangunan besar Libii Academy—tempat bayang-bayang gedung menempel rapat pada tembok, menelan suara langkah siapa pun yang lewat.
Namun, ada sepasang sepatu hitam yang sejak tadi memperhatikannya.
Sepatu itu diam. Tak bergerak. Pemiliknya bersandar santai di dinding samping gedung utama, kepalanya tertunduk, wajahnya tersembunyi oleh hoodie hitam yang ditarik rendah. Hanya bibir mungilnya yang sedikit pecah-pecah terlihat dari balik kain gelap itu.
Ketika Ken berjalan melewatinya, suara itu terdengar.
“Hei.”
Satu kata—cukup untuk menghentikan langkah ringan sang kapten basket.
Ken menoleh cepat. “Egan?” Nada terkejutnya tipis, namun tubuhnya tetap menyimpan sikap santai seperti biasa.
Hoodie hitam. Sepatu hitam. Tas selempang hitam.
Ciri khas Egan yang tak pernah berubah.
Egan melepaskan punggungnya dari dinding, lalu tersenyum simpul kecil yang tak bisa ditebak maknanya.
“Lo tadi ngobrol sama siapa?” cengirnya, mengingat Ken tadi terlihat bicara sendirian di depan gedung kecil itu. Udara kosong sama sekali.
Ken terdiam. Ada jeda sepersekian detik—kaget yang langsung ia tutupi dengan gerakan menyisir rambut gondrongnya yang padahal sudah rapi terkuncir.
“Lo bukan indigo, kan?” Egan menatapnya dari balik kupluk hoodie, suara sengajanya polos.
Ken—yang barusan terancam ketahuan—malah tertawa pelan. Lega. “Menurut lo aja.”
Egan menggeser tas selempangnya ke depan. Nada suaranya berubah.
“Ken.”
Bukan panggilan.
Tapi tekanan.
“Lo udah tiga tahun di sekolah ini. Lo sama OSIS orang yang paling paham soal kejadian ruang bawah tanah kemarin. Tapi apa iya cuma itu?” Egan maju selangkah, menutup sedikit jarak. “Apa cuma itu yang lo tau soal Libii?”
Ken tak mundur. Tatapannya tajam, kontras dengan wajah yang tetap santai.
“Gue yakin lo tau lebih banyak dari OSIS,” lanjut Egan. “Cara lo nutupin sesuatu itu… terlalu rapi.”
Egan membuka resleting tasnya, merogoh sesuatu, lalu mengangkatnya.
Ken tetap diam, tapi sorot matanya menegang.
Di tangan kanan Egan—
sebuah botol parfum merah.
Botolnya berukir mewah, tutup rose gold, bentuk segitiga terbalik dengan ukiran halus di seluruh badan kaca. Cairannya merah menyala seperti api yang dikurung di ruang gelap.
“Ramuan merah,” gumam Egan. “Nyamar jadi parfum? Warna cairannya aja susah buat dijelasin.”
Ia tertawa kecil—tertawa yang entah mengolok, entah menantang.
“Terus?” Ken akhirnya bersuara. Menyilangkan tangan. Kupingnya sedikit bergerak, menandakan ia mencoba memproses ucapan Egan tanpa panik.
“Lo yang buat ramuan ini, kan?”
DOR.
Pertanyaannya ditembakkan tanpa aba-aba.
Pose santai Ken langsung retak. Kelopak matanya berkedip tak stabil. Badannya refleks menegang, seolah tertembak oleh ketepatan ucapan Egan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
خيال• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
