The XXX : Jebakan Ganda

26 6 2
                                        


GO!

Tubuh monster bunga raksasa itu akhirnya tumbang. Kelopak pink-nya hangus sebagian, dan liur dari mulut di tengah kelopaknya perlahan berhenti menetes. Namun lorong tak lantas menjadi tempat aman.

Suara GLOORR… GLOORR… dari belakang memperingatkan semua orang.

Monster lumpur… masih memburu.

Jo berdiri paling depan, pandangan matanya dingin tapi cepat. "Jangan berhenti. Semua ke pintu darurat. SEKARANG."

Ella—yang masih memegangi Cadby yang hampir jatuh—mengangguk lemah. "Ayo... jangan berhenti... jangan sampai sia-sia."

Alarm pintu darurat masih belum berbunyi. Belum ada yang sempat membuka.

Alex, dengan alat listriknya yang sudah hampir habis daya, bergerak cepat di samping Jo.

"Aku duluan! Biar aku buka pintunya!" teriak Alex.

Jo mengangguk pendek.

Rina yang masih memeluk buku gambarnya… tetap jalan di tengah rombongan. Lily, Medra, dan Sisi saling menggandeng di belakangnya. Jefry membantu Bob yang mulai pincang. Dey tetap tenang, memandu formasi.

Semua bergerak. Tidak ada yang bicara.

Lumpur semakin dekat. Gelombang coklat lengket itu merayap cepat di sepanjang dinding lorong, membentuk mulut-mulut besar, menjulur mencari mangsa. Suara liurnya menetes, dan bau amis lumpur memenuhi udara.

Suara Jo terdengar lagi—dingin dan tegas.

"Siap buka pintu. Begitu alarm bunyi, jangan panik. Fokus jalan."

Mereka semua paham.

Ella meremas tangan Cadby, yang mulai sadar meski langkahnya goyah.

"Kita keluar, Cad," bisiknya pelan.

Di depan, Alex sudah meraih handle pintu darurat.

Lumpur semakin dekat.

Akar monster bunga raksasa yang mati di lorong mulai terinjak-injak, meninggalkan bekas gosong.

Dan akhirnya…

Klik.

Handle pintu darurat ditekan.

Bersiap.

---

Pintu darurat terbuka.

Dan—

TIIIITTTTT!!

Suara alarm melengking memenuhi seluruh gedung utama Libii Academy.

Semua langsung tersentak. Suara bising itu seperti cambuk suara di telinga mereka. Tapi tidak ada yang berhenti.

“MAJU! SEKARANG! JANGAN BERHENTI!” teriak Jo.

Satu per satu mereka berlari menembus pintu darurat. Tangga darurat yang sempit dan melingkar kini menjadi jalur pelarian terakhir mereka.

“Pegang besi pembatasnya! Jangan jatuh!” seru Alex dari depan, suaranya hampir tertelan suara alarm.

Ella menarik Cadby melewati ambang pintu. Rina masih memeluk bukunya erat, berjalan di tengah-tengah. Lily menjerit—bukan karena takut, tapi karena marah sepatu mahalnya kotor. Medra memaksa Sisi tetap jalan meski gadis itu sudah hampir pingsan ketakutan. Dey tetap menjaga semua tetap bergerak, ekspresinya tetap tanpa panik.

“Bob! Jalan! Jangan berhenti!” Jefry mendorong Bob yang mulai tersandung.

Suara lumpur semakin keras di belakang mereka. Ella sempat menoleh sekali.

Gelombang lumpur kini benar-benar memasuki lorong utama, melahap sisa tubuh monster bunga yang mati. Mulut-mulut lumpur terbuka di dinding, lantai, dan langit-langit. Sekali saja mereka tersentuh... habis.

“JANGAN LIHAT BELAKANG! LARI!!” Jo berteriak.

Mereka menuruni tangga darurat dengan kecepatan gila. Beberapa hampir terjatuh. Dinding-dinding besi tangga bergetar akibat alarm yang terus melolong.

Di tengah kebisingan itu, suara dentuman besar terdengar dari atas.

BOOM.

“MONSTER ITU NGEJAR!!” teriak Lily histeris.

Mereka semua tahu. Monster lumpur itu mulai merayap turun melewati celah dinding tangga, mengikuti mereka dari atas. Lumpur licin mulai menetes dari besi-besi di atas kepala mereka.

"Lebih cepat! Turun! TURUN!" Jo benar-benar memaksa langkah semua orang.

Ella menguatkan diri. Cadby hampir ambruk tapi dia tetap membantunya.

"Jangan mati, Cad... jangan di sini..." bisiknya bergetar.

Tiba-tiba Alex berteriak dari depan.

“TUJUAN KITA! PINTU KELUAR ADA DI BAWAH!”

Mereka kini sudah di tangga menuju lantai dasar.

Namun saat mereka hampir mencapai dasar tangga... suara gemeretak terdengar.

Sesuatu menghalangi pintu keluar.

“APA ITU?!” teriak Jefry.

Dey melirik cepat.

Pintu keluar... kini terhalang akar besar.

Akar monster bunga... lagi.

“Bunga kedua...” bisik Alex. “Bunga kedua ada di bawah...”

Suasana membeku sejenak.

Mereka benar-benar terjebak.

Atas: monster lumpur.

Bawah: monster bunga yang lebih kecil tapi lincah dan mematikan.

Jo menarik napas pelan.

"Kita bertarung."

Semua orang menoleh.

"Atas nggak ada jalan. Belakang mati. Satu-satunya jalan... hancurkan yang di bawah."

Tidak ada yang menyanggah.

Ella menggertakkan giginya. “Kalau berhenti... kita habis.”

Rina merapatkan tasnya. Mata gadis penyendiri itu berkaca-kaca, tapi dia mengangguk.

Jo mengangkat besi seadanya.

“Sekarang... kita bertarung. Sekali lagi.”

Suara alarm terus melolong.

Dan di dasar tangga... monster bunga kedua itu bergerak.

---

NEXT!


PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang