The III : Perempuan Aneh

59 7 1
                                        


GO!

Perempuan berambut pendek dan berponi itu berlari begitu saja. Teriak ketakutan.

“Enak aja setan! Gue di sini!” kesalku, melihat perempuan aneh itu kabur ke rumahnya.

Saat dia ngomong panjang lebar, aku sebenarnya sudah nggak dengerin.
“Terus aku ke belakangnya. Ya jelas lah dia ketakutan! Orang dia nyari aku cuma nengok kiri-kanan doang, nggak nengok ke belakang!” Sewotku sambil cerita ke nenek.

“Haha, oalaa gitu toh! Iyo gapapa, mungkin dia takut karena kamu cerita begitu ke dia. Padahal kamu tau itu mitos, harusnya kamu nda usah cerita ke dia soal rumah barunya. Kalo gitu, yoo wes laa… kamu yang salah dan harus minta maaf sekalian salam kenal. Kamu belum kenalan kan sama dia?” Ledek nenek, mencoba menghibur.

“Haa…” aku buang napas.

Coba berpikir jernih. Ya, mungkin memang aku yang salah.

---

Di depan pagar tinggi yang menjulang, aku menelan ludah.

“Yakin nih, aku masuk?” raguku muncul, mengingat tentang mitos-mitos itu.

Jika mitos itu benar, artinya rumah perempuan berponi itu dulunya milik penyihir hitam yang hobinya ngutuk orang jadi patung.

“PERMISIII! Hallooo, apa ada orang di dalam?” teriakku dari luar pagar.

“Aduuh… kayaknya nggak kedengeran deh. Apa aku pulang aja, ya? Tapii… nanti kalau nenek tanya, aku jawab apa?” gumamku, mondar-mandir di depan pagar sambil sesekali ngintip ke balik pagar.

Masih penasaran isi rumahnya seperti apa. “Sepii… halaman rumah aja sepi. Pasti lagi pada tidur. Kayaknya juga belum ada satpam di rumah ini,” ocehku sendiri, mata celingukan di antara rongga pagar.

HAH! Teriakku, karena ada yang menyentuh pundakku dari belakang.

“Nah lho, cari siapa, Nak?” tanya seorang perempuan cantik, tinggi, jelas terlihat seorang ibu... Ibu. Kayaknya...

“A-anu, Tante... Aku mau nganterin titipan jamu daya tahan tubuh dari tanteku, buat tetangga baru. Soalnya sebelumnya dia udah ngasih aku makanan. Sekalian aku mau balikin nampannya,” senyumku agak canggung.

“Waa, boleh banget! Kebetulan tadi itu anak Tante yang bagiin kue…” ramahnya.

Sudah kuduga, ini pasti ibunya si poni.

“Kalau gitu, masuk aja, yaa. Sini Tante bawain,” ajaknya penuh semangat.

Aku dibawa masuk ke rumah besar itu.

---

Ternyata nggak seburuk bayanganku. Dalamnya bersih, rapi, dan wangi. Aku jadi nggak perlu takut lagi sama mitos-mitos aneh itu.

Beberapa barang emang bentuknya agak... nggak familiar. Tapi sisanya, rumah ini bagus dan mewah.

“Tunggu dulu, ya. Tante panggilin Ella dulu,” ucap Tante sambil naruh bawaan di meja, lalu pergi begitu saja.

Barang-barang yang aku bawa diletakkan di meja. Nggak dibawa sama Tante. Apa sengaja biar aku kasih langsung ke anaknya?

Nggak lama, si poni turun dari tangga. Pake piyama, mata fokus ke layar HP.

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang