The LIV : The Plan, The Chase, and The Exchange

24 3 0
                                        


GO!


Rencana pertama, Cadby dan Messa. Mengendap-endap sampai semua OSIS berpaling. Tidak boleh ada satu pun OSIS yang melihat mereka pergi ke jendela. Itu inti rencana yang baru saja Yume bacakan, dan ketiganya kini duduk dalam lingkaran kecil, seolah sedang melakukan rapat rahasia yang tidak mungkin diketahui siapa pun.

"Menurutku itu agak mustahil sih."
Yume menghela napas sambil tetap mencatat, ujung pulpen berputar-putar gelisah di tangannya. Nada suaranya bukan meremehkan, tapi realistis-seolah ia sudah membayangkan dua bocah itu nyungsep di depan OSIS hanya karena salah langkah.

"Oke kalau gitu, rencana kedua. Plan B."
Messa langsung angkat wajah, semangat, seakan dia baru saja membuka lembar baru kehidupan.

Rencana kedua, Cadby dan Messa. Tidak perlu mengendap-endap. Mereka akan berjalan santai ke arah jendela. Kalau ada OSIS bertanya, alasannya sederhana: mau ke UKS atau ada orangtua yang membawakan bekal makan siang. Seolah-olah itu situasi paling normal sedunia.

"Cukup masuk akal."
Yume mengangguk penuh pertimbangan. "Dengan salah satu dari kalian izin karena mau mendatangi orangtua yang bawa bekal, otomatis OSIS nggak bisa larang." Ia mencatat sesuatu lagi, alisnya bertaut seperti konsultan ahli yang sedang merumuskan strategi perang.

"Berarti pake plan B?"
Cadby langsung bersinar seperti bohlam baru dipasang.

"Nggak, bodoh."
Plak. Buku catatan tebal Yume mendarat mulus di kepala Cadby.

"Auw..."
Cadby mengusap kepalanya dengan ekspresi menderita namun pasrah.

"Haha, ini baru plan. Jangan langsung aksi dulu."
Messa tertawa pelan, gaya khasnya, santai tapi meremehkan kemampuan berpikir Cadby.

Yume mendecak. "Lagian aku baru bilang 'cukup masuk akal'. Bukan artinya sempurna! Di jam pelajaran kayak gini, jarang ada orangtua yang tiba-tiba bawa bekal. Apalagi orangtua kita taunya kita dapat makan siang dari sekolah. Gimana sih lo?!"

"Hehe, sorry. Gue daftar kesini pake orang lain. Soalnya, di rumah gue tinggal bareng nenek doang,"
Cadby menjawab dengan guratan senyum kecil yang tidak menutupi getirnya.

Yume langsung berhenti mencatat. Ia menatap Cadby dengan alis terangkat, kemudian menoleh cepat ke Messa. "Jadi... kalian senasib?"

Cadby mengalihkan pandangan ke Messa.
Messa hanya menyengir konyol, seolah berkata yap, hidup gue juga lucu.

"Hehe. Iya, sama Cad. Ortu gue ninggalin gue sejak lama. Sekarang gue tinggal bareng kakek," katanya singkat-tanpa dramatisasi, tapi justru membuat suasana makin berat.

"Sedikit beda sebenernya," Cadby menambahkan tiba-tiba, "Gue ditinggal bokap, nyokap udah lama nggak ada."

Yume terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas.
"Intinya, sekarang nasib kalian sama."
Ucapannya lugas, tapi terdengar hangat.
Setelah itu ia menutup buku catatan, menepuknya pelan seolah merapikan pikirannya sendiri.

"Oke. Lanjut ke plan C."

---

Alex berlari menuruni tangga, langkahnya cepat tapi tetap hati-hati, dan Ella mengikuti dari belakang. Suasana lantai reguler jauh lebih hening daripada biasanya, sehingga suara langkah mereka terdengar jelas memantul di dinding.

"Mau kemana kalian?"
Seorang OSIS yang berjaga di depan pintu kelas reguler langsung memicingkan mata curiga.

Alex menoleh cepat-dan tanpa melihat sepenuhnya, tangannya refleks meraih tangan Ella. Genggaman itu erat dan gugup. Ella kaget, tapi tidak melepas. Salah satu OSIS maju, memeriksa pin mereka dengan detail seolah mencari alasan untuk menahan mereka.

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang