The XLVIII : 💀 The Locked War

15 3 1
                                        

GO!

Udara di ruang Reguler terasa tebal dan lembap, seperti menahan napas bersama ratusan rahasia. Lampu gantung bergoyang tak stabil, sinarnya berpendar redup di antara debu yang berjatuhan.

Lalu—suara itu datang.

“HIIAA!!”

Cadby berlari menerobos kerumunan, menghantam udara yang dipenuhi suara logam dan jeritan.

Di depan, salah satu OSIS menggenggam tongkat kayu panjang—ayunannya cepat, memukul siapa pun yang mendekat. Tongkat itu menghantam lantai, dinding, dan punggung murid-murid Reguler yang mencoba melawan.

Cetak!

Cadby hanya bersenjatakan sebatang pulpen. Terlalu kecil untuk disebut senjata, tapi di tangannya, benda itu seperti bilah tajam yang siap menuntut keadilan. Ia melompat rendah, menunduk, menghindar dari ayunan tongkat, dan dalam satu hentakan—

“CRAT!”

Pulpen itu menancap di mata kiri seorang OSIS.

Jeritan menggema, tajam dan panjang. “AAARGHH!! MATA GUE!!”
Darah menyembur, menodai lantai putih yang kini sudah merah pekat. 

OSIS itu menggila.
Tongkat di tangannya berayun membabi buta—menyambar lantai, menghantam dinding, memukul siapa pun yang terlalu dekat.

Cadby mundur setengah langkah, dadanya naik turun cepat. Ia masih berdiri, meski tubuhnya bergetar karena adrenalin.

“Ayo, Cadby… ayo…” gumamnya, nyaris tanpa suara.

Tongkat kembali diayunkan ke arahnya.
BAGK! BUGK!
Benturan bertubi-tubi menghantam punggung dan bahu Cadby, tapi ia tetap bertahan. Ia mempelajari arah gerak, menatap lawannya seperti membaca pola rumus matematika.

Satu… dua… tiga… ulang.
Setiap ayunan punya irama. Setiap serangan punya celah.

Dan pada ayunan keempat—

TAP!
Tangannya menangkap tongkat di tengah lintasan.

Waktu seolah berhenti. OSIS di depannya membeku.

Cadby tersenyum tipis. Lalu—

“Tep. Brak.”

Tongkat berpindah tangan, gerakannya cepat, presisi, dan dingin.

BAGK! BUGK!

Dua pukulan ke rusuk. Satu ke lutut. Satu lagi ke pelipis. Semua tepat di titik lemah.

“Cacat nggak apa-apa,” ucapnya datar. “Salah lo sendiri.”

Tubuh lawan terjatuh. Napasnya tersisa satu-satu, seperti lampu yang hampir padam.

Cadby berdiri di tengah kekacauan, tongkat berputar pelan di tangannya, lalu berhenti. Tatapannya liar, mencari lawan baru. Tapi yang datang justru orang yang ia kenal.

“MESSA!”

Ia menoleh cepat.

Dari sisi kanan, Messa muncul—rambut kudanya acak-acakan, pipinya penuh debu, seragamnya sobek di beberapa bagian. Rok birunya sudah dilepas, menyisakan celana pendek olahraga. Gerakannya cepat, lincah, dan berbahaya.

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang