GO!
Koridor ruang reguler terasa seperti kotak besi yang menahan panas matahari sejak siang tadi. Udara di dalamnya tebal, pengap, dan terjebak di antara dinding kusam yang seolah terlalu dekat satu sama lain. Puluhan siswa Reguler duduk berdesakan di lantai, saling menahan napas, sementara para OSIS Excellent berdiri mengelilingi mereka seperti pagar besi yang menutup setiap kemungkinan untuk kabur.
Keringat jatuh dari pelipis satu per satu, membentuk titik-titik kecil di ubin lantai. Sudah banyak OSIS yang menegakkan baju, mengipas-ngipas kerah, mengubah posisi berdiri, tapi tetap saja kepanasan. Wajah-wajah mereka memerah.
“Kalian dengar? OSIS-OSIS udah banyak yang mengeluh kepanasan.” Yume menunduk sambil melirik kanan-kiri, suaranya nyaris tak terdengar karena ia takut membuat OSIS curiga. Rambut depannya basah menempel di kening.
“Panas banget gilaaa!”
“Mau kipasnya dong…”
Seorang OSIS cowok berkulit putih dengan belahan tengah langsung menyambar kipas portabel milik OSIS lain yang kulitnya lebih gelap.
“Sampe kapan kita di sini?!” seseorang mengeluh sambil menendang pelan tas yang tergeletak di samping kaki.
“Baru ngerasain gini doang udah ngeluh…” celetuk Cadby santai, nadanya tidak keras, tapi cukup jelas untuk terdengar.
Messa dan Yume spontan melotot bersamaan.
“Cadby! Diem!” bisik Messa, suaranya panik, kedua alisnya bertemu di tengah.
Namun sudah terlambat.
Bob—OSIS berbadan besar—melangkah maju. Tubuhnya menutupi sebagian cahaya dari lampu koridor saat ia berdiri tepat di samping Cadby. Lengannya disilangkan, napasnya berat, dan sorot matanya menusuk.
“Lo lagi, lo lagiii…” Bob mengembuskan napas kasar. “Nggak kapok-kapok lo, ya?!”
"Kenapa? Bosen sama gue?” Cadby berdiri santai dari duduknya, menghadap Bob tanpa gentar. “Gue cuma bilang, gue juga bosen sama lo. Anak-anak OSIS.”
“Apa lo iri?! Nggak bisa jadi OSIS?! Karena OSIS cuma rekrut anak-anak Excellent.” Bob menghujamkan kata-katanya seperti panah.
Cadby mengangkat bahu. “Ngapain gue iri? Jadi OSIS cuma buat jadi binatang peliharaan sekolah. Gue sih, ogah.”
Kalimat itu seperti menyiram bensin ke api.
“BACOT LO YA!!” teriak OSIS berkulit putih tadi, matanya membesar, jarinya menunjuk ke wajah Cadby.
“SONGONG!! MISKIN AJA BELAGU LO!”
“KALO IRI BILANG NGGAK USAH JELEK-JELEKIN OSIS!!”
Keributan makin memanas.
“Lho? Bukannya bener? Emang kalian peliharaannya sekolah, kan?” Eric nyeletuk dari samping, bergaya sok polos seolah ia hanya mengatakan fakta akademik.
Dalam sekejap—BUGK! OSIS yang ingin meninju Eric malah kena bogem balik dari Eric duluan.
“CADBY!!! INI GARA-GARA LOOO!!!” Bob meledak marah. Tubuh besarnya bergerak lambat tapi kuat, lengannya terangkat untuk memukul Cadby.
Namun kecepatannya jelas kalah jauh dari Messa.
BUAGK! Tendangan Messa menghantam wajah Bob dengan keras. Tubuh besar itu terlempar ke belakang dan jatuh dengan bunyi DUNKK yang menggema di seluruh koridor.
Seolah menjadi pemicu kecil saja, semua OSIS lain langsung ikut menyerang. Koridor berubah menjadi medan perang amatir—OSIS Excellent bersenjatakan peralatan olahraga, melawan siswa Reguler yang hanya mengandalkan tangan kosong, keberanian, dan sedikit kewarasan yang tersisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasy• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
