GO!
Heningnya Kelas 7 Excellent 1 pecah saat rombongan OSIS memasuki ruangan. Aura dominan mereka langsung mengisi setiap sudut. Kak Tania berdiri di depan, senyum lebar menghiasi wajahnya. "Hari ini, kami akan memperkenalkan kalian pada dunia OSIS di Libii Academy-atau yang nama resminya adalah Learning Institute for Brilliance, Integrity, and Innovation!"
Learning Institute for Brilliance, Integrity, and Innovation? Aku mengerutkan dahi. Nama itu terdengar begitu mulia, tetapi sangat kontras dengan kekacauan dan kegaduhan yang kulihat kemarin. Sejujurnya, sekolah ini terasa lebih mirip sarang kekerasan bagiku.
"OSIS itu Organisasi Siswa," Kak Bob memulai, suaranya sengaja dibuat berat dan menggelegar. "Kami terpilih oleh OSIS sebelumnya, karena kami adalah siswa terunggul di sini-sesuai dengan semangat Brilliance, Integrity, dan Innovation dari Libii Academy itu sendiri. Ingat, ya? TERUNGGUL! Jika kalian jauh dari kata unggul, maka kalian... cacat!" Penjelasan tentang sejarah OSIS itu lebih terdengar seperti sebuah ancaman dingin.
Meski perkataan Kak Bob barusan membuat bulu kudukku meremang, anehnya, justru muncul rasa penasaran yang kuat di benakku: bagaimana rasanya menjadi OSIS?
"Kalian bisa jadi OSIS kalau berhasil melewati dan menuruti setiap perintah kami," Kak Ando tersenyum tipis, sorot matanya mengunciku. "Jika berhasil, kami akan merekrut beberapa dari kalian, bahkan salah satu bisa jadi Ketua OSIS tahun depan."
Formulir pendaftaran OSIS dibagikan, dan aku merasakan gejolak antusiasme yang luar biasa. Aku sangat super excited untuk mendaftarkan diri. Pukul delapan pagi, formulir harus sudah terkumpul di ruang OSIS lantai empat. Aku, Dey, dan Kezia bergegas, ingin jadi yang pertama mengumpulkannya.
---
"Tadi Tania sama yang lain sudah ada di sana [ruang OSIS], naik aja ke atas," kata seorang kakak kelas di tangga menuju lantai empat.
"Baik, Kak. Terima kasih banyak!" Senyum kami bertiga.
Lantai empat sungguh mengagumkan, jauh lebih luas dari lantai dua atau tiga. Tiga pintu besar berjajar di sana: ruang kelas sembilan, ruang agama, dan yang paling mencolok, Ruang OSIS. "Ini semua fasilitas khusus kami, anak Excellent," batinku bangga. "Keren!" Hanya itu yang bisa kami bertiga ucapkan sebelum membuka pintu utama Ruang OSIS.
Begitu masuk, kami tercengang. Di dalam Ruang OSIS itu sendiri, ada belasan pintu lain! Ada Ruang Anggota, Ruang Bendahara, Ruang Sekretaris, Ruang Wakil Ketua, dan bahkan Ruang Ketua OSIS. Sisanya terlalu banyak dan mirip labirin.
"Kita harus ke mana?" Kezia tampak bingung.
Aku sendiri juga bingung. Mataku menyusuri satu per satu pintu di dalam ruangan OSIS itu. Sampai aku melihat sebuah petunjuk.
"Itu, kita ke sana!" Kataku, menunjuk satu ruangan di sebelah kananku.
Ruang Operator OSIS. Kami siap masuk ke dalam ruangan ini.
"Aneh, padahal kemarin jelas kaca jendelanya pecah!"
"Iya, tidak ada sama sekali orang di sana!"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang jelas pintunya baik-baik saja, tidak ada yang rusak."
"Ella!" Panggil Kezia. Aku menoleh. Kezia dan Dey sudah berdiri di depan pintu Ruang Operator OSIS.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasi• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
