GO!
Rumah tetangga pertama yang kami kunjungi adalah tetangga sebelah kiri dari rumahku, baru kemudian ke sebelah kanan, lalu kanan depan, kiri depan, dan tengah depan.
'Jreg, jreg, jreg!'
Mama membunyikan gagang pintu pagar rumah tetangga sebelah kiri. Tak lama, pintu pagar dibuka, dan muncullah seorang lelaki besar, tinggi tegap, dan berseragam yang langsung memperhatikan kami.
"Ya, ada apa?" tanya seorang satpam dengan tatapan tajam.
"Ini ada hidangan dari kami, tetangga baru. Rumah kami ada di sebelah kanan rumah ini. Saya Lizzie, ini anak saya Ella, dan suami saya Bapak Alsheiraz," kata Mama ramah sambil menyodorkan beberapa kue di atas piring plastik yang kubawa.
"Wah... terima kasih ya. Nanti saya sampaikan ke Nyonya dan Tuan. Oh iya, Nyonya saya namanya Ibu Siwa dan Tuan saya namanya Bapak Bryant. Mereka beragama Buddha," jawab satpam itu membalas keramahan Mama.
"Oh iya, sama-sama. Salam kenal juga walau secara nggak langsung ya, haha. By the way, Bapak sendiri namanya siapa, nih?" tanya Mama sok akrab.
"Saya Pak Harto Tarigan. Banyak yang panggil saya Pak Toto," jawabnya sambil tersenyum.
Ya... walaupun dari postur dan wajah sangarnya itu, ternyata beda banget dari dugaanku. Kukira dia galak atau malah akan mengusir kami, tapi ternyata dia sangat ramah. Ya, itulah seorang satpam yang keren.
---
Selanjutnya, kami menuju ke tetangga sebelah kanan dari rumah kami. Kali ini kami disambut langsung oleh tuan rumahnya bernama Pak Danish, beserta istrinya Bu Henny dan tiga orang anak mereka - satu perempuan dan dua laki-laki.
Yang pertama Kak Revaldo, umurnya 17 tahun, kelas 3 SMA. Lalu Rina, dia seumuran denganku tapi pemalu banget. Begitu ketemu, dia langsung sembunyi di balik badan ibunya. Dan terakhir Riko, umurnya baru 8 tahun, kelas 2 SD. Dia super cute, dengan pipi chubby dan wajah yang tamvan.
Sudah dua rumah yang menyambut kami dengan hangat dan ramah. Bahkan, aku dikasih sebuah kotak hadiah berwarna merah muda dengan pita manis berwarna gold glitters. Kata Bu Henny, itu dari anak keduanya, Rina. Katanya, Rina sudah lama ingin punya teman perempuan yang seumuran.
Saat Bu Henny bilang begitu, aku langsung senang banget, tersenyum lebar dan berterima kasih. Semoga aku bisa jadi teman baik Rina.
---
Ketiga.
Sebelum aku ke tetangga kiri, kanan, bahkan tengahku yang di depan, aku menyebrang jalan dulu. Sambil menoleh kiri dan kanan, tanganku menjulur ke samping seperti petugas lalu lintas yang memberi tanda berhenti. Mobil-mobil membayangkan berhenti dan menyorotiku. Aku pun berjalan di atas garis-garis putih seperti zebra cross.
"Nak, ini bukan jalan raya lho," kata Mama tiba-tiba, menyadarkanku dari khayalanku.
Ya. Kenyataannya... tidak ada zebra cross, apalagi mobil yang menyoroti. Aku langsung terkekeh dan tersenyum malu karena Mama tahu aku sedang berkhayal.
Kami berjalan menuju rumah sebelah kanan dulu, tapi sayangnya tidak ada orang. Rumah itu kosong.
"Nak, ini ada lima belas kue lagi. Lebih baik lima kue dititip ke tetangga sebelahnya aja ya, biar dia yang kasih ke sebelah. Oke?" kata Mama, menyodorkan sepuluh kue ke aku.
"Dan bantu Mama ya. Mama mau ke tetangga kiri, kamu ke rumah yang tengah. Kamu udah tahu kan mau ngomong apa?" sambung Mama.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasy• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
