The XVII : Terjebak di Hari Ketiga Orientasi

23 5 0
                                        


GO!

"Ya sudah ya, Nek, Ella berangkat dulu," kataku sambil mencium lengan keriput nenek. Nenek Cadby tersenyum.

Nenek, yang terduduk di atas kursi roda, masih bisa semangat membuat banyak jamu daya tahan tubuh. Tadi aku telah membantunya pindah dari kasur ke kursi roda, dan setelah itu aku berpamitan untuk segera berangkat sekolah. Namun, langkahku terhenti saat nenek menarik pelan lengan jaketku. Nenek menghentikanku karena ia ingin memberikan sekantong plastik bening berisi kain batik khas Jogjakarta—sebagai tanda terima kasihnya karena aku sudah mau membantunya berpindah ke kursi roda.

Hari ketiga, masa orientasi Sekolah.

Brak. Dey dengan cepat menutup pintu kelas.

"Dia nggak sendirian tadi!" Kezia melotot ketakutan.

"Kita harus cari jalan keluar dari sini," kata Dey yang menahan pintu kelas.

Ya, sekarang aku sedang terjebak di dalam kelas yang super kumuh.

"WOI! BUKA PINTUNYA!!"
Bayanganku mendengar suaranya itu, seperti seorang lelaki berbadan besar, memiliki banyak otot, dan berkepala botak seperti Deddy Corbuzier.

"Kita harus balas dendam! Mumpung cacing-cacing ini masih lemah!" Mereka sengaja melantangkan suara agar kami takut.

"AYO! BUKA PINTUNYA!!" teriak mereka. Tidak. Kami sangatlah takut. Mereka tidak sendirian!

"TIGA ORANG LAWAN ENAM PULUH LEBIH ORANG PASTI MENANG!!" Suara di luar terdengar tidak baik-baik saja. Kami melotot mendengar ucapan si kepala botak (khayalannya Ella). Bisa-bisa kami jadi daging cincang nantinya.

"Cepat, anjing! Mau kita hancurin nih pintu?! HAH?!"

"HEH, MANUSIA PERSETANAN! TEMAN-TEMAN KAMI BANYAK YANG KOMA DAN MENINGGAL BEGITU SAJA SAMA KALIAN! SEKARANG KALIAN YANG HARUS MERASAKAN SEMUANYA!"

Ada banyak anak reguler mengeluarkan kata-kata kasar dan cacian buat kami, anak Excellent. Ini gila! Aku tidak percaya dengan ucapan-ucapan mereka. Aku rasa kami anak Excellent tidak sampai membunuh. Ya, kan?

Glek. Dey menelan ludah ketakutan.
Matilah kita... Aku tidak terlalu yakin dengan batinku.

"Udah, kita dobrak saja, guys!"

BRAG! BRAGK. BRAGK. Dobrakan beberapa kali di pintu kelas. Pada dobrakan pertama tadi, pintu ini tidak bergerak sama sekali.

"Ini macet, guys!" kata Dey yang langsung berlari ke arah pintu dan menahannya. Ya, Dey, si cowok berbadan mungil mampu menahan pintu yang sedang didobrak beberapa anak di luar kelas.

Aku dan Kezia tetap saja tidak tega melihatnya menahan pintu yang macet sedang didobrak berkali-kali. Kami berdua bolak-balik kebingungan, apa yang harus kita lakukan? Lagian, lama kelamaan tenaga Dey bakal kalah juga dengan tenaga anak-anak yang super banyak di luar pintu kelas ini!

Itu dia! Aku berlari ke arah sepeda usang di pojok kelas ini, ada sebatang kayu sapu di sana.

"Dey, tangkap ini!" Aku melemparkan sapu ke arah Dey.

Kezia tersenyum ke arahku dan aku mengangguk. Sepertinya Kezia menemukan cara untuk menolong Dey juga. Ya, benar! Kezia mengikat gagang sapu dan gagang pintu dengan tali skipping-nya.

Bagus, kami berhasil. Dey tidak perlu menahan pintunya lagi. Namun, selang beberapa menit...

"Eem... guys," kata Dey perlahan memundurkan kaki. Pintunya mulai terbuka, kami panik! Semua meja dan kursi kami arahkan ke pintu. Kami benar-benar spontan tanpa banyak mikir, semua kursi dan semua meja kami tumpuk tak beraturan.

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang