GO!
Aku melamun di atas kasur, mendengar jawaban Ella tentang kejadian kemarin. Ia bilang tidak ada siapa pun yang masuk ke kamarnya selain dirinya, orangtuanya, dan aku. Dan jujur saja, tadinya aku juga tidak mengingat banyak... sampai suara tamparan waktu itu terdengar di kepalaku.
Tiba-tiba semuanya kembali. Ingatan yang terhapus muncul perlahan. Aku ingat semua yang kukatakan, semua yang Ella lakukan. Tapi satu hal belum bisa kupahami: Ken.
Ken harus aku selidiki.
---
Pagi harinya
"Sayangkuu kamu kenapa?" Alex langsung mengusap kepalaku. Anak ini emang selalu lebay.
"Ciee mulai terbiasa nii kayaknya utututu," katanya lagi sambil menggosok-gosokkan kepala ke pundakku. Aku mengernyit jijik.
Awas beneran jadi bencong lo, bro!
"Bye!" Alex kabur sebelum aku sempat menekramnya.
Aku berjalan lebih tegap pagi ini. Seragam hari Kamis kami memang super fancy. Kemeja kerah koko emas, celana panjang dengan ukiran batik silver, sepatu pantopel mewah. Aku rasa aku bisa jadi model dadakan.
Lewat depan ruang reguler, aku naik tangga seperti anak-anak Excellent lain. Nggak mau kalah gaya, walau aku bukan dari mereka.
"Bro!" Teriak Alex dari atas tangga, menunjuk kelas di depannya.
Aku ngos-ngosan naik anak tangga terakhir dan menghampirinya.
"Cepet! Telat lo, bego!" katanya sambil mengeplak kepalaku. Lalu ia masuk ke kelasnya yang terletak dua pintu dari kelasku.
Aku berhenti di depan pintu putih kelas 7 Excellent 1. Sedikit terbuka. Dingin AC langsung menyambut wajahku. Aromanya juga... mahal. Campuran lavender dan vanila, tapi entah kenapa malah bikin perutku mual.
Aku menelan ludah, ragu sejenak. Tapi kakiku sudah melangkah masuk.
"WHOAAHHHH!"
Suara anak-anak kelas menyambutku. Teriakan spontan penuh kekagetan. Kecuali satu-Ella-dan guru yang sudah duduk di depan.
Langkahku terhenti. Kepala menunduk. Jujur aja, aku pengen kabur.
"Kamu kemarin ke mana? Kok nggak masuk kelas? Semua teman menunggumu," suara lembut guru perempuan itu terdengar dari depan. "Ayo, kenalin dirimu."
Perkenalan? Lagi? Aku nelen ludah. Pasti ini kerjaan Egan. Tapi... gimana dengan absensiku di kelas?
Aku diam.
"Hai..." suaraku nyaris tidak terdengar, terlalu lirih. Sekilas aku teringat waktu pertama kali menyapa di kelas reguler, yang sumpek dan kumuh... tapi terasa lebih rumah daripada ini.
"Haiii!" sahut mereka kompak.
Hatiku mencelos.
Aku nggak kuat. Dadaku sesak. Dan... air mataku tiba-tiba keluar begitu saja.
Aku... kangen diriku sendiri.
Tanganku mengepal. Tapi bahuku gemetar.
"Nak, kamu kenapa?" tanya ibu guru, menyentuh bahuku lembut. Aku hanya bisa menggeleng pelan, mencoba menenangkan napas-sia-sia.
"Bu!"
Sebuah suara memotong keheningan. Lembut tapi tegas. Seorang siswi mengangkat tangan dari barisan tengah. Dan waktu terasa melambat.
Aku nggak tahu siapa dia. Tapi mataku langsung terpaku pada rambutnya-ungu pastel bergelombang, jatuh indah hingga sepinggang, dan... ada garis pink menyala di tengah-tengah helaian rambutnya.
Bukan highlight biasa. Warnanya menyatu sempurna seperti lukisan. Cantik. Nggak biasa. Tapi justru itu yang bikin aku nggak bisa berpaling.
"Menurut saya, sebaiknya dia nanti saja kenalannya, Bu. Kayaknya dia lagi nggak baik-baik aja."
Suaranya ringan. Seolah ada efek echo di kupingku. Dan ya, aku sempat mikir AC kelas ini nyembur angin khusus buat dia, karena rambutnya sempat kelihatan berkibar. Matanya bulat, wajahnya nyaris flawless, dan bibirnya merah muda glossy.
Bibirku bahkan sempat setengah terbuka. Aku... beneran ngelamun.
Aku baru sadar saat bu guru mengangguk dan mengarahkanku ke tempat duduk kosong di sebelahnya. Di sebelah dia.
---
"Aku Lilyana Rizka Fatilla, biasa dikenal dengan sebutan Lily. Aku juga seorang zelebgram kecantikan, jadi jangan hujat aku cuma karena mewarnai rambut yaa. Okeey~" katanya mengedipkan mata dan memancarkan sinar di wajahnya sekali lagi. Rambutnya juga berkibar-kibar, bibirnya merah muda mengkilat plumpy, dan bentuk matanya begitu sempurna.
Aku terpesona. Cantiknyaa...
Pelajaran dimulai, lampu kelas dimatikan. Aku melongo kebingungan. Sebuah layar papan tulis menyala, itu bukan infocus melainkan papan tulis digital yang menggunakan teknologi ultra fine touch.
Di tengah pembelajaran, seorang siswi di depanku menoleh ke belakang, ke aku maksudnya.
"Sstt, hei." panggilnya.
"Aku teman Lily, namaku Medra dan si pendiam ini namanya Shisy. Jadi salken ya," bisiknya.
Aku mengangguk-angguk mengerti.
"Oi," colek anak lelaki di belakangku. Aku menoleh lagi.
"Gue Glenn si paling tampan," katanya percaya diri.
Cihhh, nyinyir cewek-cewek di sekelilingku.
"Gue, oi!" colek teman sebelahnya.
"Gue Matthew, yang juga si paling tampan dan kaya."
Lagi-lagi dua orang laki-laki di belakangku percaya bahwa mereka sangat tampan. Tapi menurutku, aku yang si paling TAMPAN.
NEXT!
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasi• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
