The XXVII : Melawan Bunga Maut

35 6 2
                                        


GO!

Suara jeritan, bisikan panik, dan langkah kaki yang tak menentu memenuhi kelas 7 Excellent 1. Bau lendir terbakar dari tubuh Cadby perlahan memenuhi udara. Satu kelas... panik total.

Cadby duduk lemas di lantai. Tubuhnya kotor, kuyup lendir coklat yang sudah mengering sebagian. Nafasnya tersengal, matanya kosong. Dia hampir mati.

Ken berdiri tak jauh dari situ. Kapten basket yang biasanya gagah itu... kini diam. Pandangannya kosong. Wajahnya pucat. Kepalanya sedikit menunduk, satu telinganya terlihat mengering bekas darah. Dia hampir roboh.

Ella berdiri di antara mereka berdua. Wajahnya bingung, cemas, tapi mencoba tetap kuat. Matanya berkaca-kaca melihat keadaan Cadby.

"Ken... Cadby... kita nggak bisa diem gini aja," bisik Ella, suaranya bergetar.

Kezia yang sedari tadi mondar-mandir di belakang, akhirnya nyeletuk. "YA TERUS KITA HARUS APA, ELLA?! MAU NGAPAIN COBA?! NUNGGU MONSTERNYA MASUK SINI?!"

Ella menggigit bibirnya. Dia benar-benar nggak suka cara Kezia bicara... tapi dia juga nggak punya jawaban.

Sisi di pojok ruangan tiba-tiba nyeletuk sambil melongo, "Emang... monster itu makhluk nyata ya? Kok bisa ada di sekolah? Ini beneran kan? Ini bukan prank, ya?"

Semua orang langsung melirik Sisi. Suasana makin kacau.

Lily, yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, akhirnya menjerit. "SINYALNYA NGEGAGU! LIVE AKU GAGAL! GIMANA INI?! FOLLOWERS AKU NGGAK ADA YANG TAHU KITA DI SINI!!"

Dia menghentakkan kakinya, marah. Ponsel dilempar ke lantai, lalu diambil lagi sambil cemberut.

Medra, si tomboy yang biasanya keras, malah duduk di bawah meja dengan kepala tertunduk. Napasnya cepat. Bahunya naik-turun. Dia... takut.

Di tengah kekacauan itu, Bob si badan besar malah menangis terisak. Suara sesenggukannya terdengar jelas. Erlando, yang biasanya sok berani, mulai banyak bicara tanpa arah.

"Kita harus keluar! Kita bisa lewat jendela! Jendela kan bisa dibuka kan? Kan bisa? Atau kita gali lantai! Mungkin bisa nembus! Pokoknya jangan di sini! Di sini bahaya!"

"ELLO LO MAU GALI LANTAI PAKE APA, ERLANDO?! OTAK LO DIMANA, BEGO?!" Ratania, satu-satunya OSIS perempuan, akhirnya angkat suara. Suaranya keras. Tegas. "Berisik semua! Kalian nggak mikir?!" Matanya tajam memandang satu kelas. "Kita nggak akan selamat kalau panik terus!"

Semua langsung diam. Bob berhenti menangis. Lily melirik Ratania dengan sinis. Sisi... tetap melongo, clueless.

Di tengah situasi itu, sekitar dua puluh siswa lainnya di kelas hanya menjadi latar ketakutan. Ada yang meringkuk di pojok, ada yang bersembunyi di bawah meja, dan beberapa hanya terdiam memandangi Ella, OSIS, dan anak-anak utama lainnya. Suara tangis pelan dan bisikan panik memenuhi udara, tapi mereka membiarkan peran utama mengambil alih.

Ella menarik napas panjang. Lalu menatap semua orang.

"Ka Tania... bener," katanya pelan tapi jelas. "Panik nggak akan bantu. Tapi diem juga nggak bakal nyelamatin kita."

Semua mata kini ke Ella.

Ken yang dari tadi diam, akhirnya angkat kepala. Suaranya serak, gemetar. "Kita... kita dikurung di sekolah ini. Di luar kelas ada... monster. Gue lihat sendiri."

Kelas kembali riuh pelan.

"Wen..." bisik Ken lirih. Tangannya mengepal. "Wen nggak balik."

Semua terdiam. Wajah-wajah murid kelas Excellent 1 membeku. Napas mereka tercekat.

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang