GO!
Ken berdengus keras setelah puas menghabiskan semua emosinya ke Egan. Napasnya memburu, naik turun kasar, otot rahangnya menegang seperti ia masih menahan sisa-sisa amarah yang tak ikut keluar bersama pukulan tadi. Ia membalikkan badan tanpa sedikit pun melirik lagi ke arah Egan yang kini tersandar lemah pada dinding gedung utama Libii. Tubuh Egan yang biasanya tegap, kini seperti kain basah yang dijatuhkan sembarangan.
Langkah Ken baru beberapa meter menjauh ketika suara langkah terburu-buru mendekat.
"Kak Ken!"
Seseorang berlari dari arah depan gedung, mengangkat tangan sambil terengah. Laki-laki itu kurus, tinggi, dengan hidung mancung yang terlalu percaya diri-Erlando. Anggota OSIS yang suka bertingkah seenaknya, tapi anehnya, kadang bisa diandalkan.
"Apa yang lo lakuin... kak?" Erlando terengah berdiri di samping Ken, matanya melebar saat melihat Egan terkapar. "Pantes lo susah banget dihubungi."
Ketakutan? Mungkin.
Terlambat? Jelas.
Tapi ekspresi Erlando bukan hanya shock. Ada kepuasan kecil di sana-melihat salah satu anggota reguler terkuat hancur.
Ken mendengus. "Bukan urusan lo." Ia mendorong dada Erlando agar mundur. "Ngapain lo ke sini?"
Erlando mengusap dadanya yang terdorong. "Gue... kan... udah coba hubungin lo. Lo nggak angkat telepon gue."
Ken mengangkat alis, matanya tajam seperti pisau. "Terus?"
Erlando menelan ludah. "Jo."
Ken langsung mengangkat kedua telapak tangannya ke udara seperti baru melempar beban seberat lemari besi.
"Tuhan apa si Jo itu ngga pengen biarin hidup gue tenang barang sehari aja?" omelnya, jelas kesal.
Erlando mendekat satu langkah, lebih serius. "Ayo ke UKS, Kak. Ada yang perlu disembuhin sama mantra. Darurat."
Untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresi Ken berhenti total. Ia menoleh ke Egan, kemudian tatapannya turun sedikit... lalu kembali ke Erlando.
Tak ada kata.
Ia hanya menepuk keras dada Erlando dua kali lalu melewatinya.
"ARRGH!" Erlando meringis sambil memegangi dadanya. "Sakit amat sih! Baru dua pukulan lo begini sakitnya?! Cih." Ia melirik ke Egan sambil membuang ludah. "Pantesan lo kalah."
Ken sudah berjalan jauh ketika ia tiba-tiba berhenti, menoleh ke belakang, dan berteriak dengan suara menggelegar:
"WOII! Jangan sentuh dia, atau lo mati di tangan gue!"
Erlando langsung menarik tangannya yang hampir menyentuh pipi Egan. "Okeeee, oke. Santai..." gumamnya sambil memutar bola mata.
Ia akhirnya menyusul Ken, meninggalkan Egan sendirian di sisi gedung-yang tampak runtuh.
---
Masuk ke Gedung Utama
Pintu utama Libii Academy megah. Mewah. Modern. Pintunya otomatis, berwarna perak dengan gagang futuristik yang memancarkan kemewahan sekolah internasional.
Tapi begitu pintu itu terbuka...
ada satu pintu lagi di baliknya.
Sebuah pintu kayu raksasa, kuno, berat, dengan ukiran rumit yang tampak seperti cerita lama yang disembunyikan. Di bagian atasnya tertulis besar:
"REGULER ROOM"
Bau kayu tua bercampur debu menyeruak dari celah-celah pintunya.
Dan di sana, OSIS baru saja memasang rantai baru-lebih tebal dari sebelumnya, membelit seperti ular besi yang mencekik seluruh koridor.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasía• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
