The XVIII: Saat Dunia Tidak Lagi Masuk Akal

39 6 3
                                        


GO!


Haha, ini gak mungkin. Masa iya, aku tidak sadar kalau di kelasku ada Cadby? Eh, tapi masuk akal juga, ya. Kan waktu itu Cadby datang lebih awal dariku? Sedangkan aku masuk setelahnya. Aaarghh, Ella sebodoh itu kamu, bisa-bisanya kamu nggak sadar keberadaan Cadby yang sebenarnya dekat banget sama kamu!

---

"Ella, Ella! Bangun!"

Dey membangunkanku. Dia baik-baik saja. Aku menengok ke arah Cadby yang masih tertidur pulas.

"Aku tidur ya?" tanyaku. Dey mengangguk. Aduh, malu banget jadinya.

Sebentar, aku harus keluar dulu ya, Cadby. Izinku dalam hati sambil membenarkan tangan kirinya agar lebih nyaman di atas perut.

"Ayoo... Ella," kata Dey setengah menarikku. Dia mengarah ke ruangan tengah lantai dua, tak jauh dari UKS. Aku bingung, kenapa ini? Ramai banget.

Aku pun mendekat, menyelinap di antara kerumunan anak-anak, dan-HUUEEKk! Hukhukhuk. Mataku membelalak. Terkejut sampai mual luar biasa.

"WOII!" Aku ditarik oleh si hoodie putih-Alex.

"GILA LO YA! NGAPAIN LIAT, HAH! MUALKAN LO?!" bentaknya.

"Alex... apa-apaan sih, bisa nggak lo nggak usah bentak-bentak cewek?!" bela Dey. Aku masih melamun tak percaya melihat mayat anak reguler.

~~"HEH, MANUSIA PERSETANAN! TEMAN-TEMAN KAMI BANYAK YANG KOMA DAN MENINGGAL BEGITU AJA SAMA KALIAN!! SEKARANG KALIAN YANG HARUS MERASAKAN SEMUANYA!!"~~

Suara-suara itu, lontaran anak-anak reguler tadi, terus terngiang di kepalaku. Tapi aku tidak yakin pelakunya ada di antara kami.

"Toriq Ebani, lahir di Iran, 5 Juli 2012. Kelas 7 Reguler 1. Ayahnya dari Afghanistan, ibunya orang Aceh. Beasiswa urutan ke-289 di Libii Academy," ujar Kak Jo yang tiba-tiba berdiri di sampingku, membaca data mayat.

"Pernah terlibat kasus bullying di SD. Sering dipukuli ayahnya karena ketahuan pacaran sesama jenis. Meninggal dalam kondisi yang... tidak masuk akal."

Aku merinding. Kak Jo menarikku mendekat ke arah mayat Toriq. Anak-anak di depan kami langsung memberi jalan.

"Lihat." Kak Jo menunjuk tubuh Toriq. Aku menutup mata erat-erat. Bau tanah dan lumpur menyengat.

"Ella..."

Perlahan kubuka mata. Tapi-HUEEKKK! Aku muntah. Kak Jo cepat menyodorkan ember.

"Tadinya buat lumpur," gumamnya.

"Kak Jo, punya masker mulut?" tanyaku, malu.

"Adanya ini." Dia menyerahkan saputangan. Aku menutup mulut pakai itu, mencoba bersiap.

"Dah, Kak Jo," sok semangatku.

"Oke, sentuh bahunya."

APAA?! Wajahku panik. Tapi sebelum aku menyentuh, Alex sudah nyelip dan-TUK-menyentuh bahu Toriq.

Semua menjerit.

Bahunya meleleh jadi lumpur.

INI GILA!

"Tidak masuk akal, kan?" kata Kak Jo, menatapku. Aku hanya mengangguk kaku.

"Dia meninggal dengan tubuh terisi penuh lumpur. Saat disentuh, tubuhnya berubah menjadi lumpur sepenuhnya."

Tiba-tiba Lily datang berlari.

"Iii kak Jo... jangan-jangan si gembel ini makan dan minum lumpur kali yaaa, iii ekstremm bangettt~"

Aku benci suara ini. Si cewek centil. Nempel ke bahu Kak Jo.

Kak Jo langsung berdiri. Jelas kelihatan kesal.

"Sstt! Berisik!" sentaknya.

"Aku yakin, ini bukan lumpur biasa. Bukan juga karena dia makan lumpur... tapi karena lumpur itu menelan dia."

Semua terdiam. Hanya suara "hah?" dan napas panik terdengar.

"Jadi... dia seperti dikutuk," ucap Kak Jo, lalu menginjak tubuh Toriq yang langsung mencair menjadi lumpur, menyisakan pakaian.

Aku hampir pingsan. Bau lumpur di ruang ber-AC ini menusuk sekali.

"Ibu guru, biar kami dari OSIS yang tangani. Anak-anak masuk kelas saja," ucap Kak Jo.

Kami tak tahu harus berbuat apa. Guru-guru pun tampak bingung. Tapi satu hal jelas: kata Kak Jo, ini berhubungan dengan sihir.

---

Semua kembali ke kelas, kecuali aku. Karena aku harus menemani Cadby yang masih tidur di UKS.

"Cadby, kamu tahu gak apa yang barusan aku lihat?" Aku duduk di kursi samping ranjang.

"Apa? Kamu gak tahu, kan?" ocehku sendiri.

"Sini, Byy, aku kasih tahu yaa..." Aku menceritakan semuanya, sambil perlahan merasa lebih tenang.

"Muaachh~" Aku mencium dahinya. Entah kenapa, kamu tuh kayak meong-ku (ehem, padahal nggak punya kucing). Imut tapi ganteng.

Kejadian tadi benar-benar aneh. Tapi Kak Jo justru terlihat tenang. Kenapa dia tahu banyak, ya? Dan ngomong-ngomong soal kutukan, aku jadi keingat sejarah rumahku yang pernah diceritain Cadby.

"Haa, Cadby... cepatlah bangun. Aku mau diskusi banyak sama kamu..." keluhku sambil main-mainin jari tangan kirinya.

Hoaahh... Baru beberapa menit, mataku sudah terasa berat lagi. Syok dan lelah. Pelan-pelan aku tertidur.

NEXT!

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang