The LXIX : Tentang Mereka

20 3 1
                                        


GO!


Sudut Pandang Cadby

Pagi hari aku bangun bukan karena alarm, tapi bunyi barang jatuh di lantai bawah.

Aku turun dari loteng. Menghampiri kamar nenek, sambil melihat sekeliling — memastikan barang apa yang terjatuh. Bunyinya tadi berat dan nyaring. Perkiraanku langsung jatuh ke satu benda.

Vas bunga. Di kamar nenek.

Krriett. Pintu kamar nenek berderit pelan.

Nenek masih terbaring lemah di kasur. Tidak ada perubahan posisi, tidak ada pergerakan berarti. Selang infus, oksigen, kulit keriputnya yang tipis — semua terlihat normal seperti biasanya.

Aku menoleh ke sudut kamar.

Benar. Vas bunga terjatuh. Beling berserakan, tanah keluar berhamburan di lantai.

Aku keluar kamar nenek, berniat mengambil sapu dan pengki dari balik tangga. Langkahku cepat — mengingat vas bunga itu masih berceceran di lantai kamar nenek. Aku sudah sampai ke bawah tangga, gagang sapu di tangan, tangan satunya siap meraih pengki, ketika—

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pintu depan.

Aku terdiam sebentar. "Siapa pagi-pagi buta begini yang datang bertamu?" Aku melepas gagang sapu yang sudah setengah kuraih, lalu berjalan menghampiri pintu.

Tok tok tok. Ketukannya semakin cepat.

Brak. Aku membuka pintu kasar.

"Nggak sopan, pagi-pagi udah ketuk-ketuk—"

Kalimatku menggantung.

Di depanku — halaman rumah. Tanaman sayur mayur, buah-buahan. Tidak ada siapa-siapa.

Aku menelan ludah.

Brak. Pintu kututup. Detak jantungku tiba-tiba berbunyi lebih kencang dari biasanya.

Sial. Kayaknya aku pernah ngalamin hal yang sama. Aku coba mengingat.

Tok. Tok. Tok. Ketukan itu muncul lagi.

Kakiku mundur setengah langkah, tapi kepalaku malah menarikku ke belakang — ke waktu itu.

Sop nenek.

Hari itu, sop yang harusnya tumpah — yang sudah jelas tumpah — tiba-tiba ada di atas meja makan, rapi seperti tidak pernah terjatuh. Aku mengira itu hanya perasaanku. Mengira aku yang salah ingat.

Ternyata, bukan.

Tok Tok Tok. Dan ketukan pintu hari itu pun sama — berulang, sampai akhirnya malah Ella yang datang.

Beberapa menit aku terdiam. Sudah lebih dari tiga kali ketukan, dan ketukan di depan sudah berhenti.

Aku berlari masuk ke kamar nenek.

Vas bunga — yang barusan berserakan — berdiri tegak sempurna di tempat asalnya. Tidak ada tanah yang berserak. Tidak ada pecahan beling. Bunga di dalamnya tertanam rapi, seolah tidak pernah jatuh sama sekali.

Aku berdiri diam di tengah kamar nenek.

Siapa yang melakukan ini?

Hok uhuk hok. Suara nenek berbatuk.

"Ndokk..."

Aku berlari menghampiri, membantu nenek bangun pelan-pelan. Badannya ringan, terlalu ringan.

"Kamu ndak sekolah, ndok?"

Aku tersenyum. "Sekolah kok, Nek. Tapi Cadby nunggu nenek bangun dulu. Biar nenek sudah mandi, makan — baru Cadby berani tinggal."

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang