CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [hryntibooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰First Night In Fiumicino (3)
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Ainsley menatap bayangannya di cermin besar, hampir tidak mengenali wanita yang kini berdiri di hadapannya. Gaun merah panjang dengan potongan bahu terbuka membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan keanggunan yang tampak mustahil baginya beberapa jam lalu.
Rambut hitamnya ditata rapi, melengkung lembut di ujungnya. Lipstik merah menyala melukis bibirnya, selaras dengan warna gaunnya, memberi kesan bahwa ia adalah lambang kecantikan yang tak tersentuh.
Namun di balik semua itu, ada tatapan kosong yang sulit ia sembunyikan.“Dengarkan baik-baik,” suara tegas Dona memecah keheningan. Wanita berseragam rapi itu berdiri di belakangnya, menatap Ainsley melalui pantulan cermin. “Layani siapa pun yang datang. Jangan pernah menolak permintaan pelanggan, dan jangan pernah menunjukkan ekspresi apa pun selain senyum ramah. Dari sanalah uangmu berasal.”
Ainsley mengangguk pelan, menelan ludah dengan susah payah. “Aku mengerti,” gumamnya, hampir tak terdengar.
Dona meliriknya sekilas, matanya mengamati Ainsley seperti seorang pelatih memeriksa kesiapan muridnya sebelum bertarung. Lalu, nada suaranya berubah dingin.
“Aku tidak tahu alasanmu datang ke sini, dan aku tidak peduli. Tapi dengarkan ini baik-baik, karena aku hanya akan mengatakannya sekali.”
Ainsley menoleh sedikit, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Dona.
“Tidak ada jalan kembali,” kata Dona, tajam seperti pisau. “Sekali kau masuk ke dunia ini, selamanya kau akan terikat padanya. Pilihanmu hari ini akan menghantui setiap langkahmu nanti.”
Kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam hati Ainsley. Ia tidak menjawab, hanya menatap Dona dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Wanita itu tidak menunggu balasan, ia melangkah keluar dari ruangan dengan langkah pasti, meninggalkan Ainsley sendirian.
Dalam kesunyian itu, Ainsley kembali menatap cermin. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Apa yang Dona katakan benar—tidak ada jalan kembali. Sekali ia melangkah, ia akan kehilangan segalanya. Harga dirinya, kebebasannya, bahkan mungkin sisa harapan yang ia miliki.
Namun ia tahu, ini bukan tentang dirinya lagi. Ini tentang ibunya. Tentang hidup yang bergantung pada keputusan yang telah ia buat.
Dengan napas panjang yang bergetar, Ainsley memaksakan sebuah senyuman kecil pada bayangannya di cermin. Itu bukan senyuman bahagia, melainkan senyuman pasrah.
“Aku sudah memilih,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Dan aku harus menanggung segalanya.”
Sekali lagi, helaan napas panjang terdengar, Ainsley keluar dari ruangan dengan langkah ragu. Ketukan sepatu hak tingginya terdengar pelan di sepanjang koridor, semakin mendekat ke ruangan luas yang kini penuh dengan gemerlap kehidupan malam.
Begitu pintu terbuka, Ainsley tertegun. Tempat yang sebelumnya sunyi kini berubah drastis. Cahaya lampu temaram berpadu dengan kilauan warna-warni, menciptakan suasana yang mendebarkan sekaligus menyesakkan. Asap rokok melayang-layang, menyelimuti ruangan dengan aroma tajam yang bercampur wangi alkohol.

KAMU SEDANG MEMBACA
FADED DESIRE
RomanceKetika cinta lama bertemu dengan dendam, segalanya berubah menjadi permainan yang memabukkan. Galen Barnaby, pengusaha kaya dan berkuasa, tak pernah menyangka akan menemukan Ainsley, mantan kekasihnya, di sebuah rumah pelacuran. Dulu, mereka saling...