Chapter 2

42.8K 1.6K 24
                                        

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [hryntibooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰

First Night In Fiumicino (2)

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

“Di mana aku bisa menemukan pria yang memberiku uang sebanyak itu?” Suara Ainsley memecah obrolan, membuat Nicole dan Anet tersentak kaget. Mereka menoleh serempak, menyadari bahwa Ainsley kini berdiri di antara mereka, entah sejak kapan.

Nicole dan Anet saling melirik dengan ekspresi bingung sekaligus tak percaya. Pertanyaan Ainsley terdengar polos, tetapi ketegasan dalam suaranya membuat mereka ragu untuk menganggapnya sekadar lelucon.

“Kenapa kau menanyakannya?” tanya Nicole, menatap Ainsley tajam.

Ainsley menggigit bibirnya, menunduk sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Aku juga ingin mendapatkan uang sebanyak itu... hanya dalam beberapa jam.”

Anet langsung terkekeh, gelak tawanya memenuhi ruangan. Nicole, di sisi lain hanya menatap Ainsley dengan pandangan tidak percaya.

“Ainsley, kau ini wanita baik-baik,” ucap Anet sambil memelankan tawanya. “Jangan sampai terjerumus ke hal-hal seperti itu. Dunia di luar sana tidak seindah yang kau bayangkan.”

Namun, Ainsley tidak mundur. Matanya yang biasanya lembut kini dipenuhi tekad yang nyaris putus asa.

“Aku membutuhkannya. Tolong... katakan padaku,” pintanya, nada suaranya lebih mendesak daripada sebelumnya.

Nicole menghela napas panjang, memandang Anet dengan ragu sebelum akhirnya meraih tasnya. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah kartu nama kecil dan menyerahkannya kepada Ainsley.

“Tempat itu buka jam 10 malam,” kata Nicole, nada suaranya berubah serius. “Usahakan datang sebelum itu. Temui Madam Noey dan katakan bahwa aku yang mengirimmu.”

Ainsley meraih kartu nama itu dengan tangan yang sedikit ragu. Di atasnya tertera nama sebuah hiburan malam yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.

Nicole menatap Ainsley dalam-dalam sebelum kemudian melanjutkan. “Tapi Ainsley... aku sungguh berharap kau berubah pikiran sebelum mengambil langkah ini. Dunia ini tidak akan memberimu uang tanpa meminta sesuatu yang lebih besar darimu.”

Ainsley tidak menjawab. Ia hanya menggenggam kartu itu erat-erat, menyadari bahwa langkah ini bisa mengubah segalanya—baik atau buruk. Tapi ia tidak punya pilihan. Demi ibunya, ia rela melangkah ke dunia yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Tempat itu masih sepi, Ainsley melirik jam yang melingkar ditangan kirinya sebelum kemudian ia melangkah masuk. Kata Nicole, tempat itu buka jam 10 malam, itu berarti masih ada waktu setengah jam.

“Ainsley?”

Suara itu melengking, penuh dengan ketegasan yang membuat Ainsley tersentak. Ia memutar tubuhnya, matanya yang hijau langsung menangkap sosok seorang wanita yang berdiri tidak jauh darinya.

Wanita itu memancarkan aura kuat dan intimidatif. Gaun hijau emerald yang berkilauan membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan lekuk anggun dan kesan mewah. Wajahnya penuh riasan tebal, bibir merah menyala memukau, sementara matanya dihiasi eyeliner tajam tampak mengintimidasi.

Rambut hitam bergelombangnya tergerai dengan indah, tetapi perhatian Ainsley langsung tertuju pada rokok yang terselip di antara jari-jari lentik wanita itu, asapnya mengepul tipis.

Dengan langkah percaya diri yang penuh gaya, wanita itu mendekat. Bunyi ketukan sepatu hak tingginya menggema di ruangan kosong yang sunyi. Setiap langkahnya seperti melukis otoritas yang tidak mungkin diabaikan.

Ainsley menelan ludah, jantungnya berdegup cepat. Ia mencengkeram tangannya erat, berusaha menenangkan diri ketika wanita itu berhenti tepat di hadapannya.

Meski tidak mengenakan sepatu hak tinggi, Ainsley hampir setara dengan tinggi wanita tersebut. Tetapi rasa rendah diri menyelimuti Ainsley—penampilannya yang sederhana kontras dengan kilauan glamor di depan matanya.

“Cih,” wanita itu berdecih. Memandang Ainsley dari atas ke bawah dengan tatapan penuh penghinaan. “Apa-apaan jalang itu malah mengirimku wanita norak sepertimu.”

Kata-kata itu menusuk seperti belati. Ainsley hanya bisa diam, rahangnya mengatup rapat meski rasa marah mulai berkecamuk di dadanya. Sebutan ‘norak’ itu seperti tamparan, tetapi ia tahu bahwa protes hanya akan memperburuk segalanya.

Wanita itu menghela napas dramatis, memperhatikan Ainsley dari kepala hingga kaki, memperlihatkan ekspresi kecewa yang berlebihan.

“Kacau sekali,” katanya dengan nada mencemooh. “Lihat dirimu. Celana jeans lusuh itu... jaket murah yang bahkan pantasnya ada di tempat sampah dan kau pikir, kau siap untuk masuk ke dunia ini?”

Ainsley tetap diam, meski dalam hatinya ia ingin membela diri. Ia tahu, hanya tekadnya yang membuatnya tetap berdiri di sana.

Penilaian wanita ini mungkin benar, tetapi ia tidak datang ke sini untuk dinilai. Ia datang untuk satu tujuan—mencari uang demi menyelamatkan ibunya, dan tidak ada penghinaan yang bisa membuatnya mundur.

Satu tangan wanita itu tiba-tiba bergerak, mencengkeram bahu Ainsley dengan kuat. Tanpa memberi ruang untuk perlawanan, ia memutar tubuh Ainsley secara kasar hingga mereka berhadap-hadapan lagi. Dalam sekejap, tangan wanita itu naik, mencengkeram pipi Ainsley dengan tekanan yang nyaris menyakitkan.

“Hmmm...” Wanita itu memeriksa wajah Ainsley dengan sorot mata tajam, seperti seorang pedagang yang menilai barang dagangannya.

“Setidaknya,  wajah ini bisa sedikit menyelamatkanmu,” ucapnya akhirnya, senyum kecil muncul di sudut bibir merahnya. Namun senyuman itu lebih mirip ejekan daripada pujian.

Ia melepas cengkeramannya dengan tiba-tiba, membuat Ainsley sedikit terhuyung mundur. Dengan langkah santai, wanita itu bergerak menjauh, namun suaranya yang nyaring kembali menggema di ruangan.

“Dona!” teriaknya, memanggil seseorang.
Tak lama kemudian, seorang wanita lain bergegas mendekat. Dona, dengan rambut digelung rapi dan pakaian serba hitam, langsung berdiri tegap di hadapan wanita itu, menunggu perintah.

“Rias dia. Dandani seindah mungkin,” perintahnya tegas tanpa sedikit pun keraguan.

“Baik, Madam,” jawab Dona patuh, melirik Ainsley sejenak sebelum mengangguk hormat.

Sebelum benar-benar pergi, wanita yang dipanggil ‘Madam’ itu menoleh singkat ke arah Ainsley. Tatapannya penuh kuasa, dan senyum liciknya membuat Ainsley merasa seperti mangsa yang baru saja terperangkap.

“Persiapkan dirimu, sayang,” katanya dengan nada manis yang dibalut ancaman halus. “Karena mulai malam ini, kau milikku.”

Kata-kata itu menghantam Ainsley seperti badai. Ia tahu, tidak ada jalan untuk mundur sekarang. Harga yang harus dibayar untuk memasuki dunia ini sudah di depan mata.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

FADED DESIRE
[Re-Upload]
25 Januari 2024
-
-

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang