Chapter 18

20.9K 762 16
                                    

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [hryntibooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰

Someone In The Past [4]

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Marvel menatap Ainsley dalam-dalam sebelum akhirnya tersenyum kecil-senyum yang samar.

"Kau tahu?" katanya, suaranya terdengar tenang namun mengandung sesuatu yang lebih dalam.

"Sama seperti bulan yang terus mengelilingi bumi, rasa benci juga punya orbitnya sendiri. Ia lahir dari sesuatu yang sangat dekat dengan harapan, keyakinan... bahkan cinta. Kau hanya bisa benar-benar membenci seseorang yang dulu kau pedulikan dengan sepenuh hati. Tanpa rasa sayang, kebencian tak akan punya tempat."


Ainsley terdiam. Kata-kata itu menghantam kesadarannya seperti ombak yang berulang kali menghantam karang.

Galen membencinya. Itu sudah jelas. Tapi... apakah kebencian itu lahir dari cinta yang belum mati? Apakah di balik tatapan penuh amarah itu, ada sisa-sisa perasaan yang tak bisa ia singkirkan?

Pikirannya berkecamuk, mengulang kembali semua momen yang ia lalui bersama Galen-tatapan tajamnya, genggaman eratnya, suaranya yang bergetar setiap kali menyebut namanya.

Mungkin... Marvel benar.

Namun, pertanyaannya kini bukan lagi apakah Galen masih memiliki perasaan padanya atau tidak.

Yang harus ia tanyakan adalah... haruskah ia tetap bertahan dalam hubungan yang dibangun di atas luka dan dendam?

Makan siang mereka berlanjut dalam keheningan yang ganjil. Ainsley sesekali mencuri pandang ke arah Marvel, yang masih menyesap kopinya dengan tenang.

Namun, dalam diamnya, Ainsley tahu satu hal-kata-kata pria itu akan terus menghantuinya, bahkan setelah mereka berpisah nanti.

Setelah makan siang dan menikmati waktu berjalan-jalan di tengah kota, Ainsley akhirnya pulang. Udara dingin Chicago menggigit kulitnya, menembus mantel tebal yang membungkus tubuhnya. Ia merapatkan syal di lehernya, berharap kehangatan itu cukup untuk menghalau dingin yang menjalar hingga ke tulang.

Begitu melewati ambang pintu, ia menghela napas. Rumah ini biasanya sepi, nyaris tanpa kehidupan selain dirinya sendiri. Maka ketika ia melirik jam di pergelangan tangannya, keyakinannya bertambah-Galen belum pulang. Ia bisa menikmati ketenangan sebelum menghadapi dinginnya pria itu, yang sering kali jauh lebih menusuk daripada angin di luar.

Namun, langkahnya terhenti begitu mencapai ruang tengah. Matanya membelalak.
Galen sudah ada di sana.

Ia duduk di sofa dengan sikap angkuh yang khas, mengenakan setelan formal yang sempurna tanpa cela. Kakinya bersilang santai, satu bertumpu pada yang lain, sementara jari-jarinya mengetuk pelan tepi MacBook di pangkuannya.

Cahaya lampu gantung menerpa wajahnya, menyoroti garis rahang tajam dan ekspresi datarnya yang sulit ditebak.

Tatapan gelapnya perlahan terangkat dari layar, langsung mengunci pada Ainsley.

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang