CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!
Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [astihrbooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰
Unraveling [1]
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Rasa sakit itu datang lagi.
Ainsley meremas sisi sofa dengan jemarinya yang dingin, matanya memejam rapat saat gelombang kram kembali mencengkeram perutnya.
Kali ini lebih tajam, lebih kejam, menelusup ke dalam tulangnya seakan meremas setiap inci tubuhnya tanpa belas kasih. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun mencoba melawan rasa nyeri yang semakin mendominasi.
Sejak pagi, ia sudah merasakannya—sebuah tanda samar yang awalnya ia abaikan. Tapi kini, rasa sakit itu tak lagi bisa diacuhkan. Seolah tubuhnya berteriak meminta pertolongan.
Matanya melirik jam dinding. Pukul lima sore.
Galen belum pulang.
Tidak mengejutkan. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan ketidakhadiran pria itu. Seharusnya ia tidak lagi menunggu, tidak lagi berharap. Tapi tetap saja, ada sejumput kekecewaan yang mengendap di hatinya, perasaan yang tak bisa ia usir meski sudah berkali-kali mencoba mengerti.
Pekerjaan selalu menjadi prioritas Galen.
Pekerjaan yang membawa kemewahan dalam hidup mereka, tapi di saat yang sama, perlahan mengambil Galen darinya.
Suara langkah kaki mendekat, disusul suara lembut seorang pelayan yang menatapnya dengan penuh khawatir.
“Nyonya, kami akan pulang sekarang. Makan malam sudah siap, tinggal dipanaskan saja.”
Ainsley memaksakan senyum. Senyum yang tak mencapai matanya.
“Terima kasih, kalian boleh pulang.”
Kedua pelayan itu saling bertukar pandang, ragu untuk meninggalkannya.
“Apa Nyonya yakin? Kami bisa tinggal sampai Tuan pulang.”
Ainsley menelan ludah, berusaha menyingkirkan ketakutan yang perlahan menjalari pikirannya. Dia baik-baik saja. Ini hanya kram biasa.
“Tidak perlu.” Suaranya terdengar lebih lemah dari yang ia harapkan. “Kalian pasti lelah. Pulanglah.”
Mereka tak bisa memaksa, meskipun sorot mata mereka masih penuh kekhawatiran. Dengan sedikit enggan, mereka akhirnya pergi, menutup pintu dengan hati-hati di belakang mereka.
Keheningan langsung menyergap.
Ainsley menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan tubuhnya yang gemetar. Namun, rasa sakit itu tak juga mereda.
Sebaliknya, semakin parah.
Tangannya bergetar saat ia mengusap perutnya, mencoba mencari sedikit kenyamanan. Namun yang ia rasakan hanyalah permukaan kulitnya yang semakin tegang, seperti ada sesuatu di dalam sana yang tidak seharusnya terjadi.
Peluh dingin mengalir di pelipisnya. Matanya sedikit berkunang-kunang.
Tidak... ini tidak baik.
Perlahan, ia mencoba berdiri. Namun, itu adalah langkah yang salah.
Begitu tubuhnya terangkat dari sofa, nyeri itu menghantamnya tanpa belas kasihan. Tajam. Brutal.
Sebuah suara lolos dari bibirnya—setengah rintihan, setengah isakan. Lututnya melemas, dan dalam hitungan detik, tubuhnya limbung.
Bruk!
Ainsley terjatuh ke lantai. Seketika, dunia terasa semakin gelap.
Kedipan pertama membawa kesadaran yang menyakitkan.
Langit-langit putih bersih menyambut pandangannya, aroma khas antiseptik menyusup ke hidungnya, dan suara monoton monitor detak jantung bergema di telinganya. Seketika, Ainsley tahu di mana dirinya sekarang.
Rumah sakit.
Pandangannya mengabur sejenak, mencoba mengingat apa yang terjadi. Ia menoleh ke sisi tubuhnya, menemukan selang infus tertancap di lengannya, sensor-sensor medis terpasang di kulitnya. Sejak kapan ia di sini?
Ingatan terakhirnya adalah langit yang mulai beranjak gelap, rasa sakit yang menggeliat tak tertahankan di perutnya, lalu… kegelapan.
Tapi sekarang? Matahari bersinar terik di luar jendela, cahayanya menerobos masuk, menyinari ruangan yang terasa terlalu sunyi.
Galen.
Nama itu melintas di benaknya seperti petir yang menyambar. Di mana dia?
Refleks, Ainsley menoleh ke sekitar. Tapi yang ia dapati hanyalah ruangan kosong tanpa satu sosok pun di sana. Tak ada Galen. Tak ada siapa pun.
Matanya kemudian menangkap sesuatu di sudut ruangan—tas kecil miliknya.
Seseorang pasti telah membawakannya ke sini. Tapi siapa?
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Ainsley mengerang pelan, berusaha mengangkat tubuhnya yang terasa berat. Lututnya lemas saat kakinya menjejak lantai, namun ia memaksa dirinya berdiri, langkahnya terseret menuju meja di sudut ruangan.
Tangannya meraih tas itu, menarik resletingnya dengan gerakan kaku sebelum menemukan benda yang dicarinya—ponsel.
“Aku harus menghubungi Galen,” bisiknya dalam hati.
Jari-jarinya gemetar saat ia mengaktifkan layar. Namun sebelum sempat mengetik nomor suaminya, matanya membulat melihat tumpukan notifikasi yang membanjiri layar.
Belasan pesan dari nomor tak dikenal.
Keningnya mengernyit, rasa penasaran menjalari benaknya. Siapa yang mengiriminya pesan sebanyak ini? Dengan ragu, ia mengetuk salah satu pesan dan membukanya.
Dan saat itu juga, dunia serasa berhenti berputar.
Dada Ainsley terasa sesak, tatapannya membeku.
Ini… tidak mungkin.
Pesan-pesan itu berisi foto. Foto Galen. Bersama Kimberly. Di sebuah kamar hotel. Dengan tubuh yang begitu erat bersatu.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
FADED DESIRE
[Re-Upload]
27 Februari 2025
-
-
KAMU SEDANG MEMBACA
FADED DESIRE
Romansa[SUDAH TERBIT - PART MASIH LENGKAP] [BARNABY SERIES I] Ketika cinta lama bertemu dengan dendam, segalanya berubah menjadi permainan yang memabukkan. Galen Barnaby, pengusaha kaya dan berkuasa, tak pernah menyangka akan menemukan Ainsley, mantan keka...
