Chapter 9

33.7K 1.2K 38
                                        

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [hryntibooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰

Fake Bond (2)

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Fuck...” desisnya pelan, hampir seperti bisikan. Matanya memerah saat ia membuka kembali kelopak matanya, menatap kosong ke depan.

Ini bukan kabar baik. Ia tahu betul, semakin besar bantuan yang Galen berikan, semakin dalam ia terjerat dalam kendali pria itu. Tidak ada yang gratis dari Galen Barnaby. Setiap uang yang keluar darinya hanyalah investasi untuk memastikan Ainsley tetap dalam genggamannya.

Ia memutar tubuhnya perlahan, matanya terarah ke lorong yang baru saja ia lewati. Dalam benaknya, bayangan Galen berdiri di sana, dengan senyum sinis yang selalu menjadi simbol kemenangannya.

Ainsley menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Ia tahu, melarikan diri dari Galen bukan hanya sulit—itu mustahil, dan itulah yang membuat segalanya jauh lebih mengerikan.

Setelah mendengar kabar itu, Ainsley melangkah lunglai, seolah gravitasi di sekitarnya menjadi dua kali lebih berat. Dengan hati yang masih kalut, ia menuju kamar tempat ibunya dirawat. Sesampainya di depan pintu, ia menarik napas dalam-dalam sebelum perlahan menggesernya terbuka.

Namun, pemandangan di dalam kamar membuat langkahnya terhenti. Galen sedang duduk di tepi ranjang ibunya. Pria itu tampak santai namun penuh wibawa, tangan kekarnya melingkupi lengan kurus Helena dengan penuh perhatian.

Keduanya terlihat berbincang akrab, seperti dua orang yang sudah lama mengenal satu sama lain—dan memang mereka pernah begitu dekat dulu.

Ainsley menatap mereka dengan campuran emosi yang sulit diartikan. Hatinya yang penuh kemarahan bercampur dengan perasaan terenyuh melihat ibunya tersenyum lemah, tampak sedikit lebih cerah dibandingkan sebelumnya.

Galen menoleh lebih dulu, menyadari kehadirannya. Ia tersenyum kecil, senyum yang bagai belati tersembunyi. “Itu dia putrimu,” katanya dengan nada hangat yang justru terdengar menusuk di telinga Ainsley.

Helena perlahan menoleh ke arah Ainsley, senyum lemah tersungging di bibirnya. “Kemari, nak.”

Ainsley melangkah masuk, masih dengan perasaan berat yang belum juga reda. “Sejak kapan ibu bangun?” tanyanya pelan, berusaha menyembunyikan kegundahannya.

“Sejak kau keluar dari ruangan,” jawab Galen, berdiri dari kursinya dengan gerakan yang elegan.

Ainsley menelan ludah, berusaha mengabaikan kehadiran pria itu. Ia kemudian duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Galen, tangannya bergerak menyentuh lengan ibunya.

Jari-jarinya yang gemetar mengelus kulit putih yang kini terasa kering dan tipis, tak lagi sehalus dulu. Ada rasa pilu yang menghantam dada Ainsley melihat kondisi ibunya yang begitu rapuh.

“Kau tak pernah bilang kalau kau kembali bersama Galen, nak,” ucap Helena tiba-tiba, membuat Ainsley mengerutkan dahi.

“Apa maksud Ibu?” tanya Ainsley, mencoba mengerti.

Helena tersenyum kecil, meski matanya mulai berkaca-kaca. “Kenapa tak bilang pada Ibu kalau kalian akan menikah? Ibu sangat senang mendengarnya. Akhirnya, ada yang akan menjaga putri Ibu.”

Kata-kata itu membuat dunia Ainsley seakan berhenti berputar. “Hah?” Ia tercekat, suaranya terdengar lebih seperti bisikan.

Galen yang berdiri di belakangnya hanya menatap dengan ekspresi yang sulit ditebak. Bibirnya melengkung membentuk senyuman samar, sementara matanya memancarkan sesuatu yang tak bisa Ainsley pahami.

Ainsley merasa seperti terjebak dalam jebakan yang semakin dalam. Sebelum ia bisa berkata apa-apa, suara ibunya kembali terdengar, penuh harap dan kebahagiaan yang polos. “Akhirnya, nak... Galen akan jadi bagian dari keluarga kita lagi.”

Ainsley menelan ludah. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada ibunya bahwa semua ini hanyalah permainan beracun?

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

“Apa yang kau katakan pada ibuku?!” Ainsley berteriak, suaranya menggema di taman belakang rumah sakit yang sepi. Dengan penuh amarah, ia mendorong bahu Galen sekuat tenaga, meskipun tubuh kekar pria itu nyaris tak bergeming. “Menikah denganmu? Cih, lebih baik aku mati!”

Galen hanya menyeringai, seringai yang membuat darah Ainsley mendidih. Matanya tajam seperti pedang, namun bibirnya melengkung penuh keangkuhan.

“Kau yakin dengan itu?” tanyanya, suaranya pelan namun penuh ancaman yang terselubung.

“Apa kau pikir aku mau menikah denganmu? Hah!” Ainsley menunjuk wajah Galen dengan jari telunjuknya, matanya berkilat marah. “Jangan bermimpi, Galen Barnaby. Aku tak akan pernah sudi untuk itu!”

Galen tertawa kecil, suara tawa yang terdengar ringan namun berbahaya. “Oke,” ujarnya dengan nada santai, seperti sedang membahas hal sepele. “Kau tidak mau menikah denganku, baiklah. Tapi, bagaimana dengan ini? Aku membelimu seharga satu juta dolar—kau tahu itu kan?”

Dia melangkah mendekat, tatapannya mengunci mata Ainsley yang mulai memerah. Senyum tipis muncul di wajah Galen, begitu manis namun penuh ejekan. Dengan gerakan santai, ia mengangkat tangan kanannya, menyodorkannya ke arah wajah Ainsley.

“Jadi, bisakah kau kembalikan semua uangku sekarang? Kalau kau tidak mampu, bagaimana kalau kau kembali ke tempat asalmu, rumah pelacuran itu?”

Ainsley membeku. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena amarah, tapi juga rasa takut yang perlahan merayap ke dalam dirinya. Ia ingin berteriak, ingin melawan, tapi kata-kata Galen yang terakhir membuatnya tercekik.

“Oh, dan satu hal lagi,” lanjut Galen, dengan nada ringan seolah sedang membicarakan cuaca.

“Semua perawatan ibumu—alat-alat, obat-obatan, dokter terbaik yang kutugaskan... Jika kau tidak bisa membayarku, aku akan memastikan semuanya dilepas. Saat ini juga.”
Mata Ainsley melebar, menatap pria itu dengan kebencian yang membara, tapi juga tak berdaya.

“Monster...” suaranya bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Kau benar-benar seorang monster bajingan!”

Galen tak bergeming, seringai di wajahnya tak pudar sedikit pun. Ia hanya menatap Ainsley dengan tenang, seolah menikmati bagaimana wanita itu terjebak di sudut tanpa jalan keluar.

“Dan kau adalah milikku, Ainsley. Jangan pernah lupa itu,” bisiknya, pelan namun tajam seperti belati yang menusuk langsung ke jantung Ainsley.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

FADED DESIRE
[Re-Upload]
29 Januari 2025
-
-

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang