CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!
Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [hryntibooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰
Someone In The Past [1]
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Marvel Jefferson.
Nama yang tak pernah absen dalam lingkaran politik Amerika. Putra seorang jaksa ternama, pewaris nama besar keluarga Jefferson-keluarga yang selalu menjadi bahan perbincangan di kalangan elit.
Sama seperti Galen, hanya saja mereka berdiri di ranah yang berbeda. Galen adalah raja bisnis, sementara Marvel adalah bintang yang bersinar di dunia politik.
Namun, bagi Ainsley, Marvel bukan sekadar nama besar. Ia adalah bagian dari masa lalu.
Jauh sebelum ia mengenal Galen, Marvel sudah lebih dulu ada di hidupnya.
Keduanya berasal dari latar belakang yang sama-politik adalah napas yang diwariskan dalam darah mereka. Sejak sekolah menengah, mereka terbiasa berjalan berdampingan, berbagi cita-cita, dan menghadapi tuntutan orang tua mereka yang ambisius.
Mungkin itulah sebabnya dulu Hans, ayah Ainsley, lebih memilih Marvel dibandingkan Galen.
Dentuman pelan sepatu pantofelnya menggema di atas lantai marmer, mengiringi langkahnya yang semakin mendekat. Ainsley tetap diam di tempatnya, terpaku pada sosok yang begitu familiar namun terasa jauh.
Marvel berhenti tiga langkah di depannya. Tatapan tajamnya mengamati Ainsley seolah mencoba menemukan jejak gadis yang dulu ia kenal di balik sosok wanita elegan yang berdiri di hadapannya.
"Lama sekali tak bertemu," ucapnya akhirnya, senyum khasnya muncul, setenang dan sekarismatik yang Ainsley ingat. "Sekalinya bertemu... kau sudah jadi istri orang."
Kata-katanya menggantung di udara, membawa serta kenangan yang tak pernah benar-benar hilang.
"Itu berita paling mengejutkan yang pernah aku dengar seumur hidupku," suara Marvel terdengar tenang, namun sorot matanya mengisyaratkan sesuatu yang lebih dari sekadar keterkejutan. "Tiba-tiba menghilang tanpa kabar, lalu muncul kembali sebagai istri mantan kekasihnya. Bisa jelaskan itu, Ainsley?"
Ainsley menegang. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Jelaskan? Bagaimana mungkin? Haruskah ia mengucapkan kebohongan yang telah berulang kali ia latih, atau justru membiarkan kebenaran yang pahit itu keluar?
Dia menunduk, menatap gelas wine di tangannya yang kini terasa begitu berat.
Marvel menatapnya, menunggu. Tapi ketika yang ia dapatkan hanyalah kebisuan, pria itu akhirnya tersenyum tipis dan menghela napas.
"Ah, maafkan aku," katanya, suaranya kini lebih lembut. "Aku tidak seharusnya menekanmu seperti ini. Aku tidak memiliki hak untuk bertanya. Yang penting, aku senang bisa melihatmu lagi, Ainsley."
Ia melangkah mundur, bersiap pergi.
Namun sebelum ia benar-benar menjauh, suara Ainsley terdengar-nyaris seperti bisikan, tapi cukup kuat untuk membuat Marvel menghentikan langkahnya.
"Aku tidak bahagia dengannya."
Marvel membeku.
Angin malam berembus pelan di antara mereka, membawa keheningan yang lebih dalam daripada ribuan kata yang ingin Ainsley ucapkan.
"Aku... aku tidak bahagia dengannya, Marvel." Suara Ainsley nyaris tenggelam dalam angin malam, namun cukup jelas untuk menusuk hati pria di hadapannya. "Ini bukan pernikahan yang aku inginkan. Dia... dia merebut segalanya dariku. Galen... menghancurkanku."
Marvel terdiam, tubuhnya menegang mendengar pengakuan itu. Sorot matanya menggelap, rahangnya mengatup erat.
Hatinya mencelos.
Tanpa pikir panjang, ia melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka. Dan sebelum Ainsley sempat berkata apa-apa, Marvel sudah merengkuhnya ke dalam pelukan erat-seolah ingin melindunginya dari dunia yang kejam.
Ainsley terisak, tubuhnya bergetar dalam dekapan pria itu. Jari-jarinya mencengkeram jas mahal yang Marvel kenakan, seakan berusaha mencari pegangan di tengah keterpurukan yang menyesakkan.
Tanpa sadar, gelas bertangkai di tangannya terlepas, jatuh ke lantai marmer dengan dentingan nyaring, tapi tak ada yang peduli.
"Reuni yang manis."
Ainsley tersentak. Refleks, ia menjauh dari Marvel, tubuhnya menegang saat melihat sosok Galen berdiri di ambang pintu balkon. Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara, namun tatapannya tajam, dingin, berbahaya.
"Pasti kalian memang saling merindukan," lanjutnya dengan nada penuh sindiran. "Ya, tentu saja. Benar begitu, Mrs. Barnaby?"
Ainsley membeku. Ada sesuatu dalam cara Galen menyebut namanya-bukan dengan kehangatan seorang suami, melainkan seperti pemilik yang baru saja menemukan mainannya di tangan orang lain.
Marvel melangkah maju, berdiri sejajar dengan Galen, sorot matanya tajam. "Apa yang kau lakukan padanya?" suaranya rendah, nyaris geram. "Apa yang kau lakukan sampai ia mau menikahi pria seperti dirimu?"
Galen terkekeh kecil, nyaris seperti menikmati situasi ini. "Memangnya aku seperti apa?" ia menatap Marvel dengan seringai meremehkan. "Seperti dirimu di masa lalu? Yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan perhatiannya? Yang bersekongkol dengan ayahnya untuk memisahkan aku darinya?"
Wajah Marvel menegang. Rahangnya mengatup kuat.
"Apa maksudmu?" tanyanya tajam.
Galen mendekat, sorot matanya gelap penuh amarah yang tertahan. "Kau pikir aku tidak tahu?" desisnya. "Kerja samamu dengan Hans Lysander untuk menghancurkan keluargaku? Untuk memisahkan aku dan Ainsley? Kau tak sadar betapa busuknya hatimu saat itu, Marvel? Rasa irimu padaku? Kau kira aku tak menyadari semua itu?"
Marvel terdiam, tapi genggamannya mengepal di sisi tubuhnya.
Galen tersenyum sinis. "Lihatlah sekarang." Matanya beralih pada Ainsley yang masih berdiri terpaku. "Wanita malang ini ditinggalkan oleh ayahnya... Dan di mana kau selama ini?" Ia menatap Marvel tajam. "Di mana kau saat aku menemukannya di tempat yang paling tidak pantas untuknya?"
Suasana terasa mencekik. Galen mendekat lebih jauh, menatap Marvel dari jarak yang hampir tak berjarak.
"Masih berpikir kau pahlawan, hm?"
Marvel mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, rahangnya mengatup erat, menahan amarah yang nyaris meledak. Matanya menyala penuh bara, tapi sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, suara gemetar Ainsley menghentikannya.
"Hentikan... Tolong hentikan."
Suasana yang sebelumnya tegang berubah menjadi sesuatu yang lebih mencekik. Kedua pria itu serempak menoleh ke arahnya.
Galen adalah yang pertama bergerak. Dengan langkah pasti, ia meraih pergelangan tangan Ainsley, jemarinya mencengkeram erat seolah menegaskan kepemilikannya.
"Nah, kalau begitu... ayo kita pulang, sayang." Nada suaranya terdengar manis, tapi genggamannya tidak.
Ainsley tidak menjawab. Tidak melawan. Ia hanya menelan ludah, jari-jarinya gemetar, tubuhnya terasa ringan seperti tak berpijak.
Saat Galen menariknya menjauh, ia menoleh-dan di sana, dalam sekejap yang terasa begitu panjang, matanya bertemu dengan tatapan Marvel. Ada sesuatu di sana. Kemarahan. Penyesalan. Janji yang tak terucap.
Namun sebelum ia bisa mencari maknanya, genggaman Galen mengerat, menyeretnya kembali ke dalam dunia yang tak bisa ia hindari.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
FADED DESIRE
[Re-Upload]
7 Februari 2025
-
-
KAMU SEDANG MEMBACA
FADED DESIRE
Romance[SUDAH TERBIT - PART MASIH LENGKAP] [BARNABY SERIES I] Ketika cinta lama bertemu dengan dendam, segalanya berubah menjadi permainan yang memabukkan. Galen Barnaby, pengusaha kaya dan berkuasa, tak pernah menyangka akan menemukan Ainsley, mantan keka...
