Chapter 19

20.1K 764 30
                                    

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [hryntibooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰

Someone In The Past [5]

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

"Bertemu dengan pria yang sejak dulu mengejarmu tanpa izin dari suamimu? Apakah itu etis, Nyonya Ainsley Barnaby?"

Setiap kata yang keluar dari bibir Galen seolah menjadi palu godam yang menghantam dinding pertahanan Ainsley. Suaranya tak meninggi, tapi tekanannya begitu kuat hingga menciptakan retakan dalam keberaniannya.

Mata Ainsley membelalak sesaat.

Marvel.

Bagaimana bisa Galen tahu?

Dada Ainsley terasa sesak, detak jantungnya seakan melesat dalam sekejap. Rasa bersalah yang semula tak ia akui kini menjalar, menyesakkan dada.

"Bagaimana kau tahu aku bertemu Marvel?" tanyanya, suaranya pelan, hampir seperti bisikan ketakutan.

Galen menanggapinya dengan tawa kecil-nada rendah yang tak membawa kebahagiaan, hanya penuh dengan ironi dan kemarahan terpendam.

"Bagaimana aku tahu?" ia mengulang kata-katanya perlahan, menelusurinya seakan mengecap kepahitan di lidahnya.

"Aku berada di restoran yang sama, Nyonya Barnaby. Dua kursi di sebelahmu. Seasik itukah kau bicara dengannya hingga tak menyadari keberadaan suamimu sendiri?"

Kata-katanya menghantam Ainsley seperti ombak besar yang menerjang tanpa ampun. Sesaat, seluruh pikirannya kosong. Semua penjelasan yang telah ia siapkan mendadak lenyap, tersapu habis oleh gelombang kenyataan yang baru saja menamparnya.

Saat duduk bersama Marvel, Ainsley memang tenggelam dalam percakapan mereka. Nostalgia membawanya kembali ke masa lalu, ke kenangan yang dulu ia pikir telah ia kubur.

Ia terlalu larut dalam tawa ringan dan obrolan hangat hingga sama sekali tidak menyadari kenyataan yang lebih dekat dari yang ia kira-suaminya sendiri duduk hanya beberapa kursi di belakang, mengawasinya.

Mengawasi setiap gerak-geriknya.

Ainsley membuka mulut, ingin berkata sesuatu, ingin menjelaskan, tapi tidak ada kata yang keluar. Tenggorokannya tercekat, pikirannya kosong. Bagaimana bisa ia menjawab ini? Bagaimana bisa ia membela diri ketika bahkan ia sendiri tak sadar telah melakukan kesalahan?

Tatapan Galen begitu menusuk, dingin seperti es yang membakar kulitnya perlahan-lahan. Amarahnya bukan sekadar kemarahan biasa-itu lebih dari itu. Kekecewaan, luka, pengkhianatan yang tak terucapkan.
Keheningan menggantung di antara mereka, nyaris mencekik.

Hanya napas berat Galen yang terdengar, menyelimuti ruangan dengan ketegangan yang begitu pekat. Ia menatap Ainsley seperti seorang predator yang siap menerkam mangsanya, sementara Ainsley merasa semakin terpojok, seolah dinding di belakangnya semakin mendekat, menjebaknya dalam situasi yang tak bisa ia hindari.

"Aku tidak menyangka... suamiku sendiri akan menjadi mata-mata dalam bayangan, mengawasiku seolah aku ini tahanan," suara Ainsley akhirnya pecah, bergetar, mencoba mempertahankan kendali yang mulai retak.

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang