EXTRA CHAPTER

50K 1K 55
                                        

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk selalu tekan vote dan ramaikan komentarnya ya🫶🏻

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Tentang pemilik rambut ikal yang selalu hadir dalam ingatanku bersama deru Ferrari merahnya, membelah jalanan dengan kecepatan yang sama seperti caranya dulu menembus dinding hatiku. Waktu telah berjalan jauh sejak terakhir kali aku melihatnya, namun bayangnya masih menetap di sudut pikiranku, seolah tak pernah benar-benar pergi.

Masihkah wangi tubuhnya yang dulu menyesakkan dadaku tetap sama? Masihkah tatapan teduhnya mencari-cari sosokku di tengah keramaian? Dan senyumnya, senyum yang dulu mampu meruntuhkan segala keteguhan dalam diriku, apakah masih sehangat dulu?

Aku ingin bertemu lagi. Bukan untuk meminta apa pun, bukan untuk mengubah masa lalu. Aku hanya ingin menatapnya sekali lagi dan bertanya, apakah dia bahagia? Apakah mimpi-mimpi yang dulu ia kejar kini telah tergenggam dalam tangannya?

Tapi dari semua pertanyaan yang berputar di benakku, ada satu yang paling membakar—aku merindukanmu.

Aku ingin mencintaimu lagi, meski hanya dalam diam. Jika waktu mengizinkan, aku ingin menunjukkan bahwa aku masih di sini, seperti dulu, seperti selalu. Mungkin, jika aku mencintaimu sekali lagi, kamu akan mengerti bahwa dalam setiap detik yang kulewati, aku tak pernah benar-benar melepaskanmu.

Melbourne, Australia

Tiga Tahun Kemudian

Ainsley telah menemukan kedamaian dalam hidupnya, atau setidaknya, ia meyakinkan dirinya bahwa ia sudah benar-benar bebas. Tak ada lagi rantai yang membelenggu, tak ada lagi kesakitan yang menyesakkan dada. Ia melangkah dengan ringan, menjalani hari-harinya dengan senyuman yang tak lagi dipaksakan.

Kini, ia adalah seorang guru musik di salah satu sekolah seni paling bergengsi di Melbourne. Mengajar musik menjadi caranya mengalihkan diri, tenggelam dalam melodi yang menghapus bayang-bayang luka di masa lalu. Nada-nada yang ia mainkan bukan lagi pelarian, melainkan caranya menata ulang kehidupan.

Namun, seberapa jauh pun ia melangkah, ada satu hal yang tak pernah benar-benar hilang—perasaannya terhadap Galen. Rasa itu masih ada, terpendam rapi di sudut hatinya yang terdalam. Bukan sebagai luka, bukan pula sebagai penyesalan, melainkan sebagai kenangan yang terus bernafas.

Ainsley tak pernah mencoba menghapusnya. Ia hanya belajar untuk hidup berdampingan dengan perasaan itu, tanpa membiarkannya menghancurkan dirinya lagi.

Dulu, air mata adalah teman setianya. Kini, senyumanlah yang menjadi kekuatannya. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukan tentang bersama atau tidaknya, tetapi tentang merelakan dan tetap melangkah dengan hati yang utuh.

Ainsley menatap undangan mewah di tangannya, ujung jarinya meraba ukiran emas di atas kertas tebal itu. Ia masih sulit percaya.

"Anda benar-benar mengirim saya untuk bermain piano di acara ini?" tanyanya, suaranya sedikit gemetar saat menatap Sarah, sang kepala sekolah, yang duduk di hadapannya dengan senyum penuh arti.

"Itu bukan sekadar acara biasa, Sarah. Itu adalah pesta besar bagi para musisi ternama, para konglomerat, orang-orang berpengaruh... Bagaimana mungkin aku bisa tampil di sana?"

Sarah tersenyum lembut, seolah telah menebak kecemasan Ainsley sejak awal. "Ainsley, bukan aku yang mengirimmu," katanya, menyandarkan punggung ke kursinya. "Undangan itu datang langsung untukmu."

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang