CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!
Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [astihrbooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰
Lost [2]
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Kesadaran Galen perlahan kembali, seperti cahaya redup yang perlahan menyala di kegelapan. Kepalanya terasa berat, berdengung, seolah pikirannya masih terperangkap dalam kabut tebal. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa tempat ini asing.
Langit-langit kamar hotel yang elegan. Aroma samar sabun menguar di udara, bercampur dengan kelembapan hangat yang berasal dari kamar mandi. Air masih mengalir di dalam sana, suara gemericiknya memecah keheningan yang terasa semakin menyesakkan.
Galen menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kesadaran yang tercecer. Saat dia bergerak sedikit, seprai sutra dingin menyentuh kulitnya-dan saat itulah dia tersentak.
Dia tidak mengenakan apa pun.
Dada Galen berdenyut keras, bukan hanya karena pusing yang masih tersisa, tetapi karena kenyataan yang tiba-tiba menghantamnya dengan kasar. Pandangannya menyapu kamar, mencari jawaban yang bisa menjelaskan situasi ini.
Sial. Apa yang sebenarnya terjadi semalam?
Sebelum pikirannya bisa merangkai ingatan yang tercerai-berai, suara pintu kamar mandi terbuka. Dan di sanalah dia, Kimberly berdiri dengan hanya mengenakan jubah mandi tipis, rambutnya yang masih basah meneteskan air ke bahunya.
Senyum tipis tersungging di wajahnya. Mata penuh arti itu menatap Galen, seolah menikmati setiap detik kebingungannya.
"Akhirnya kau bangun," ucapnya pelan, nada suaranya terdengar terlalu puas.
Ruangan itu terasa mencekam, seolah dipenuhi oleh bara api yang siap meledak kapan saja. Sorot mata Galen tajam, penuh bara amarah yang mengancam. Sementara Kimberly, meski tubuhnya gemetar, tetap tersenyum. Senyum penuh racun.
"Apa yang kau lakukan padaku?" Suara Galen berat, dingin, seperti gemuruh sebelum badai.
Kimberly menyandarkan tubuhnya ke tepi ranjang, tetap menatapnya dengan santai.
"Seharusnya aku yang bertanya, Galen. Kau bilang ingin meninggalkanku, mencampakkanku seperti aku tak pernah ada. Tapi lihat apa yang terjadi tadi malam. Kau menginginkanku. Kau menikmatiku."
Seketika, rahang Galen mengeras. Urat-urat di lehernya menegang, darahnya berdesir penuh amarah. Dia melangkah mendekat, napasnya berat, memburu.
"Kau jalang," desisnya.
Kimberly tertawa kecil, sinis. "Sama seperti istrimu," balasnya tajam.
Detik itu juga, kontrol diri Galen runtuh. Tangannya terangkat, mencengkeram bahu Kimberly sebelum mendorongnya keras hingga wanita itu jatuh tersungkur ke lantai.
Tubuh Kimberly membentur lantai marmer dingin dengan bunyi nyaring. Rasa nyeri menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Dia meringis, mendongak, mendapati Galen masih berdiri di atasnya, matanya penuh bara yang menyala-nyala.
"Aku sudah cukup bersabar," bisik Galen, suaranya serak, beracun. "Tapi kau melewati batas."
Kimberly tersenyum miring, meski matanya menyiratkan ketakutan. "Oh, jadi kau hanya ingin bermain dan membuangku saat kau bosan?"
Tangan Galen terangkat, seolah hendak melayangkan pukulan. Namun, pada detik terakhir, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan diri dengan sisa kontrol yang ia miliki.
"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi," ancamnya, suaranya bergetar oleh kemarahan yang nyaris tak terbendung. "Jika kau berani mendekatiku lagi, aku akan mencekikmu sampai mati."
Kimberly tetap terdiam di lantai, napasnya memburu. Untuk pertama kalinya, dia melihat sesuatu di mata Galen yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Kebencian.
Dan itu membuatnya tersenyum lebih lebar.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Mobil Galen berhenti dengan hentakan tajam di area parkir rumah sakit. Mesin bahkan belum sepenuhnya mati saat ia keluar dengan langkah tergesa. Napasnya berat, bajunya kusut, tapi ia tak peduli. Yang ada di pikirannya hanya satu-Ainsley.
Dengan langkah panjang, ia berlari melintasi lorong rumah sakit yang dipenuhi aroma antiseptik. Ketika lift berbunyi dan pintunya terbuka, Galen hampir melompat masuk, menekan tombol dengan gelisah. Begitu pintu terbuka di lantai tujuan, ia berlari lagi, jantungnya berpacu seiring kekhawatiran yang mencengkeram dada.
Namun, langkahnya mendadak terhenti.
Di depan kamar Ainsley, seorang pria duduk dengan sikap dingin dan tenang, August. Mata tajam pria itu terangkat, menatap Galen seolah ia bukan anaknya sendiri.
"Ayah," Galen mendekat dengan napas memburu. "Di mana Ainsley? Dia baik-baik saja?"
August tak segera menjawab. Ia hanya berdiri perlahan, tubuh tegapnya sejajar dengan putranya. Tatapan dinginnya menelisik Galen dari kepala hingga kaki, sebelum akhirnya ia menyodorkan selembar kertas ke dada putranya.
"Pergi dari sini," ucapnya tegas, nyaris berbisik namun penuh ancaman. "Jangan pernah menemui Ainsley lagi."
Galen membeku. Matanya menyipit bingung, jantungnya masih berdentum keras ketika ia meraih kertas itu. Namun, begitu ia melihat isinya, dunia seolah runtuh di sekelilingnya.
Tanda tangan Ainsley tertera jelas di atas selembar surat perceraian.
Galen berdiri membeku, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat kertas yang kini berada di genggamannya. Surat perceraian. Namanya tertulis jelas di sana, dan tepat di bawahnya, tanda tangan Ainsley sudah tercetak rapi.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
FADED DESIRE
[Re-Upload]
27 Februari 2025
-
-
KAMU SEDANG MEMBACA
FADED DESIRE
Romance[SUDAH TERBIT - PART MASIH LENGKAP] [BARNABY SERIES I] Ketika cinta lama bertemu dengan dendam, segalanya berubah menjadi permainan yang memabukkan. Galen Barnaby, pengusaha kaya dan berkuasa, tak pernah menyangka akan menemukan Ainsley, mantan keka...
