Chapter 40

25.7K 740 8
                                        

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [astihrbooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰

Lost [1]

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Kita terkulai, tak berdaya di hadapan badai hidup yang datang tanpa belas kasih. Ujian demi ujian menghantam tanpa jeda, mengikis perlahan sisa-sisa kekuatan yang kita genggam erat.

Aku dan kamu, berkali-kali terjatuh di persimpangan ragu, terjebak dalam pertanyaan yang tak pernah benar-benar kita jawab-"Akankah kita selamanya bersama?"

Kita selalu meyakini bahwa cinta kita kuat, bahwa dunia ini hanya milik kita berdua. Tapi kenyataan berkata lain.

Cinta yang katanya kokoh itu ternyata lebih rapuh dari yang kita bayangkan. Ia tak cukup kuat menahan beban luka, tak cukup tangguh melawan badai yang datang tanpa permisi.

Dan mungkin, sejak awal, kita tak pernah benar-benar mengerti bagaimana caranya menjadikan 'kita' sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar 'aku dan kamu.'

Beberapa Jam Sebelumnya
DENIO's Hotel

Galen dan Kimberly tiba di lobi hotel mewah itu, langkah mereka mantap menuju restoran eksklusif di dalamnya. Udara dipenuhi aroma kopi mahal dan percakapan pelan para pebisnis, berpadu dengan gesekan halus peralatan makan di atas piring porselen.

Mereka tiba lebih awal sebelum pertemuan dengan Gwen Bakshi, seorang pengusaha properti yang berpengaruh. Sambil menunggu, Kimberly menatap Galen, senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Kopi hitam tanpa gula, pak?" tanyanya lembut, penuh perhatian.

Galen hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Pelayan datang mencatat pesanan mereka, tapi sebelum pergi, matanya sempat bertukar pandang dengan Kimberly-sekilas, tapi cukup untuk menyalakan alarm kecil dalam benak Galen.

Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tak ia pahami sepenuhnya, namun memilih untuk mengabaikannya.

Tak lama, Gwen Bakshi tiba bersama dua asistennya. Dengan jas mahal yang terjahit sempurna, Gwen memancarkan aura kekuasaan yang sulit diabaikan.

Ia menyapa mereka dengan senyum khasnya sebelum duduk, lalu menatap Galen dengan sorot mata penuh selidik.

"Jarang sekali Anda memilih tempat seformal ini untuk bertemu, Galen."

Galen mengernyit sedikit. Komentar itu terdengar santai, tapi ada sesuatu di baliknya. Namun sebelum ia bisa merespons, Kimberly dengan cekatan menyela, nada suaranya ringan seakan ingin mencairkan suasana.

"Ada yang berbeda dari Anda hari ini, Pak Gwen?" tanyanya, mata berkilat penuh arti.

Gwen tertawa kecil, tangannya mengusap dagunya yang kini bersih dari janggut. "Istriku tak suka pria berjanggut, jadi pagi ini aku mencukurnya."

Kimberly tertawa kecil, mencondongkan tubuhnya sedikit. "Ah, pantas saja Anda tampak lebih muda. Benar kan, Pak Galen?"

Galen hanya tersenyum tipis, mengangguk tanpa banyak ekspresi. Pikirannya masih memikirkan kata-kata Gwen.

"Jarang sekali Anda memilih tempat seformal ini untuk bertemu."

Seolah ada sesuatu yang disinggungnya, sesuatu yang seharusnya Galen sadari. Tapi ia memilih menyingkirkan perasaan itu. Malam ini hanya tentang bisnis, dan ia tidak punya waktu untuk mengutak-atik firasat yang belum jelas bentuknya.

Saat negosiasi berjalan, Kimberly sesekali mencuri pandang ke arah Galen. Ada sesuatu di balik tatapannya-bukan sekadar perhatian profesional, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih licik. Seakan ia menunggu sesuatu terjadi.

Pertemuan itu selesai lebih cepat dari yang Galen perkirakan. Hanya satu jam, diskusi berlangsung lancar, tapi entah mengapa, ada sesuatu yang terasa aneh.

Sejak awal, kepalanya berat, pikirannya berkabut, seolah ada sesuatu yang menghalangi fokusnya. Gwen Bakshi sudah berpamitan lebih dulu, meninggalkan mereka di restoran yang kini mulai lengang.

Kimberly tersenyum tipis, melirik bosnya yang tampak lelah. "Tidak ada jadwal lagi setelah ini, Pak. Anda akan langsung pulang?" Suaranya terdengar lembut, sedikit terlalu perhatian untuk seorang asisten.

Galen melirik jam tangan mewahnya-pukul 6 sore. "Ya, aku akan langsung pulang." Jawabannya datar, tapi ada ketidakseimbangan dalam nada suaranya.

Kimberly dengan cekatan membereskan dokumen di atas meja, sesekali meliriknya.

"Anda baik-baik saja?" tanyanya lagi, meskipun jelas ia sudah tahu jawabannya.

Galen mengerjapkan mata. Pusing yang tadi terasa ringan kini berubah menjadi sesuatu yang lebih berat, lebih pekat. Rasanya seperti ada kabut yang menyelimuti kesadarannya. Tubuhnya terasa berat, setiap gerakan seolah membutuhkan tenaga ekstra.

Padahal, dia tidak menyentuh alkohol. Jadi, mengapa tubuhnya bereaksi seperti ini?

Pikirannya mulai kacau saat ia mencoba berdiri, tapi kakinya melemas. Lututnya hampir menyerah sebelum Kimberly dengan sigap menahannya, tangannya melingkar di lengan Galen.

"Anda benar-benar tidak sehat, Pak. Izinkan saya mengantar Anda ke kamar hotel, hanya untuk beristirahat sebentar," ucap Kimberly, suaranya begitu lembut, hampir menenangkan.

Galen ingin menolak, tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Ada sesuatu yang aneh. Pening di kepalanya berubah menjadi sensasi lain-panas, membakar dari dalam, mengalir ke seluruh tubuhnya.

Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena kelelahan, tapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang tak seharusnya ia rasakan.

Apa yang terjadi padaku? Pikirnya panik.

Namun, semakin ia mencoba melawan, semakin kabur pandangannya. Dunia di sekitarnya berputar, suaranya tertelan dalam ruang yang semakin samar.

Sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, kesadarannya terjatuh dalam kabut pekat.

Gelap.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

FADED DESIRE
[Re-Upload]
27 Februari 2025
-
-

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang