Chapter 10

35.9K 1.2K 22
                                        

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [hryntibooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰

Fake Bond (3)

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

“Dan kau adalah milikku, Ainsley. Jangan pernah lupa itu,” bisiknya, pelan namun tajam seperti belati yang menusuk langsung ke jantung Ainsley.

Ainsley berdiri membeku, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia tahu ia tak memiliki pilihan. Di hadapannya berdiri pria yang memiliki segalanya, kekuasaan, uang, pengaruh dan hal-hal yang tak pernah bisa ia lawan. Ia hanyalah bidak kecil di papan permainan Galen Barnaby.

“Baiklah,” gumam Ainsley, suaranya nyaris seperti bisikan. Ia mengusap air matanya dengan kasar, berusaha menegakkan tubuhnya meski hatinya terasa remuk. “Terserah padamu, bajingan. Kau menang.”

Kata-kata itu meluncur dengan getir, seperti belati yang ia arahkan ke dirinya sendiri. Dengan itu, ia menyatakan menyerah.

Bukan karena ia mau, tetapi karena ia tak punya jalan lain. Dan, tanpa perlu berkata lebih jauh, Ainsley telah memberikan jawabannya—iya untuk pernikahan yang tak pernah ada dalam bayangannya.

Ainsley melangkah pergi, punggungnya lurus meski setiap langkah terasa seperti menginjak bara. Galen tetap berdiri di tempatnya, tak mengalihkan pandangannya dari sosok wanita itu. Mata tajamnya memerhatikan setiap gerakan Ainsley, hingga wanita itu lenyap di balik pintu.

“Pak, Anda yakin dengan semua ini?” Suara Luke memecah keheningan. Sang asisten pribadi, yang sejak tadi berada di dekat mereka, kini melangkah mendekat dengan raut penuh keraguan. “Maaf, tapi ini bukan Anda yang biasanya. Terlebih... hanya untuk seorang gadis biasa seperti dia.”

Galen tak segera menjawab. Ia hanya berdiri di sana, matanya masih terpaku pada tempat terakhir Ainsley terlihat. Bibirnya melengkung tipis, senyuman yang sulit ditebak maknanya.

“Bukan soal biasa atau tidaknya dia, Luke,” jawab Galen akhirnya, suaranya rendah namun penuh keyakinan. “Dia milikku. Dan jika bukan aku yang menjaganya, lantas siapa lagi yang akan melakukannya di dunia ini?”

Nada suaranya tegas, tapi ada jejak sesuatu yang tak terucapkan di sana. Luka? Penyesalan? Luke tak bisa memastikan, dan ia tahu lebih baik untuk tidak bertanya lebih jauh. Sebab, Galen Barnaby bukan pria yang mengizinkan siapa pun memahami hatinya—bahkan dirinya sendiri.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Pernikahan itu akhirnya terjadi—ikatan yang nyata namun sarat kepalsuan. Kini, Ainsley resmi menyandang nama Mrs. Barnaby, sebuah gelar yang terasa seperti belenggu, bukan kehormatan.

Di dalam mobil mewah yang melaju dengan elegan, Ainsley duduk kaku di kursi belakang, masih mengenakan gaun putih pernikahannya.

Di sisinya, Galen, mantan kekasihnya yang kini menjadi suaminya, duduk dengan tenang. Wajahnya dingin, tatapannya mengarah keluar jendela seakan-akan ia sedang memikirkan hal lain, bukan wanita di sampingnya.

“Ikutlah denganku ke Chicago,” ujar Galen tiba-tiba, suaranya terdengar tenang namun penuh perintah.

Ainsley mengerutkan dahi, menoleh tajam ke arahnya. “Tidak. Aku tidak bisa. Bagaimana dengan ibuku? Tak mungkin aku meninggalkannya begitu saja.”

Galen akhirnya memalingkan wajahnya, menatap Ainsley dengan ekspresi datar yang membuat wanita itu merasa seolah-olah sedang ditelanjangi oleh tatapannya.

“Kau tak usah khawatir soal itu,” ucapnya dengan nada ringan, seolah-olah masalah itu sama sekali tidak berarti. “Aku akan menugaskan seseorang untuk merawat ibumu. Aku janji, dia akan mendapatkan segalanya yang dia butuhkan.”

Namun, Ainsley menggelengkan kepalanya, menolak mentah-mentah. “Tidak... tidak, aku tidak akan meninggalkannya.”

Saat itu, tatapan Galen berubah. Wajahnya yang dingin tiba-tiba mengeras, dan ia mencondongkan tubuhnya ke arah Ainsley, membuat wanita itu hampir mundur ke pintu mobil di belakangnya.

“Kau pikir kau punya alasan untuk menolak, Mrs. Barnaby?” tanyanya dengan suara rendah yang menekan, setiap kata diucapkan dengan ketegasan yang nyaris menakutkan.

Ainsley tercekat, tapi tetap menatapnya dengan mata membara. “Aku bukan budakmu, Galen.”

Galen menyeringai, tapi senyuman itu tidak membawa kehangatan sedikit pun. Sebaliknya, ada ancaman tersirat di sana, dingin seperti baja.
“Oh, kau salah besar, Ainsley,” gumamnya sambil menatap lurus ke dalam matanya.

“Kau adalah milikku. Bukan hanya tubuhmu, tapi juga setiap pilihan yang kau buat. Tugasmu hanya satu: diam dan mengangguk patuh. Aku tidak suka penolakan, terutama darimu.”

Suasana dalam mobil itu berubah, udara terasa lebih berat. Ainsley menahan napas, merasakan dinding-dinding yang mengelilinginya semakin mengecil, mencengkeramnya dalam jeratan pernikahan yang terasa seperti hukuman, bukan cinta.

Sementara itu, Galen kembali bersandar, seolah tak ada yang terjadi, matanya kembali memandang ke luar jendela dengan sikap seorang raja yang baru saja menetapkan hukum.

Ainsley terdiam, menelan ludahnya yang terasa seperti pecahan kaca. “Ibuku tak bisa hidup lebih lama lagi,” ucapnya dengan suara bergetar. “Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengannya sebelum semuanya terlambat.”

Galen menyipitkan mata, bibirnya melengkung dalam seringai tipis. “Kenapa kau terdengar seperti sudah tak sabar menunggu kematian ibumu?” tanyanya dengan nada santai namun menusuk.

Ia bersandar lebih santai, memperhatikan reaksi Ainsley seperti seorang penonton yang menikmati drama.

“Tenang saja, ibumu masih akan hidup beberapa tahun lagi. Dan aku pastikan, kau akan selalu punya kesempatan menemuinya… sebelum akhirnya dia dimakamkan.”

Kata-kata itu menghantam Ainsley seperti tamparan keras. Matanya mulai berkaca-kaca, menatap Galen dengan rasa sakit yang tak bisa ia sembunyikan.

“Teganya kau berkata seperti itu...” suaranya nyaris pecah, tetapi ia tetap mencoba mempertahankan keberaniannya.

Galen memiringkan kepalanya, pandangannya berubah tajam seperti belati yang diarahkan tepat ke hatinya. “Tega?” dia mengulang kata itu, nadanya penuh ironi.

“Teganya seperti apa, Ainsley? Sama seperti saat kau meninggalkan seseorang yang dunianya hancur karena kehilanganmu? Kau membuatnya terus hidup ketika segalanya telah mati untuknya. Jadi, katakan padaku…”

Ia mendekat, suaranya berubah lebih rendah, lebih dingin. “Siapa yang lebih tega sekarang?”

Ainsley tercekat, napasnya memburu. Ia ingin menjawab, membela dirinya, tapi kata-kata Galen terasa seperti cermin yang memantulkan semua rasa bersalah yang pernah ia lupakan.

Wajah pria itu tetap tak terbaca, tapi di balik tatapan dinginnya, Ainsley melihat sesuatu—kemarahan yang mendidih, mungkin juga luka yang belum sembuh.

Namun, sebelum ia bisa berkata apa-apa, Galen berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan yang anggun namun penuh kekuasaan.

“Jangan menangis, Mrs. Barnaby,” katanya datar, tanpa emosi. “Tangisanmu tidak akan mengubah apapun.”

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

FADED DESIRE
[Re-Upload]
29 Januari 2025
-
-

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang