Chapter 42

24.9K 787 28
                                        

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [astihrbooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰

Lost [3]

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Galen berdiri membeku, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat kertas yang kini berada di genggamannya. Surat perceraian. Namanya tertulis jelas di sana, dan tepat di bawahnya, tanda tangan Ainsley sudah tercetak rapi.

Matanya naik, menatap ayahnya dengan sorot penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan. “Apa maksudnya ini, Ayah?” suaranya bergetar, tak lagi setenang biasanya.

August, dengan tatapan yang begitu dingin, berdiri tegak di hadapannya. Sorot matanya penuh kekecewaan yang tak bisa disembunyikan. “Ini balasan atas semua yang kau lakukan.”

Galen menggeleng, masih mencoba mencerna semuanya. “Tidak, ini pasti salah. Aku ingin bicara dengan Ainsley. Aku harus bicara dengannya.”

Namun, saat dia mencoba melewati August, pria itu mengangkat satu tangan, menghentikannya. Ada ketegasan yang tak terbantahkan di wajahnya.

“Jangan buat semuanya lebih buruk, Galen.” Suaranya berat, penuh peringatan. “Kau sudah menghancurkannya. Kau sudah mengambil sesuatu yang tak bisa dia dapatkan kembali.”

Galen merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. “Apa maksud Ayah?”

August tersenyum miris, lalu mendekat, suaranya begitu rendah namun menghantam keras. “Anakmu, Galen. Kau kehilangan anakmu.”

Seolah-olah dunia runtuh dalam sekejap. Mata Galen membelalak, napasnya tersangkut di tenggorokan. “Tidak…” bisiknya, langkahnya goyah.

August menatapnya dengan tajam. “Kau memilih wanita lain, memilih menghabiskan malam dengan perempuan itu, sementara istrimu—” Dia berhenti sejenak, menahan emosinya. “Sementara istrimu bertahan sendirian, kesakitan, kehilangan bayi yang seharusnya bisa kau lindungi.”

Dada Galen naik turun, rahangnya mengatup erat, tetapi kata-kata itu menembus hingga ke tulangnya.

“Pergi, Galen.” Suara August dingin, tanpa emosi. “Ainsley sudah memilih. Dan kali ini, dia memilih untuk membebaskan dirinya darimu.”

Galen menatap pintu di belakang August, ingin menerobos masuk, ingin melihat Ainsley, ingin memohon, ingin memperbaiki semuanya. Tapi langkahnya terasa berat.

Karena jauh di dalam hatinya, dia tahu.
Dia telah kehilangan segalanya.

Galen meronta, matanya memerah, penuh kepanikan dan rasa bersalah yang menggerogoti hingga ke tulang. Dia terus berusaha menerobos, tapi August tak goyah.

“AINSLEY! KUMOHON! DENGARKAN AKU!” teriaknya, suaranya parau, hampir pecah.

Tapi tak ada jawaban. Tak ada langkah mendekat, tak ada suara yang menyahut dari balik pintu itu. Hanya kesunyian yang menusuk lebih tajam dari belati mana pun.

August mendorongnya sekali lagi, lebih keras hingga tubuh Galen jatuh terduduk di lantai dingin. Tangannya mengepal, kuku-kuku tajamnya hampir menembus kulit. Napasnya berat, memburu, dan saat dia mengangkat wajahnya ke arah ayahnya, matanya penuh kepedihan.

“Aku harus bertemu dengannya,” bisiknya, putus asa.

“Tidak.”

“Aku mencintainya…” suara Galen pecah, nyaris tak terdengar. Ia merangkak, lututnya gemetar, tangannya terulur memohon. “Kumohon… Biarkan aku menjelaskan. Biarkan aku melihatnya… biarkan aku menebus kesalahanku… Ayah, aku mohon.”

Namun August tetap berdiri tegak, matanya menatap putranya dengan sorot yang tak lagi sekadar marah—melainkan kecewa.

“Pergilah, Galen.”

Galen menggeleng, air matanya jatuh, tapi August meraih bahunya, memaksanya untuk menatap.

“Cinta yang menyakiti bukan cinta yang pantas diperjuangkan.” Suaranya lebih lembut kali ini, tapi tegas. “Kau mencintainya? Seharusnya kau tidak menghancurkannya.”

Galen terisak, rahangnya menegang, napasnya putus-putus. Dia ingin berteriak, ingin memohon lebih keras, tapi sekuat apa pun dia meratap, keputusan sudah dibuat.

August menepuk bahunya sekali sebelum berbalik. Dan kali ini, bukan hanya pintu di depannya yang tertutup rapat—tapi juga seluruh hidupnya bersama Ainsley.
Semuanya sudah berakhir.

Bukan hanya Galen yang terisak, bukan hanya dia yang tenggelam dalam keputusasaan.
Di dalam kamar, Ainsley menggigit bibirnya, tangisnya tertahan, tetapi dadanya sesak. Air mata mengalir tanpa bisa ia hentikan. Suara Galen yang terus memanggil namanya, meratap seperti anak kecil yang kehilangan segalanya, menghantam hatinya tanpa ampun.

Dia bisa mendengar semua. Suara putus asa itu, erangan penuh penyesalan yang menggema di balik pintu—itu menyakitinya lebih dari yang bisa ia bayangkan.

Ainsley memejamkan mata, menekan dadanya yang terasa begitu perih. Dia ingin berlari keluar, ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi tidak. Itu hanya ilusi. Kenyataan jauh lebih pahit.

Cinta yang menyakiti, tak pantas diperjuangkan.

Dia bukan wanita yang tak punya hati. Dia pergi bukan karena tak mencintai, tapi karena dia harus menyelamatkan dirinya sendiri. Dia harus berhenti merusak dirinya demi seseorang yang bahkan tak mampu menjaganya.

Galen harus belajar menerima. Sama seperti dirinya yang harus belajar terbiasa.

Tak semua kisah cinta berakhir bahagia. Tak semua perasaan bisa bertahan selamanya. Dan tak semua harapan akan selalu berpihak pada mereka yang mencintai dengan sepenuh hati.

Ainsley menarik napas dalam-dalam, menatap kosong ke langit-langit, mencoba meredakan isakannya.

Melepaskan bukan berarti tak lagi mencintai.

Melepaskan adalah cara lain untuk bertahan.
Mungkin hari ini terasa seperti kehancuran.

Tapi suatu saat nanti, dia akan mengerti—bahwa ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal untuk menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

FADED DESIRE
[Re-Upload]
28 Februari 2025
-
-

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang