Chapter 39

16.2K 516 17
                                    

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [astihrbooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰

Unraveling [2]

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Ainsley menelan ludah, mencoba mengusir kepedihan yang mulai mencekik tenggorokannya. Dengan tangan gemetar, ia mengetuk salah satu video yang dikirimkan ke ponselnya.

Layar menyala. Seketika, dunianya runtuh. Di sana, Kimberly terbaring di atas kasur. Tidak sendiri, di sisinya Galen terlelap, telanjang dada.

Dada Ainsley naik-turun dengan napas tercekat. Tidak… ini tidak mungkin…

Lalu suara Kimberly terdengar dari video itu. Suaranya lembut, hampir seperti bisikan beracun yang menyusup ke dalam hatinya.

“Kau pasti bertanya-tanya ke mana suamimu pergi semalaman, kan?”

Kimberly tertawa kecil sebelum melanjutkan, “Dia bersamaku.”

Seakan tahu Ainsley sedang menonton, wanita itu mengulurkan tangan ke arah kamera, mengusap lembut dada Galen yang tertidur di sampingnya.

“Jangan pernah berpikir dia baik padamu karena dia ingin bersamamu. Lihatlah, pada akhirnya, dia kembali padaku, memintaku lagi… dan memilih mengabaikanmu.”

Brak!

Ponsel nyaris terlepas dari genggamannya. Lutut Ainsley melemas, tak mampu lagi menopang tubuhnya. Air mata yang tadi tertahan kini mengalir deras, menyatu dengan kepedihan yang mencengkeram hatinya.

Lantai rumah sakit yang dingin menyambut tubuhnya yang terjatuh keras.

Suara benturan tubuhnya membuat pintu ruangan terbuka dengan cepat.

Dua pria melangkah masuk, Noah, dokter yang selalu menangani Ainsley, dan August Barnaby, ayah mertuanya.

August berjalan mendekat, ekspresinya penuh tanda tanya, sementara Noah lebih dulu bertindak, membungkuk dan membantu Ainsley yang tubuhnya masih bergetar.

“Noah…” suara Ainsley nyaris tak terdengar.

“Ssst… tenang, Ainsley.” ucap Noah lembut, memegang pundaknya dengan hati-hati.

Ainsley pasrah, tubuhnya lemah saat dokter itu membaringkannya kembali ke atas ranjang. Jemarinya mencengkeram erat selimut, berusaha mengendalikan sesak yang menghantam dadanya bertubi-tubi.

Di sisi lain ruangan, August Barnaby berdiri diam.

Pria paruh baya itu menatap ponsel Ainsley yang kini berada dalam genggamannya. Tatapan tajamnya terkunci pada layar, menampilkan foto dan video yang baru saja menghancurkan menantunya.

Wajahnya menegang. Rahangnya mengatup kuat. Tak lama setelah itu, aroma kemarahan memenuhi udara.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Ainsley terisak, tubuhnya bergetar hebat. Sesak. Pedih. Hampa.

Beberapa saat lalu, dokter memberitahunya sesuatu yang membuat seluruh dunianya runtuh, bayinya tak bisa diselamatkan.

Ia kehilangan anaknya.

Dunia yang selama ini terasa berat kini seakan tak lagi memiliki arti. Tangisannya memenuhi ruangan, pilu dan putus asa. Di sisinya, August Barnaby, pria yang selama ini menjadi figur ayah baginya, hanya bisa terduduk diam.

Ia menundukkan kepala, kedua tangannya menggenggam tangan Ainsley, erat seakan mencoba memberikan kekuatan yang tak ia miliki.

“Maafkan Ayah,” suara August nyaris bergetar. “Andai Ayah tiba lebih cepat…”

Ainsley tak menjawab. Ia tahu ini bukan salah August. Namun tetap saja, rasa sakit kehilangan anak yang begitu ia nantikan benar-benar membuatnya merasa mati.

Terlebih, alasan mengapa suaminya, pria yang seharusnya ada di sisinya, tidak di sini saat ia menghadapi neraka ini.

Ainsley terisak semakin dalam. Galen seharusnya di sini… tapi dia memilih berada di tempat lain.

August menghela napas panjang. Perlahan, ia menatap Ainsley dengan mata yang menyiratkan penyesalan.

“Ainsley…” bisiknya. “Sudah tidak ada lagi yang perlu kau pertahankan. Setelah ini, hiduplah lebih bebas. Lepaskan semua belenggu dari hidupmu, pulanglah pada ibumu.”

Ainsley membeku. Kata-kata August seperti hantaman keras yang menyadarkannya dari keterpurukan. Dengan mata sembab, ia melirik pria paruh baya itu di sampingnya.

“Ceraikan putraku.”

Suara August terdengar lebih tegas kali ini.

“Kembalilah hidup bahagia. Lupakan dia. Galen terlalu bajingan untuk wanita sepertimu.”

Ainsley menahan napas, hatinya berkecamuk.

“Ayah…” suaranya nyaris tak terdengar.

August tersenyum kecil, tapi di balik itu ada duka yang mendalam.

“Jangan memikirkan apa pun. Segala hal tentangmu, kebutuhanmu… bahkan jika kau ingin pergi ke tempat di mana Galen tak bisa menemukanmu, Ayah akan mengurus semuanya.”

Ainsley menatap August dengan mata basah.

“Aku juga berdosa, Ainsley.” Suara August melemah, namun nadanya penuh kepastian. “Aku berdosa karena gagal menuntun putraku menjadi pria yang bertanggung jawab. Anggaplah ini sebagai penebusan dosaku.”

Ruangan terasa sunyi.

Ainsley menutup matanya, membiarkan air mata mengalir tanpa bisa ia hentikan. Apakah ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya?

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

FADED DESIRE
[Re-Upload]
27 Februari 2025
-
-

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang