Chapter 33

18.3K 574 45
                                    

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [hryntibooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰

Echoes Of Memories [2]

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

"Lalu bagaimana jika aku mengatakan... itulah yang aku rasakan saat kau meninggalkanku begitu saja? Saat aku menangisimu semalaman, sementara kau bisa kembali tertawa bersama pria lain tanpa sedikit pun melihat ke belakang?"

Hening.

Ainsley terpaku.

Dan di antara mereka, hanya ada luka-luka lama yang kembali terbuka-membiarkan darahnya mengalir lagi.

"Katakanlah aku memang meninggalkanmu," suara Ainsley terdengar pelan, tapi tajam seperti pisau yang siap mengiris pertahanan Galen. Kepalanya terangkat, menatap lurus ke dalam mata pria itu tanpa gentar. "Tapi aku juga berusaha kembali, kembali padamu."

Galen mengerjap, bibirnya sedikit terbuka, ingin membalas. Namun sebelum kata-kata bisa keluar, Ainsley sudah lebih dulu membungkamnya.

"Aku mencoba menemuimu," lanjutnya, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Tapi kau tak pernah sekalipun mengizinkan aku masuk ke dalam hidupmu lagi. Aku berusaha meminta maaf, tapi apa saat itu kau sudi menemuiku? Tidak, Galen. Kau memilih menghilang, menutup semua pintu, bahkan sebelum mendengar penjelasanku. Kau pergi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Galen tetap diam. Sorot matanya menggelap, tapi tak ada sanggahan yang bisa ia lontarkan.
Ainsley menarik napas dalam, mencoba mengendalikan emosinya yang hampir meledak. Namun ketika ia berkedip, setetes air mata jatuh, mengalir di pipinya yang dingin.

"Dan sekarang kau berdiri di depanku, berpura-pura menjadi pria paling tersakiti." Bibirnya melengkung sinis, tapi matanya penuh kepedihan. "Padahal dari awal, kaulah yang menciptakan rasa sakit itu. Kaulah yang menanamkan dendam itu di dalam hatimu sendiri."

Galen menatapnya, tetapi tak ada kata yang keluar. Semua yang dikatakan Ainsley menembus pertahanannya, mengguncangnya lebih dalam dari yang ia kira.

Karena mungkin, wanita itu benar.

Selama ini, ia menelan egonya sendiri, memelihara luka yang perlahan berubah menjadi bara dendam. Dan ketika rasa sakit itu akhirnya membakar dirinya, ia memilih untuk menyalahkan orang lain. Menyalahkan Ainsley.

"Kau selalu menelan egomu sendiri, Galen." Ainsley menatapnya tajam, seakan menelanjangi semua kebohongan yang selama ini ia yakini sebagai kebenaran. "Lalu saat kau mulai kesakitan, kau menyalahkan orang lain atas luka yang kau ciptakan sendiri."

Tanpa peringatan, Ainsley mendorong tubuh Galen.

Galen terhuyung mundur beberapa langkah, tidak karena dorongan fisiknya yang kuat, tetapi karena kata-katanya yang menghantam lebih keras dari apa pun.

Dan sebelum ia bisa berkata apa-apa, Ainsley sudah berbalik, melangkah pergi.

Meninggalkan Galen yang hanya bisa berdiri mematung-terperangkap dalam kekosongan yang kini terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Galen pernah mendengarnya-dulu, berulang kali.

Ayahnya selalu datang, mengetuk pintu kamarnya, suaranya terdengar lelah namun penuh harap. 'Ainsley datang. Dia ingin bertemu denganmu.'

Tapi Galen tak pernah menggubris.
Baginya, itu hanya jebakan, akal-akalan ayahnya agar ia keluar dari kamarnya, agar ia berhenti meratapi kepergian dua orang yang paling ia cintai-ibunya dan Ainsley.

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang