Chapter 1

93.7K 2.1K 37
                                        

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [hryntibooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰

First Night In Fiumicino (1)

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Fiumicino, Roma, Italia.

Ketukan pintu yang tegas menggema di lorong sunyi sebelum daun pintu kayu putih itu berderit perlahan, membuka jalan pada aroma antiseptik khas ruangan medis yang dingin. Seorang wanita muda melangkah masuk, sepatu hak rendahnya hampir tak bersuara di lantai marmer yang mengkilap.

"Ainsley," suara lembut namun penuh otoritas menyambutnya. "Silakan duduk."

Ainsley Victoria Lysander, nama yang mengisyaratkan elegansi masa lalu. Mata hijaunya, yang biasanya memancarkan keceriaan kini tampak sayu seperti diselimuti kabut kekhawatiran. Rambut hitamnya yang tergerai sederhana tak mampu menyembunyikan keanggunan alaminya meski pundaknya sedikit merosot oleh beban hidup yang dipikulnya.

Tanpa banyak bicara, ia duduk di kursi yang dingin, tepat di hadapan sang dokter. Hanya meja kayu sederhana yang memisahkan mereka, tapi rasanya seperti jurang yang tak terjembatani.

Dokter Hanif Aygara, pria berusia empat puluhan dengan kemeja putih yang terlihat lusuh setelah seharian bekerja, menghela napas kecil sebelum bicara.

"Aku bisa mencoba basa-basi, tapi kurasa kau tak punya waktu untuk itu, bukan?" ujarnya dengan senyum tipis yang terasa berat.

Ainsley hanya menunduk sedikit, kedua tangannya saling meremas di pangkuannya. Dokter Hanif adalah sosok yang ia percayai selama dua tahun terakhir, namun setiap kali namanya muncul dilayar ponsel atau ia diminta datang ke rumah sakit, itu selalu berarti satu hal: berita buruk.

Dengan gerakan pelan, dokter Hanif melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja. Ia bersandar pada punggung kursi saat sorot matanya berubah serius.

"Ibumu mengalami kejang hebat siang tadi," katanya, membuka pembicaraan dengan nada hati-hati. "Bukan hanya sekali. Setelah melakukan pemeriksaan, kami menemukan bahwa tumornya tumbuh dengan sangat cepat. Tumor itu kini menekan struktur otak vital, menyebabkan pendarahan dan cairan berlebih di sekitarnya."

Kata-kata itu meluncur seperti pisau yang langsung menusuk langsung ke dada Ainsley. Napasnya tercekat, dan ia harus menegakkan punggungnya untuk menahan tubuhnya agar tak runtuh di kursi. Suara dokter hanif masih mengalir di udara, tapi pikirannya mulai kacau, bergulat dengan ketakutan yang selama ini berusaha ia tekan.

"Satu-satunya cara yang bisa kami lakukan adalah... operasi," suara dokter Hanif terdengar berat, seperti memikul beban dunia di pundaknya. Ia menatap Ainsley dengan penuh iba, tahu bahwa kata-kata itu lebih seperti vonis daripada harapan.

Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya jatuh tanpa ampun di wajah Ainsley. Ia membuka mulut, mencoba bicara tapi rasa sesak yang menggulung tenggorokannya membuat setiap kata tersangkut. Setelah beberapa detik berjuang, hanya satu kata yang keluar, diselimuti ketakutan dan keputusasaan.

"Tolong..." bisiknya, suara itu begitu gemetar hingga nyaris tak terdengar. "Tolong selamatkan ibuku."

Dokter Hanif menghela napas panjang, melipat kedua tangannya di atas meja. Sorot matanya sejenak berpaling, seakan tak sanggup menatap langsung pada luka yang terpancar dari gadis muda di hadapannya.

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang