Chapter 34

23.5K 713 12
                                        

CERITA INI HANYA UNTUK DINIKMATI
DON'T COPY MY STORY!!

Jangan lupa untuk follow akun wattpad author untuk dapat info update.
Konten promosi tersedia di instagram [hryntibooks_] dan tiktok [astihr_] 🥰

Echoes Of Memories [3]

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

“Kau...” Suara Galen nyaris tercekat di tenggorokan.

Ia terkejut, tentu saja.

Ia berpikir Ainsley sudah terlelap, ia berpikir bahwa kata-katanya akan lenyap begitu saja ke dalam keheningan malam. Namun ternyata, wanita itu tak benar-benar tidur.

Ainsley perlahan mendudukkan dirinya, cengkeramannya melonggar, tapi sentuhan singkat itu cukup untuk membuat hati Galen bergemuruh.

Kini, mata hijau itu menatapnya—berkilat oleh cahaya lampu tidur, penuh dengan sesuatu yang tak bisa Galen artikan.

Entah itu luka.

Atau perasaan yang selama ini terkunci di dalam hati wanita itu, sama seperti dirinya.
Hening menyelimuti ruangan, hanya diiringi napas pelan dari dua insan yang tengah dihadapkan pada kenyataan pahit yang selama ini mereka hindari.

“Maaf, aku pikir kau sudah tidur,” ucapnya, suaranya terdengar serak, nyaris seperti bisikan. “Maaf mengganggu—“

“Itu pasti… menyakitkan untukmu,” potong Ainsley, membuat Galen langsung menoleh.

Galen menatap wanita di hadapannya, bingung harus berkata apa. Dadanya sesak, bukan hanya karena luka lama yang kembali menganga, tapi juga karena kata-kata Ainsley yang menyeruak masuk tanpa ia duga.

“Sakit sekali, ya?” lanjutnya, suaranya lirih namun penuh kepastian. “Tidak ada yang berdiri di sisimu saat duniamu hancur.”
Galen membeku.

Matanya yang semula dipenuhi keteguhan perlahan berubah sayu. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mengakui rasa sakitnya. Tidak menyangkal, tidak membantah, tidak menyuruhnya untuk melupakannya—tapi justru mengakuinya.

Kata-kata itu… terasa begitu asing di telinganya.
Begitu… menyayat.

Ainsley menundukkan kepalanya, jemarinya saling meremas di atas pangkuannya.

“Aku yang seharusnya meminta maaf padamu,” ucapnya dengan suara nyaris bergetar. “Keluargaku… mereka yang menghancurkan keluargamu. Ayahku… dia yang membuat semuanya berantakan. Tentang ibumu. Tentang kita. Tentang semua hal yang seharusnya tidak terjadi.”

Ia mengangkat wajahnya kembali, mata hijaunya dipenuhi rasa bersalah yang begitu dalam.

“Galen… maafkan aku.”

Saat itu, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun… sesuatu dalam diri Galen runtuh.

Tanpa kata, tanpa ragu, ia mendekat. Ia meraih tubuh kecil Ainsley, menariknya ke dalam dekapannya, memeluknya erat—seakan takut jika ia melepaskan, wanita itu akan kembali menghilang dari hidupnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Galen menangis.

Bukan tangis yang tertahan, bukan sekadar mata yang memanas, melainkan isakan pilu yang mengguncang tubuhnya. Sebuah kepedihan yang selama ini ia kubur rapat-rapat, akhirnya pecah begitu saja di hadapan satu-satunya wanita yang pernah dan masih ia cintai lebih dari hidupnya sendiri.

Ainsley membalas pelukannya, lebih erat, lebih dalam. Tangannya merengkuh punggung Galen, jari-jarinya meresap ke dalam kain kemeja pria itu seolah ingin menahan seluruh luka yang selama ini menghancurkan mereka berdua.

FADED DESIRE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang