Kavi dapat melihat mata sembab Noa, pakaiannya berwarna serba hitam wajahnya yang manis terlihat begitu sendu. Perasaannya begitu campur aduk entah mengapa ia merasa iba melihat Noa. Kavi tak pernah bersimpati sedalam itu, Noa menjadi orang pertama yang menghadirkannya dan bagaimana Kavi menyalurkan perasaan itu adalah dengan mengepal kuat kedua belah tangan. Ia ingin sekali memeluk Noa yang terlihat rapuh, namun apa daya itu bukanlah hal yang dapat di lakukan orang asing sepertinya.
"Are you okay?" Tanya Kavi.
Noa menggelengkan kepala, ia menunduk kemudian di susul isak tangis Noa yang berangsur kian deras. Jidan yang berada di sana akhirnya berinisiatif untuk memeluk sang buna.
"It's okay Buna, Abang di sini," Ujar Jidan sembari mengusap perlahan punggung Noa yang bergetar.
"Ayo kita masuk dulu," Kavi mengajak keduanya untuk masuk dan menutup pintu ruangan.
Kavi dapat segera melihat Joey yang tertidur dengan selang infus menempel di tangan kirinya. Kavi merasa sangat iba bagaimana Joey terakhir kali bicara dengan menggemaskan, memanggilnya ayah dengan raut penuh senang. Kavi masih belum tahu mengapa bisa Joey sampai di rawat di rumah sakit hanya karena merindukannya.
"Boleh aku sapa Joey?" Tanya Kavi pada Noa yang masih tengah di tenangkan dalam rangkulan Jidan.
Noa mengangguk, Kavi lalu mencoba mendekat dan duduk di sisi ranjang Joey, menatap wajah pucat anak itu lekat. Tangannya menyibak sedikit poni yang menutupi kening Joey. Kavi merasakan dadanya bergemuruh oleh rasa sedih, ia tak tahu harus melakukan apa agar Joey merasa lebih baik.
"Kalo boleh tau, kata dokter Joey kenapa, Kak?" Tanya Kavi pada Noa yang sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Katanya Joey kecapekan."
Jawaban singkat Noa Kavi angguki, padahal Jidan sudah mengatakan padanya jika Joey sampai masuk rumah sakit karena rindu padanya.
"Maaf ya, Buna, Abang yang ajak Bang Kavi ke sini tanpa bilang dulu ke Buna."
"Gak apa-apa, Abang, gak perlu minta maaf mungkin Joey emang butuh ketemu Kavi."
"Maafin aku juga, Kak, gara-gara aku Kavi jadi sakit gini."
Noa buru-buru menggeleng ribut, ia tak terima jika Kavi menyalahkan dirinya sendiri karena apa yang Joey alami, "bukan, ini bukan salah kamu, Kavi, ini karena keegoisan saya sebagai orangtuanya."
Di tengah percakapan itu tak ada yang menyadari jika Joey membuka mata, ia terkejut melihat sosok sang 'ayah' berada di sana, duduk di sisian ranjangnya, "AYAH!" Joey berteriak cukup keras membuat Kavi segera melihat ke arahnya.
"Eh hai, Buddy," Kavi mengusap kening Joey sembari tersenyum.
"Ayah, Ayah kemana aja, Adek kangen Ayah, tapi kata Buna gak boleh ketemu Ayah, kenapa Ayah?"
"Joey--"
Kavi menaikan tangan, meminta Noa berhenti bicara. Anggap saja ia lancang namun apapun yang Noa katakan Kavi merasa itu tak tepat.
"Om sibuk--"
"KENAPA OM, AYAH ITU AYAH BUKAN OM!"
Joey nyaris menangis keras mendengar apa yang Kavi katakan. Namun apa yang harus Kavi lakukan saat Noa berada di sana, ia tak mungkin menyebut dirinya sebagai ayah di depan Noa. Ia takan setuju.
Noa menghampiri Joey, ia lalu meraih tangan Joey dan mengusapinya, "Adek, udah yah, jangan teriak-teriak kamu masih sakit Sayang."
"Ayah gak sayang Adek, Ayah maunya di panggil Om Ayah jahat."
"Adek enggak gitu."
Akhirnya Joey menangis keras, Jidan, Noa dan Kavi berusaha menenangkan walaupun nyatanya sia-sia sampai Joey kelelahan dan akhirnya tidur kembali dalam dekapan Kavi.
"Kak, we have to talk," Kavi mengajak Noa keluar dari ruangan dan meminta Jidan menjaga Joey.
Noa menurut keduanya berada di depan ruangan, berdiri berhadapan dengan Noa yang terlihat sangat lelah.
"Maafin anak saya Kavi--"
"Kenapa Kakak bersikeras buat gak nurutin apa mau Joey, aku bukannya lancang, tapi sebagai orang yang pernah kehilangan orangtua, aku ngerti gimana perasaan Joey apalagi dia masih kecil," Ujar Kavi panjang lebar.
"Tapi tetep gak bener kalo dia anggap kamu ayahnya."
"Iyah, tapi bisa enggak, Kakak biarin dia sampai suatu hari dia ngerti, aku gak bisa liat Joey sakit cuma karena kangen liat aku."
"Is that okay?"
Kavi mengernyit bingung mendengar pertanyaan Noa, "what?"
"Is that okay, kalo Joey anggap kamu oranglain, walaupun kamu gak akan pernah jadi Mas Joshua, rasa kangen Joey itu, cuma karena muka kalian mirip."
Tbc ...
Komen yang banyak sayang2ku 😁😁
KAMU SEDANG MEMBACA
After We Meet | Nomin
Fanficcerita ini merupakan sequel dari ceritaku sebelumnya DAYS WITH YOU jadi biar ngerti silahkan baca book pertama dulu yah. bxb nomin mpreg by : sassyna
