part 45

21 3 0
                                    

"Bapak Salman, kadar gula darah bapak sudah mencapai hampir 200 miligram per desiliter. Apabila kadar gula darah bapak tidak berkurang, resiko stroke bapak akan kembali meninggi. Perbanyak makan sayur, buah, dan proteinnya ya."

"Sudah, dok. Saya sudah mengurangi makanan yang mengandung gula," ucap Pak Salman.

"Bisa jadi dari makanan berlemak, seperti gorengan, jeroan. Atau pola hidup tidak sehat."

"Pola hidup tidak sehat seperti apa, dok?" Tanya Ayla kepada dokter cantik di depannya.

"Banyak, contohnya merokok, minuman beralkohol, dan kurang melakukan aktivitas fisik."

"Ayah saya sudah lama mengidap stroke, dok. Susah berjalan. Jadi kurang bergerak mungkin sebabnya."

"Nah, usahakan walaupun berat, mbak harus sering menuntun berjalan. Usahakan setiap pagi melakukan olahraga ya, supaya lemak atau zat racun yang ada dalam tubuh cepat keluar."

Ayla mengangguk paham.

"Saya buatkan resep, nanti mbaknya bisa mengantri di sebelah sana ya," dokter itu menunjuk ke ruangan putih di sebelah ruangannya.

"Baik, dok. Terimakasih," Ayla mengambil selembar kertas resep itu dan menuntun ayahnya yang baru mulai menggunakan tongkat walker.

"Ayah nggak boleh makan gorengan habis ini. Ayla pingin ayah kembali sehat," ucap Ayla sambil memegangi tangan Pak Salman.

"Iya, ayah paham."

Ayla memandangi ramainya antrian, mereka berdiri sambil membawa kertas dan sesekali mereka berdusel di depan ruangan.

"Sini, ayah. Duduk disini aja ya. Ayla yang ambil obatnya."
Ayla membantu ayahnya duduk di kursi besi panjang berwarna hitam di depan ruangan putih bertuliskan 'Poli Ortopedi'.

Sembari menunggu antrian, Ayla melihat kertas itu, barangkali ia bisa membacanya. Terlalu percaya diri hasilnya nihil, ia menertawai tingkah konyolnya, mana bisa memaknai tulisan tangan seorang dokter?

Pandangannya bergeser ke jari tangan kirinya yang sedang memegang tasbih digital.
"Bagaimana kabar dia? Rasanya waktu ini lama sekali, padahal baru hampir satu tahun. Ya Allah mudahkanlah urusannya, dan jagalah hatinya untukku." Kembali bibirnya merapalkan sholawat sembari menunggu antrian.

"Terimakasih," ucap Ayla setelah menerima obat. Ia berbalik meninggalkan antrian dan berjalan menuju ayahnya sambil melihat obat-obat di tangannya.

"Eh, astaghfirullah!" Gumamnya ketika nyaris menabrak seorang lelaki berjas putih di depannya.

Ia melihat obat yang tadi dipegangnya jatuh. Ketika berjongkok ingin mengambil, ternyata tangannya kalah cepat dengan seorang pria yang hampir ia tabrak itu.

"Terimakasih, dokter," ucap Ayla.

"Sama-sama," jawab dokter itu ketika mereka sudah sama-sama berdiri.

Ayla merasa pernah mendengar suara itu, ia mendongak untuk melihat sang pemilik suara.

"Danu!" Pekiknya.

Pemuda itu tersenyum.
"Kesini juga, Ay?"

"Iya, nganter ayah cek gula darah."

"Naik apa?"

"Naik angkot."

"Wuah! Bisa?"

"Ya bisa lah, ngapain nggak bisa?"

"Kan kamu sendirian sama om. Hebat!"

"Daripada naik motor kan malah ribet, mending angkot."

Danu mengangguk setuju, ia tersenyum kagum melihat gadis di hadapannya, mandiri, pekerja keras, pantang menyerah, penyayang, dan sepertinya ia menyukai semua tentang Ayla. Tanpa ia sadari jantungnya pun selalu berdebar ketika di dekat gadis itu.

Asa Triple ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang