part 26

25 4 0
                                        

Udara pagi ini begitu segar, pepohonan bergoyang pelan menyambut mentari yang bersinar cerah. Langit biru dihiasi awan putih yang bergerombol menambah pemandangan memukau dari rumah Ayla.

Sepeda motor berlalu lalang di jalanan, menampakkan kegiatan para warga yang beragam, ada yang menyapu di halaman, berjual beli sayur, berolahraga, berangkat ke sawah, ada juga yang sekedar berjalan kaki menikmati suasana pagi.

Di dalam rumahnya, Ayla kembali berkutat dengan tepung dan loyangnya. Beberapa tumpukan kotak sudah disiapkan untuk diisi kue pesanan.

"Ayah, mau nyobain ini?"
Ayla memperlihatkan kue buatannya yang baru saja matang. Hari ini Ayla sangat bahagia karena ayahnya menemaninya membuat kue, sudah lama ia tak menghabiskan waktu bersama ayahnya semenjak ayahnya sakit.

Sementara di halaman, Bahtiar menyapu dan membersihkan rumput-rumput yang mulai tumbuh liar.

"Ayo sarapan bersama dulu, mumpung masih pagi. Ayla, itu dilanjutkan nanti ya. Bahtiar juga sudah selesai membersihkan halaman. Ayah, yuk ibu antar ke meja!" Bu Salwa juga tak kalah bersemangat mempersiapkan sarapan untuk keluarga tercintanya.

"Iya, bu. Tiar, sini!" Teriak Ayla ketika terlihat adiknya duduk di teras rumah.

"Apa, mbak? Bentaran, masih istirahat!" Jawab Bahtiar.

"Cepetan ih! Bantuin ibu dulu ngangkat nasi, aku masih ngurusin ini bentar, sini!"

"Iya, mbak, habis ini aja. Lagi asik liat pemandangan pagi nih, jarang-jarang pagiku santai kalau nggak hari libur gini."

"Ngeles aja terus, masalahnya ibu butuh bantuannya sekarang, bukan nanti."

"Iya deh, kalau ibu yang nyuruh aku mau. Kalau Mbak Ayla, yaaa... nanti-nanti aja," Bahtiar mulai menjaili kakaknya.

"Ooo gitu, oke, kamu nggak mbak kasih-kasih lagi uang jajan," kali ini Ayla tertawa penuh kemenangan karena melihat raut wajah adiknya yang berubah dari yang tadinya tersenyum bangga menjadi bersungut-sungut, namun ancamannya berhasil membuat Bahtiar beranjak dari duduknya dan memilih untuk menuruti kemauan kakaknya.

Bu Salwa dan Pak Salman menggeleng kepala melihat tingkah kedua anaknya.
"Anak-anakmu, yah. Sudah kayak kucing sama tikus," ucap Ibu Ayla.

Sementara ayah Ayla hanya tertawa renyah sambil dituntun Bu Salwa ke ruang tamu.

"Bu, ayah merepotkan ya? Maaf ya bu, ayah belum bisa menjadi kepala keluarga yang baik," ucap Pak Salman ketika sudah duduk di kursi.

Ibu Ayla yang menggeser kursi Pak Salman seketika terenyuh mendengar ucapan suaminya. Teringat penyakit stroke Pak Salman yang sering kambuh, belum lagi jika asma nya datang, ibu Ayla hanya bisa memohon kepada Allah untuk kesembuhan suaminya.

"Jangan bilang gitu toh, ayah sudah mengusahakan yang terbaik untuk ibu, Ayla, dan Bahtiar," jawab ibu sembari mengelus punggung tangan suaminya.

"Hari ini ayah tahu, anak-anak kita telah tumbuh pesat, ayah bangga. Ibu juga lebih tangguh dari ayah, yang semangat ya bu, maafkan ayah yang ndak bisa diandalkan," Pak Salman menunduk.

Mata Bu Salwa berkaca-kaca," husst! Ayah ndak boleh ngomong gitu, ibu ndak suka, semoga Allah segera memberi ayah kesembuhan."

Bahtiar muncul dari dapur menuju ruang tamu, "Ayah, ibu, kita makaan..."

Melihat keberadaan anaknya, Bu Salwa mengusap air matanya yang sudah jatuh di pipi, ia tidak ingin mereka juga ikut menangis.

"Aku ambilin ya," Ayla mengambil centong nasi dan piring, lalu mengambilkan makanan untuk ayah, ibu, dan adiknya.

Asa Triple ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang