56 - Jawaban

6 0 0
                                        

"Gua Alghoz."

Gibran membulatkan matanya terkejut mendengar ucapan remaja itu. Penghianat yang selama ini ia cari kini berdiri tepat di hadapannya.

Suara deru motor kembali terdengar Zavier dan Elvano tiba di tempat mereka. Melihat seorang remaja berdiri tepat di samping Priska, mereka berdua sama herannya. Tidak lama Elvano melangkah lebar hendak menghampiri remaja itu.

"HEH LU! Lu penghianat itu kan?!"

Naufal dengan cepat menarik tangan Elvano mencoba untuk menahannya. "Tunggu Van, kita gaboleh gegabah."

"Gua udah muak, buat apa lu nutupin muka lu itu?! Tunjukin aja, biar Gibran tau sebusuk apa lu!"

Gibran menoleh menatap Elvano yang berada tak jauh darinya. Ia mengangkat satu alisnya. "Lu tau Van?"

Mendengar pertanyaan yang di lontarkan Gibran, Elvano terdiam sejenak. "Lu harus tau sekarang Bran."

"Lu! Buka masker lu itu sekarang jangan jadi pengecut. Selama ini lu udah cukup nutupin wajah lu itu," ujar Zavier mengambil jalan tengah.

Laki-laki itu tertawa pelan lalu mengalihkan pandangannya pada Gibran. "Lu lihat siapa yang ga ada di sini Bran dan tebak siapa gua? Di markas udah ga ada siapapun cuma bawahan ga berguna."

Gibran mulai memperhatikan sekitarnya, ia tersadar. "Rizky?"

Jantung Gibran berdegup kencang takut kalau-kalau tebakannya benar lalu laki laki itu akhirnya mengungkapkan identitas yang selama ini ia tutupi. Ketika masker itu terbuka Gibran tercengang, hancur rasanya ketika sahabat yang ia percaya kini berdiri di hadapannya sembari menggenggam pistol yang siap menembaknya kapan saja.

"Tapi kenapa..." ucap Gibran, bingung.

"Karena lu harus hancur Bran! Kalau lu hancur hidupnya bakalan aman," ungkapnya.

"Hidup siapa yang lu maksud Riz?"

Gibran bahkan tidak dapat menunjukkan ekspresi marah, justru raut wajahnya tampak bingung. Ia berbicara dengan hati-hati. Namun, lawan bicaranya itu masih tampak marah.

"Dia bukan Rizky."

Seorang remaja laki-laki duduk di kursi roda menghampiri mereka semua dengan dibantu Daniel dan Gilang dibelakangnya. Semua terkejut karena laki-laki di kursi roda itu adalah Rizky. Dua wajah yang sangat mirip dengan kepribadian berbeda.

"Rizal, kembaran gua," ujar Rizky.

Gibran tidak mampu mengatakan apapun seakan terlalu banyak hal tak terduga di hadapannya kali ini, banyak sekali pertanyaan di benaknya. Apalagi melihat Daniel dan Gilang yang tiba-tiba datang membawa laki-laki yang mirip dengan Rizky bahkan dia sendiri tidak tahu mana Rizky yang sebenarnya? Rizky yang dia kenal? Jika laki-laki di kursi roda itu memang benar Rizky lalu apakah selama ini ia berada sedekat itu dengan musuhnya?

"Gua tahu pasti lu bingung Bran tapi gua memutuskan untuk merahasiakan ini dulu demi kebaikan lu," kata Daniel.

"Gilang yang dari awal menyelidiki sendiri terus nemuin fakta yang bahkan ga pernah dia tebak selama ini dan gua ga sengaja masuk di tengah-tengah penyelidikan itu," lanjutnya.

Gilang mengangguk pelan. "Ini Rizky, Rizky yang kita kenal selama ini. Gua akuin memang sulit untuk membedakan di antara mereka berdua tapi lu bisa lihat Rizky yang kita kenal ga pernah se emosian itu berbanding terbalik sama kembarannya. Awalnya gua kira yang berusaha nyakitin lu itu Rizky dan gua udah keburu benci setengah mati sampai akhirnya gua ga sengaja ngelihat penyiksaan itu."

"Penyiksaan?" heran Gibran.

Rizky menghela nafas pelan. "Iya Bran selama ini gua dikurung Rizal, saudara gua sendiri sampai-sampai kaki gua di pasung dan itu buat kaki gua lemah jadi meskipun udah bebas gua masih susah buat jalan lagi. Itu semua dia lakuin demi mencuri identitas gua."

GIBRAN RAFFRANSYAHCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang