Suasana gelap mencekam, tubuh terasa sangat dingin. Kyra mengerjap beberapa kali kebingungan karena tiba-tiba ia berada dalam lautan lepas sambil berusaha agar tidak tenggelam, gadis itu memperhatikan sekitarnya.
Gelap dan sunyi.
Byurr
Kyra melihat ke arah sumber suara, seperti sesuatu yang baru saja jatuh ke dalam air. Itu seorang laki-laki memakai kemeja dan celana panjang, namun laki-laki itu tidak berusaha berenang melainkan tetap diam membiarkan lautan melahapnya secara perlahan.
Lambat laun laki-laki itu sampai di hadapan Kyra dan saat itu juga ia tersadar bahwa laki-laki itu adalah Gibran. Tampak bekas luka tembakan di bagian dadanya, darahnya seakan ikut terbaur dengan arus air. Gibran membuka kedua matanya perlahan, sedangkan Kyra panik berusaha berenang menghampirinya.
Tapi Gibran tidak, ia masih terdiam lalu mengangkat tangannya perlahan seolah ingin mengenggam Kyra namun tidak bisa menghampiri gadis yg dicintainya itu. Perlahan tapi pasti laut mulai membawa Gibran semakin menjauh perlahan dan Kyra kesulitan untuk berenang, dalam kegelapan laut itu tubuh Gibran perlahan menghilang. Kyra memperhatikan sekitar tapi tidak dapat menemukan Gibran lagi. Binging, panik, dan takut tercampur jadi satu sampai ia merasa sesak kesulitan bernafas, jantungnya berdegup kencang.
Deg
Deg
Deg
"Huh...." Kyra tersentak, terbangun dari tidurnya. Nafasnya cepat rasanya mimpi itu seperti nyata, rasa sesak yang dia terima seakan sampai di dunia nyata.
Gadis itu beranjak dari sofa, ia berjalan menghampiri Gibran yang terbaring di atas brankar. Kyra lalu memastikan tubuh Gibran tidak terluka lagi, lali memperhatikan layar monitor berharap Gibran tetap baik-baik saja.
Mimpinya sangat menakutkan seakan seolah-olah itu adalah petunjuk, sebuah salam perpisahan terakhir dengan Gibran.
"Istirahatlah Kyra."
Sebuah suara mengejutkannya, Risa baru saja masuk ke dalam ruang rawat Gibran. Kyra menggeleng pelan sementara Risa menghela nafas, melihat gadis itu yang pucat tanpa semangat membuatnya juga merasa sedih.
Sejak kejadian penyerangan terakhir itu Alghoz telah memenangkannya meski Gibran harus berkorban. Tepat setelah penembakan itu Priska berhasil di amankan polisi beserta para anak buahnya bahkan telah divonis hukuman mati karena telah melakukan berbagai kejahatan mulai dari teror, penculikan, penyerangan dan juga pembunuhan terhadap Rizal.
Namun yang seharusnya ini adalah waktu untuk mereka merayakan kemenangan justru harus merasakan sedih yang mendalam menunggu Gibran kembali sadar.
"Kyra, kamu harus istirahat dan makan. Biar mama yang jaga Gibran, ya?"
Kyra menggeleng pelan. "Enggak ma, aku gak lapar. Aku mimpi kak Gibran pergi ninggalin aku, ninggalin kita semua."
Kedua mata Kyra mulai berkaca-kaca sedangkan Risa menatapnya sedih. "Tenang aja ya Gibran pasti sembuh, mama juga khawatir. Kepikiran terus dengan keadaan Gibran tapi mama harus yakin kalo Gibran gak akan nyerah semudah itu, lebih baik kamu pulang sekarang nanti malam balik lagi ke sini, boleh kok," bujuk Risa.
Gadis itu berpikir sejenak lalu mengangguk perlahan, setelah berpamitan ia melangkah perlahan meninggalkan ruang rawat Gibran.
🔥🔥🔥
Kyra meringkuk di atas kasur, setelah membersihkan badan daripada makan ia lebih memilih tetap berada di dalam kamar, sedih rasanya memikirkan Gibran yang tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda membaik. Pikirannya berkecamuk, berbagai skenario buruk terlintas di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
GIBRAN RAFFRANSYAH
Action"Biarin gua jadi pembunuh, Ra." Kehidupan remajanya penuh tantangan, air mata dan luka akibat tragedi yang menimpa keluarganya. Membuatnya menjadi remaja nakal yang pantang di atur, tidak kenal takut dan akrab dengan berbagai rasa sakit. Berusaha me...
