YOU POV
"Ayo kita masuk!" ajak Jungwon sambil menarik tanganku memasuki ruangan tersebut. Setelah pintu terbuka, jantungku seolah berhenti berdetak ketika menyadari kehadiran banyak sekali orang berjubah hitam yang berdiri mengelilingi sebuah kolam. Air dalam kolam itu berwarna merah, yang aku yakini adalah darah karena aroma amis tercium kuat dalam ruangan ini. Hampir muntah jika tidak Jungwon tarik tanganku menghampiri gerombolan orang berjubah hitam tersebut.
Setelah kami berada di depan kolam, Jungwon berkata, "Aku tak sengaja membunuh satu orang laki-laki." terdengar begitu santai, seolah kenyataan itu bukanlah sebuah aib yang harus ia tutupi pada siapapun.
Aku sudah yakin, sejak awal, kematian supir Sunoo dan Niki pasti ada campur tangan Jungwon selaku lelaki yang ingin menyelamatkanku. Namun, saat mendengar langsung pengakuan dari Jungwon malah menambah rasa takut dalam diriku. Entahlah, aku merasa masih belum terbiasa menghadapi sifat asli Jungwon yang begitu agresif ini.
Tiba-tiba, seorang wanita tua yang berada tepat di seberang kami pun membuka penutup jubahnya lalu berdiri untuk menjawab, "Sudah saya bantu bereskan, sekarang buka baju kalian dan masuklah ke dalam kolam itu untuk mengikat jiwa kalian berdua." perintah wanita tua berwajah menyeramkan itu pada kami. Tunggu? Kami disuruh masuk dan berendam di dalam kolam penuh darah tersebut?! Yang benar saja!
Jungwon sempat menoleh ke arahku lalu tersenyum begitu manis untuk meyakinkan, "Setelah kita melalui ritual ini, nuna resmi menjadi milikku dan siapapun yang berusaha membawa nuna menjauh dariku akan celaka, terutama berandal-berandal yang mengirimkan video nuna padaku." jelas Jungwon semakin membuatku bingung.
Aku tentu saja menolak kegiatan aneh yang ingin Jungwon lakukan padaku, namun saat aku ingin berlari keluar, Jungwon berucap dengan suara yang aneh seperti bukan dirinya, "Turuti perkataanku nuna!".
Deg!
Detik itu juga kepalaku terasa seperti tertusuk pedang dan jantungku seolah berhenti berdetak dalam beberapa detik. Pandanganku juga ikut menggelap hingga aku merasakan tubuhku yang mulai bergerak sendiri menanggalkan satu per satu pakaian di tubuhku.
Setelah aku berhasil mengembalikan kesadaranku, begitu terkejutnya aku saat melihat semua orang dalam ruangan ini ikut membuka jubah hitam mereka. Sama seperti diriku dan Jungwon, orang-orang itu juga tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuh mereka. Disaat aku sibuk memperhatikan keadaan di sekitaran kami, Jungwon tarik tanganku menuju kolam tersebut.
Tanpa bisa ku kendalikan, rasa mual kembali memenuhi ku apalagi saat kakiku mulai masuk ke dalam genangan darah tersebut. Hampir aku muntah saat Jungwon tuntun aku duduk di dalam kolam tersebut yang membuat tubuhku terendam oleh darah hingga batas leherku. Berbanding terbalik denganku yang berusaha menahan diri untuk tidak muntah, Jungwon malah tersenyum ke arahku lalu mengecup puncak kepalaku lembut.
Perhatian kami pun teralihkan oleh keberadaan wanita tua yang sebelumnya berbicara dengan Jungwon, beliau ikut masuk ke dalam kolam ini bersama kami. Bibirnya seolah melantunkan sebuah mantra yang ternyata diikuti oleh beberapa orang di belakangnya. Pandanganku pun tertuju pada dua lembar daun berwarna emas yang menyala cukup terang di tangannya.
"Daun ini adalah daun ganja yang telah kami kembangkan sedemikian rupa sebagai alat untuk mengikat jiwa dan raga kalian berdua." jelas wanita tua membuatku semakin bingung. Jungwon yang terlihat begitu antusias pun hanya bisa terdiam saat wanita tua itu bawa selembar daun emas masuk ke dalam kolam penuh darah.
Aku tak tahu apa yang wanita itu lakukan, tapi yang pasti wajah Jungwon memerah seperti dipenuhi nafsu setelah tangan wanita itu berada di antara dua kakinya. Apa wanita itu menggesekkan daun tersebut pada kelamin Jungwon? Ah, kau tak boleh berpikiran seperti itu, Y/n!
Setelah beberapa detik, tangan wanita itu keluar dan tak terlihat lagi daun ganja berwarna emas tersebut. Setelah itu, wanita tua menoleh ke arahku dan berkata, "Tak ada cinta yang wanita ini rasakan padamu, Jungwon." seolah dapat membaca seluruh perasaan dan isi pikiranku sesungguhnya. Namun, benar yang dikatakan wanita itu. Aku memang belum mencintai Jungwon seperti yang ia harapkan selama ini.
Jungwon raih tanganku untuk digenggamnya erat, detik itu juga aku merasakan tak bisa lagi mengambil alih tubuhku. Aku ingin memberontak dan keluar dari kolam ini, namun aku tak sanggup melakukannya, "Buat dia jatuh cinta sedalam yang aku rasakan padanya, nyonya. Buat dia sangat tergila-gila padaku hingga tak sedikitpun terlintas dalam benaknya pergi meninggalkan aku!" pinta Jungwon tak ku sangka akan keluar dari bibir tipisnya tersebut.
"Baca mantra yang saya berikan kemarin!" perintah wanita tua itu sambil membawa selembar sisa daun emas menuju selangkanganku dalam darah tersebut. Wanita itu dorong tubuhku sampai bersandar pada pinggiran kolam, lalu ia bawa selembar daun itu untuk bersentuhan dengan permukaan vaginaku lalu naik hingga ke perutku. Ia gosokkan selama beberapa kali hingga ku rasakan kilasan momen manis yang aku lalui bersama Jungwon terbayang dalam benakku.
Tak sampai disitu, seolah keberadaan Jungwon sukses mengambil tempat istimewa dalam hati dan pikiranku yang semula kosong, keberadaan Jungwon berhasil memenuhi sepenuh jiwaku hingga daun tersebut menghilang seolah larut ke dalam tubuhku. Wanita tua itu pun mengrluarkan tangannya lalu menyentuh dahiku menggunakan ibu jarinya.
"Kau milik Yang Jungwon, Jung Y/n, dan Yang Jungwon kau adalah belahan jiwa Jung Y/n! Kalian akan abadi bersama lingkungan kami!" setelah mengatakan itu, tubuhku seolah menegang seperti di setrum selama beberapa detik hingga ku rasakan normal lagi di sekujur tubuhku.
Detik itu juga wanita tua itu meminta untuk diriku dan Jungwon keluar dari kolam ini dan duduk di pinggiran kolam. Tanpa bisa ku hentikan, wanita itu menuntun Jungwon berbaring dan memintaku menaiki tubuhnya dalam posisi milik Jungwon menyatu dengan tubuhku.
Terasa sangat besar dan keras, seolah milik Jungwon memang berubah berkat ritual yang kami lakukan, hingga suara tepuk tangan mengalun kencang. Detik itu juga kami bisa menggerakkan tubuh kami masing-masing.
"Setubuhi Y/n di depan kami semua untuk menyempurnakan ritual ini, Jungwon. Sekarang gadis itu telah resmi menjadi milikmu, siapa saja yang memasuki tubuhnya selain dirimu akan kami rusak mental dan psikisnya secara perlahan hingga dia mengakhiri hidupnya sendiri. Kau tak perlu takut, kau bisa mengalahkan berandal-berandal itu tanpa perlu mengotori tanganmu." jelas wanita tua sempat membuatku terdiam sebentar sambil menatap Jungwon yang tersenyum begitu bahagia di bawah tubuhku.
Sungguh, perasaan yang semula didominasi oleh perasaan takut berubah menjadi penuh cinta untuk lelaki bersurai blonde di hadapanku. Terutama saat lelaki itu berkata, "Apa kau mengerti nuna? Kau tak perlu takut lagi setelah ini, ajak saja para berandal itu bersetubuh denganmu maka semuanya akan menjadi tumbal untuk kelompok kita. Kau mengerti sayangku?" tanya Jungwon yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala walau pikiranku terus berusaha menolak ucapannya, tapi hatiku sekarang mulai terikat dengan lelaki ini.
Sangat terikat hingga ku rasakan degup jantungku yang berdetak begitu cepat. "Ne, Jungwon!" jawabku bahkan dengan suara yang manja. Jungwon pun mengecup bibirku singkat sebelum ia angkat bokongku dan mulai menghentakkan tubuhnya dalam.
"Kau milik siapa, sayang?!" tanya Jungwon yang langsung aku jawab dengan erangan manja, "Yang Jungwon. Aku milik Jungwon seorang!". Tidak, tolong seperti ada yang salah dalam diriku, apa karena aku terlalu mencintai lelaki ini? Sungguh, aku tak tahu harus berbuat apa! Ini salah, aku tahu ini salah! Jungwon! Kau melakukan apa padaku?!
Disaat pikiranku mulai melakukan pemberontakan hebat, detik itu pula aku merasakan kesadaranku yang perlahan menghilang seiring hentakan Jungwon yang terasa semakin cepat. Tuhan, apa aku bermimpi?
TBC
25 KOMEN YAA
