Setelah memastikan Heeseung melakukan perekaman dengan baik untuk situs mereka, Jay dan Jake membawaku naik ke lantai tujuh yang merupakan lantai paling private dalam karaoke SukaKita. Berisikan berbagai tipe kamar yang dapat para pengunjung pesan untuk menikmati malam yang panjang. Hanya segelintir orang yang mengetahui keberadaan kamar-kamar ini, tentu diprioritaskan untuk pengunjung VVIP yang rela mengeluarkan uang sangat banyak untuk menikmati berbagai fasilitas mewah yang mereka tawarkan.
Salah satunya, master bedroom yang Jake buka ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mereka tata senyaman mungkin kamar tersebut dan tidak ketinggalan dengan berbagai botol minuman keras merk terkenal yang berjejer di atas mejanya. Jangan lupakan pula keberadaan ratusan kondom dan pelumas yang mereka sediakan dalam kamar ini. Sangat terlihat bukan kamar ini diperuntukkan untuk apa?
Jake gandeng tanganku memasuki sebuah kamar mandi dalam kamar tersebut. Sementara Jay sempatkan diri meminum satu butir viagra yang sebelumnya anak buah Jake berikan menggunakan alkohol yang tersedia.
Jake tersenyum begitu manis padaku sebelum ia buka satu per satu baju di tubuhku, sementara Jay terlihat memperhatikan kami sambil menghisap rokok electric miliknya di pintu kamar mandi ini. "Pastikan sebersih mungkin, Jake!" perintah Jay yang langsung Jake jawab dengan anggukan kepala. Senyuman di wajah Jake tak henti terukir pertanda betapa bahagianya lelaki itu saat ini, namun disaat Jake ingin menyemprotkan air ke lubang belakang ku, aku berusaha menghentikannya dan menanyakan, "Apa yang ingin kalian lakukan?".
"Membersihkan bagian belakangmu, sayang. Kita akan melakukan bertiga malam ini." jelas Jay perlahan menghampiri diriku. Tanpa kata, Jake lakukan apa yang Jay perintahkan yaitu membersihkan bagian belakangku menggunakan air dalam kloset, sementara aku hanya bisa mendesah sambil menempelkan wajahku pada bahu kanan Jake di hadapanku. Bahkan, tanpa merasa jijik sedikitpun Jake masukkan satu jarinya yang telah dilapisi sarung tangan karet untuk memastikan tak ada lagi kotoran yang tertinggal.
Terasa amat sakit terutama saat merasakan semprotan air itu semakin masuk membersihkan tubuhku. Tanpa sadar aku remas pinggang ramping Jake di hadapanku hingga akhirnya kegiatan itu selesai. Langsung Jay tekat flush toilet tersebut dan Jake pastikan sekali lagi dengan menyemprotkan air agar diriku bersih. Setelah itu, Jake buang sarung tangan yang ia kenakan dan memintaku membasuh bagian bawahku di bilik kamar mandi. Terlihat, Jay dan Jake membasuh tangan mereka satu sama lain, namun pertanyaan yang Jake lontarkan mampu membuatku terdiam mematung.
"Aku perlu membersihkan milikku juga, kah?" tanya Jake yang langsung Jay jawab, "Terserah, tapi malam ini aku menginginkan gadis itu." jawab Jay sedikit berbisik. Setelah itu, Jay lepaskan satu per satu pakaian di tubuhnya, diikuti Jake yang juga menanggalkan pakaian di tubuhnya. Setelah kedua lelaki itu sama-sama bertelanjang bulat, keduanya menghampiri diriku yang masih berdiri di bawah guyuran shower di tubuh bagian bawahku.
"Mau masuk angin? Kok lama banget?" tanya Jake dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya. Aku yang begitu penasaran pun tiba-tiba bertanya, "Untuk apa Jake membersihkan tubuhnya juga?" yang sukses memecah tawa Jay sementara Jake terlihat sedikit kalang kabut atas pertanyaanku tersebut.
Jake lingkarkan tangannya di pinggangku lalu memeluk dan mengecup leherku penuh nafsu, sementara Jay memeluk tubuh Jake dari belakang lalu mengatakan, "Kami bisexual. Kau pasti paham, Y/n!" yang langsung Jake jawab dengan anggukan kepala. Namun, aku yang begitu penasaran pun kembali bertanya, "Kalian sering berhubungan badan berdua?" tanyaku yang sontak memecah tawa Jay.
"Apakah itu penting untuk dijawab?" sementara Jake malah menangkup wajahku untuk mengatakan, "Tak banyak, kau tak perlu khawatir. Aku sangat menyukaimu, Y/n." setelah mengatakan itu, Jay hentikan niat Jake yang ingin mencium bibirku untuk ia bawa wajah lelaki itu ke belakang dan mengecup bibirnya lumayan lama.
Aku yang terkejut dengan kenyataan tersebut pun hanya bisa menatap tak percaya ke arah keduanya. Setelah melepaskan ciuman tersebut, Jake bertanya padaku, "Kau percaya?" yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala. Sukses memecah tawa Jay dan Jake begitu puas. Jake peluk tubuhku begitu erat sementara Jay mengusap puncak kepalaku seraya berkata, "Polos sekali peliharaan ku ini".
Setelah puas menertawakan kenaifan diriku, Jay dan Jake ajak aku keluar dari kamar mandi tersebut menuju kamar. Jake dorong tubuhku untuk berbaring di kasur ini, sebelum ia ambil satu botol alkohol untuk ia minum langsung dari botolnya. Sementara Jay kembali menghirup rokok electric miliknya.
Sambil melihat diriku yang mulai mendudukkan diri di atas kasur, Jake bertanya, "Apakah dia perlu menghirup itu (obat) juga?" yang langsung dijawab Jay dengan, "Aku rasa tidak usah, kau sudah memberikannya viagra tadi. Bisa mati peliharaan kita karena overdosis!" jawab Jay perlahan menghampiriku. Jake yang tak mengetahui mengenai itu pun menimpali, "Aku pikir, wanita perlu obat itu juga!" seiring Jay yang mendorong tubuhku berbaring di atas kasur tersebut.
Kasur ini, sangatlah empuk dan nyaman. Rasanya kasur semahal ini sayang saja jika harus digunakan untuk kegiatan haram seperti ini. Lebih baik aku gunakan untuk tidur seharian di apartemenku.
"Tak perlu, kau hanya perlu viagra aja kan, cantik?" tanya Jay setelah mengecup bibirku singkat. Aku anggukkan kepalaku seiring Jay yang menempatkan dirinya di antara kedua kakiku. Jay tangkup wajahku, sempat ia tatap mataku di bawah kuasanya sebelum ia menyadari, "Fuck!" umpat Jay begitu frustasi.
Jake yang penasaran pun bertanya, "Kenapa?" yang langsung Jay tuntun aku duduk kembali ke kasur ini, "Kekuatan iblis itu masih tersisa di tubuhnya!" ucap Jay seolah dapat merasakan apa yang orang awam seperti diriku dan Jake ini tak rasakan.
"Tolong ambilkan air suci di dalam tasku, Jake!" pinta Jay yang langsung Jake turuti sementara aku yang merasakan efek obat yang mereka berikan mulai bereaksi pun berusaha bangkit dan menyentuh tubuh Jay. Setelah mendapatkan air tersebut, Jay sempat membacakan beberapa doa sebelum ia basuhkan air tersebut ke sekujur tubuhku.
Terasa amat panas seperti terbakar, itulah sebabnya aku berteriak kuat seraya berusaha memberontak dari mereka. Jake pun tergerak untuk menahan tubuhku disaat Jay mulai membasuh air itu di kewanitaan ku, bahkan sampai memasukkannya ke kewanitaan ku di atas kasur tersebut.
Detik itu pula aku merasakan pandanganku yang mulai menggelap. Sekujur tubuhku terasa begitu sakit yang membuatku kehilangan kesadaranku begitu saja. Dalam ketidaksadaranku, aku melihat seperti siluet Jungwon yang sedang duduk di tengah pusaran api yang mengelilinginya dan saat aku berusaha mencari cara untuk memadamkan api tersebut, terlihat sosom hitam bertubuh amat besar di balik kobaran api yang perlahan melahap tubuh Jungwon.
Namun, bukannya malah bertambah kuat setelah mengambil Jungwon, iblis itu malah berteriak saat ku dengan samar seseorang yang tengah melantunkan doa di telingaku. Hingga perlahan iblis itu termakan juga oleh apinya dan detik itulah kesadaranku perlahan kembali.
Disaat aku membuka mata, pandanganku bertemu dengan Jay dan Jake yang menatapku penuh rasa khawatir. "Kau tak apa, sayang?" tanya Jake yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala, sementara Jay malah menanyakan, "Ternyata kekuatan iblis itu kuat sekali, apa kau tahu kekasihmu itu mengikat dirimu menggunakan kekuatan itu?" tanya Jay yang tidak aku jawab dan hanya menatap kosong ke arah matanya.
Jungwon, bagaimana ini?
TBC
30 KOMEN YOK, CHAPTER DEPAN ADEGANNYA SAMA JAY DAN JAKE YA. Ga bisa terlalu frontal aku nulisnya, karena masih harus diupload di wp. Padahal ada beberapa kata yang harusnya menggunakan kata aslinya, seperti obat (p*ppers) dan lain sebagainya.