YOU POV
Pikiranku kosong setelah melihat secara langsung mayat Sunoo yang mati mengenaskan setelah ditembak oleh Jake Sim. Sekarang aku sadar, kalau kedua lelaki yang duduk di bangku depan mobil ini sangat berbahaya melebihi apapun di dunia ini. Rasanya iblis atau makhluk astral lain tak ada yang bisa menandingi kegilaan yang Jake Sim dan Jay Park lakukan. Mereka tak segan menghilangkan nyawa siapa saja yang berusaha menganggu ketentraman mereka dan sialnya kedua orang gila ini menaruh obsesi yang amat besar pada tubuhku.
Satu-satunya cara agar aku bisa bertahan hidup hanya pasrah atas segala yang mereka inginkan. Entah dijadikan peliharaan yang bisa mereka gunakan terus menerus sampai menjadikan diriku sebagai bintang porno untuk situs mereka. Terserah saja, rasanya seluruh energiku terkuras habis berkat upaya kabur yang Niki lakukan bersamaku malam ini.
Sekarang, lelaki itu malah meninggalkan aku sendiri menghadapi kegilaan Jake dan Jay Park. Sementara dirinya dengan mudahnya mengikat diri dengan Lucifer lalu kabur tanpa memperdulikan keselamatanku.
Kenapa kau beri pilihan itu pada Niki, Lucifer?
Kenapa tak kau biarkan saja dia mati seperti Sunoo?
Aku hembuskan napas kasar lalu membuang pandanganku ke luar jendela mobil saat melewati jembatan antar kota. Tak banyak kata yang Jake dan Jay ucapkan, mereka pikir aku tertidur di belakang. Padahal, aku hanya terus melamun sambil memandangi ujung cakrawala yang terlihat terang. Ya, mentari pagi perlahan naik untuk menyambut hari yang cerah.
Tak terasa, ternyata waktu telah memasuki pagi hari.
Aku pejamkan mataku saat merasakan kantuk perlahan mulai mengambil alih kesadaranku. Aku hanya tertidur sebentar sebelum menyadari tubuhku yang diangkat oleh Jay Park untuk turun dari mobil mereka. Bahkan saat berada di dalam lift, lelaki itu terus memperhatikan wajahku yang berusaha melawan rasa kantuk ini dengan membuka mataku.
"Kita bersihkan diri terlebih dahulu lalu kita istirahat bersama ya, sayang. Kami juga lelah setelah mencari mu semalaman penuh." ucap Jake perlahan mengelus puncak kepalaku dalam gendongan Jay. Sementara Jay dekatkan wajahnya ke arah pipiku untuk mengecupnya singkat. "Ngantuk sekali ya?" tanya Jay Park diakhiri tawa gemas saat melihat diriku bersusah payah mengembalikan kesadaranku.
Aku pun bergumam manja sambil berusaha meletakkan kembali kepalaku di lengan lelaki itu, "Iya daddy, aku mengantuk sekali." ucapku malah semakin memecah tawa Jay Park. Memancing Jake dekatkan diri ke arah kami berdua, "Bahkan panggilannya sampai terbalik seperti itu." ucap Jake diakhiri tawa pelan.
"Tapi, dia sangat menggemaskan jika memanggil dengan sebutan daddy! Aku jadi ingin dia memanggilku dengan sebutan daddy juga." ucapan Jay itu mampu memancing tindakan agresif Jake yang meremas wajah Jay sampai membuat bibirnya maju. "Panggilan daddy hanya untukku, Jay!" terdengar seperti marah tapi tak benar-benar marah karena setelah itu mereka berdua tertawa bersama.
"Okay, Jay daddy dan Jake daddy. Kalian berdua adalah daddy kesayanganku!" ucapku perlahan meminta turun dari gendongan lelaki itu. Aku merasa bisa berjalan sendiri walau kakiku terasa begitu sakit. Jake yang melihat ekspresi wajahku saat mengatakan itu pun mendekat guna memelukku erat. Rasanya kantukku berhasil menghilang berkat pertengkaran kecil mengenai panggilan daddy ini.
Setelah sampai di penthouse milik Jay Park dan Jake Sim, keduanya mengajakku membersihkan diri bersama menggunakan air hangat tanpa berusaha menggoda atau menikmati tubuhku lagi. Kedua lelaki itu begitu perhatian dengan mendedikasikan dirinya memberikan perawatan dan pengobatan untuk tubuhku yang lemah ini.
Jake Sim begitu telaten mengeringkan rambut panjangku yang basah, sementara Jay Park mengobati lebam yang tercipta oleh permainan mereka kemarin dan tanda yang sengaja Niki tinggalkan di tubuhku. Tak hanya mengoleskan salep di luka lebam ku, Jay Park juga memberikan pijatan-pijatan lembut dari ujung kaki hingga pangkal pahaku. Untuk meredakan sedikit rasa sakit yang aku rasakan, tak lupa ia oleskan minyak angin berwarna merah yang tercium sangat aromatik.
