YOU POV
"Lucifer yang menuntun pertemuan ini. Namun, ada satu yang harus aku tanyakan pada nuna. Kenapa nuna memutuskan ikatan kita? Nuna tak bisa mencintaiku seperti yang aku rasakan pada nuna? Aku melakukan semua ini demi menyelamatkanmu nuna tapi kenapa nuna bersikap seolah pasrah oleh keadaan!!" marah Jungwon dengan tubuh yang bergetar saat meremas lenganku begitu kuat.
Aku yang merasa tak enak pun berusaha menenangkan lelaki itu, "Jay Park yang memutus ikatan kita, Jungwon. Nuna tak bisa melakukan apapun untuk menolak mereka." aku tentu saja membela diriku sendiri, walau berusaha ku peluk tubuh Jungwon di hadapanku agar membuat lelaki ini luluh.
"Aku bisa melihat dengan jelas kejadian malam itu nuna, saat kamu begitu pasrah diperdaya oleh Jay Park dan Jake Sim. Mereka melepaskan mu dari lucifer semata-mata hanya ingin menggunakan tubuhmu secara terus menerus! Lalu kau melakukan perjanjian baru untuk memutus kutukan yang mengikat Sunghoon! Oh tuhan! Kau bahkan menghancurkan seluruh rencanaku nuna. Aku hanya ingin kamu lepas dari semua predator itu!" jelas Jungwon, bahkan mengetahui segalanya yang terjadi selama aku tak berada di sisinya. Pasti penglihatan itu dia dapatkan dari Lucifer dan hal tersebut begitu menyakiti kekasihku tersebut.
Dengan kasar, Jungwon hapus air mata di wajahnya lalu memberikan pilihan padaku, "Sekarang, nuna pilih. Mau ikut bersamaku pulang atau tetap menjadi peliharaan Jake Sim dan Jay Park?" yang sangat sulit untukku mengambil keputusan. Aku tahu, hubungan Jake dan Jay diambang kehancuran berkat diriku, tapi aku juga tak ingin Jungwon pergi meninggalkanku.
Aku masih ingin mencintai Jungwon tapi aku juga ingin melihat hubungan Jay Park dan Jake Sim hancur berkat diriku. Mereka harus mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka yang merugikanku.
"Bahkan sampai akhir, kau tak kunjung memilihku nuna. Baiklah, akan aku biarkan kamu melakukan apapun yang kamu mau bahkan untuk lepas dari kegilaanku. Kita akhiri saja semuanya sampai disini, aku tak ingin tahu kabar apapun darimu lagi, nuna." setelah mengatakan itu, Jungwon berjalan keluar tepat setelah pintu lift terbuka.
Refleks, aku kejar Jungwon yang melangkah sangat cepat seolah tak ingin aku menahan dirinya. Aku tak peduli, terus aku kejar Jungwon walau keadaan kakiku terasa sangat sakit.
Sialnya, ternyata ada Niki dan beberapa anak buah Jake Sim yang sedang berjaga di lobby gedung restoran ini dan langsung menghentikan langkahku yang ingin keluar gedung mengejar Jungwon.
"Jungwon, jangan tinggalkan nuna!" tangisku pecah sejadi-jadinya setelah menyadari Jungwon menyerah atas diriku. Bagaimana ini, harusnya aku tak bingung atas pilihan yang Jungwon berikan karena memang ia telah mengorbankan segalanya untukku, sementara aku sampai detik ini belum bisa menaruh perasaan cinta padanya.
Sekarang, tak ada yang menunggu kepulanganku lagi walau aku sadar betapa besarnya rasa sakit dan kecewa yang aku berikan pada Jungwon. Maafkan aku Jungwon, ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tahu kau dapat merasakan isi hatiku.
"Kau mau kemana, cantik?!" Niki bahkan sampai menggendong tubuhku ke pundaknya agar diriku tak dapat memberontak. Dengan gagah dan begitu kuat, Niki bawa tubuhku memasuki lift utama yang kebetulan hanya ada kami di dalamnya. Setelah menekan lantai tempat Jake berada dan pintu lift tersebut tertutup. Niki langsung turunkan aku untuk berdiri di dalam lift tersebut. Detik itu juga, Niki tangkup wajahku menggunakan kedua tangannya untuk mencium bibirku brutal.
Saking bernafsunya lelaki itu, bahkan sampai mengelus selangkanganku dengan menyingkap dress yang aku kenakan, sambil sebelah tangannya meremas kedua payudaraku secara bergantian. Ciuman itu pun terlepas setelah pintu lift terbuka di lantai lain.
Hanya ada seorang pria tua yang masuk ke lift ini, namun tak menghentikan niat Niki yang ingin merasakan bibirku kembali. Lelaki itu begitu agresif dengan memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Aku bahkan sampai memukul dada Niki cukup kuat, namun tak kunjung melepaskan ciuman Niki hingga ku rasakan mulai kehabisan napas, pintu lift akhirnya terbuka di lantai yang kami tuju.
Langsung Niki tarik tanganku keluar dari lift itu setelah menghapus sisa lipstikku yang tertinggal di bibirnya menggunakan lengan bajunya. Setelah itu, Niki bawa aku menghampiri Jake yang duduk tak tenang di kursinya. Aku yang tak ingin ketahuan Jake pun ikut menghapus sisa saliva Niki yang tertinggal di bibir dan daguku. Bersikap seolah tak terjadi apapun di antara kami, walau amarah tenggambar jelas pada wajah Niki yang tampan.
"Bos, kekasih Y/n tadi datang dan berniat membawa Y/n kabur bersamanya." jelas Niki pada Jake Sim. Detik itu juga, suasana yang terasa romantis perlahan berubah menjadi mencekam. Jake bangkit dari duduknya sebelum meremas wajahku keras untuk memperhatikan sesaat, "Kau membuktikan ketakutanku yang tak bisa menaruh kepercayaan padamu, Y/n. Jangan salahkan aku jika aku bersikap lebih posesif setelah ini." bisik Jake begitu mengintimidasi, namun tidak dengan wajahnya yang menampilkan senyuman manis seolah mampu memanipulasiku. Oh tuhan, kenapa aku malah semakin takut di buatnya?
Apa keputusanku ini sudah benar?
"Ayok makan, keburu dingin sayang." ucap Jake sangat pandai bersandiwara di depan banyak orang, namun setelah menuntunku duduk kembali ke kursi milikku, lelaki itu membisikkan sesuatu kepada Niki yang langsung Niki turuti dengan meninggalkan kami berdua.
Sepanjang kegiatan menyantap makanan malam yang tersedia, tak sepatah katapun yang Jake berikan untukku. Seolah dirinya tengah berusaha menahan seluruh amarah yang ia rasakan. Aku yang ketakutan pun hanya bisa terdiam sambil sesekali memandang pemamdangan di hadapanku. Hingga aku beranikan diri mengatakan, "Jungwon mengakhiri hubungan kami". Sukses menghentikan kegiatan makan Jake untuk menoleh ke arahku.
Ia sempat menatapku sejenak sambil mengunyah makanannya hingga senyuman perlahan terukir di wajah Jake. Lelaki itu mendekat ke arahku untuk menyendok sebuah scallop ke piring spageti milikku sambil mengatakan, "Baguslah, tapi tetap tak meringankan hukumanmu sayangku. Bersiaplah." setelah mengatakan itu Jake tertawa pelan dan melanjutkan kegiatan makannya.
Disaat kegiatan makanku telah selesai, Niki akhirnya kembali sambil membawa satu kotak kertas dan diberikannya langsung pada Jake. Setelah berterima kasih, Jake perintahkan aku meminum dua butir obat berukuran cukup besar. Aku tahu obat yang warna biru merupakan viagra yang biasa kami konsumsi sementara yang putih, aku tak mengetahui obat apa terdebut?
"Minum dua obat ini!" perintah Jake sempat membuatku berhenti sejenak. "Yang warna putih, obat apa daddy?" tanyaku yang langsung Jake bisiki kembali, "Minum saja, apa susahnya?" seolah tak ingin diriku terus bertanya mengenai hal tersebut.
Aku pun menuruti perintahnya yang membuat lelaki itu akhirnya mengusap puncak kepalaku lembut. "Tadi jadi pipis?" tanya Jake yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala. Aku pun menampilkan ekspresi yang sangat memohon padanya, "Temanin aku pipis, daddy. Kebelet banget." sengaja agar tak membuat Jake marah, namun kesempatan ini ternyata Jake manfaatkan untuk memintaku, "Ayo sayang, tapi sekalian kenakan ini ke dalam tubuhmu ya!" Jake sodorkan tas kertas yang sebelumnya diberi Niki.
Langsung aku lihat isi tasnya yang ternyata terdapat sebuah kotak berisikan vibrator lovense yang dapat diatur menggunkaan handphone milik Jake. Sialan! Aku tak ingin menggunakan vibrator ini!
"Aku tak mau, daddy." pintaku sampai memohon mohon padanya.
Perlahan senyuman manis Jake kembali terukir di wajahnya.
"Gunakan sebelum aku habis kesabaran, sayang! Ayo!!" Fuck Jake Sim! Kenapa kau malah memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.
TBC
ADA YANG PUNYA SARAN GA? KOMEN YAAA
