Hening, tak ada sepatah katapun yang Jungwon berikan setelah kami sampai di apartemen miliknya. Apartemen lelaki itu berukuran lumayan besar dengan interior yang mewah untuk kategori anak kuliahan sepertinya. Walau aku belum mengenal latar belakang keluarga Jungwon secara utuh, tapi aku tahu kedua orang tuanya sangat bertanggung jawab atas hidup Jungwon.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jungwon telah tinggal terpisah dari kedua orang tuanya sejak awal ia menempuh perkuliahan tiga tahun yang lalu. Kedua orang tua Jungwon telah bercerai dan kakak perempuan lelaki itu telah berumah tangga yang memaksa Jungwon tinggal terpisah dari keluarganya. Walau begitu, kedua orang tua Jungwon terus mengirimkan uang setiap minggunya dan memberikan banyak sekali investari sebagai bekal finansial untuk Jungwon di masa depan.
Secara harta, mungkin Jungwon bisa dikatakan sangat berkecukupan, namun soal kasih sayang, lelaki itu sangat membutuhkan kasih sayang dari orang terdekatnya. Jungwon pernah bercerita padaku, kalau hidupnya terasa begitu sepi dan kehadiranku bagai secercah cahaya dalam hidup Jungwon yang amat gelap. Tak heran, ia gunakan cara ekstrim untuk tetap mengikatku dalam hidupnya. Walau cara yang ia gunakan ini pasti memiliki konsekuensi yang sangat fatal. Jungwon, tetap tak peduli dan nekat membawaku semakin tenggelam dalam permasalahan dunia yang rumit.
Aku menoleh ke arah Jungwon yang ternyata tengah memperhatikanku dalam diam. Saat ini, kami tengah duduk penuh keheningan di sofa milik lelaki itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perlahan, jantungku berdegup sangat kencang seiring perasaan tak enak yang menyelimuti diriku. Tanpa sadar, aku ucapkan, "Aku mencintaimu, Jungwon." seolah begitu takut lelaki ini marah atas berbagai kejadian yang terjadi di belakangnya. Aku tak bisa mengontrol semuanya, yang bisa aku kontrol hanya kesadaran ku yang harus terus mencintaimu melebihi hidupku sendiri. Tolong jangan tempatkan aku dalam posisi seperti ini, aku takut sekali jika kau marah padaku.
"Aku tak sabar menantikan kematian tragis mengambil Sunghoon dari hidupmu, nuna." sekali berbicara, ucapan Jungwon itu mampu membuat napasku terhenti saking merasa takutnya. Namun, aku berusaha menutupi segala ketakutan itu dengan mendekat ke arah Jungwon dan memeluk lengannya manja, "Sayang, jangan bicara sesuatu yang mengerikan seperti itu. Aku lelah, bisakah aku beristirahat-" ucapanku Jungwon sela dengan gesture seolah menolak diriku memeluk lengannya.