YOU POV
Gedung karaoke SukaKita sudah terlihat di kanan jalan, setelah memutar arah, aku pelan kan laju motorku lalu memarkirkan motorku tepat di ujung barisan parkir pada karaoke tersebut. Setelah aku membuka helm yang aku kenakan, aku akhirnya menyadari ada seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan gedung karaoke sambil memperhatikanku. Lelaki itu datang seorang diri, sama halnya denganku yang telah menyiapkan segala konsekuensi terburuk atas kedatanganku lagi ke gedung karaoke ini.
Tak lupa aku minum pil pencegah kehamilan sebagai bentuk antisipasi karena aku tahu kedua pemilik karaoke ini merupakan lelaki gila yang sangat menginginkan tubuhku. Sialnya, aku harus kembali lagi ke karaoke ini bersama laki-laki yang menyebabkan kekacauan ini terjadi. Andai saja aku tak menyetujui ajakan Heeseung malam itu, aku yakin semua kekacauan ini tak akan mungkin terjadi.
"Ayo masuk!" ajak lelaki itu berniat melingkarkan tangannya di pinggangku saat aku berjalan melewati dirinya, namun berusaha aku hentikan dengan membuat jarak dengannya. Tepat setelah kami memasuki gedung karaoke yang cukup megah ini, seorang karyawan karaoke Sukakita menghampiri kami dan mengajak kami naik ke lantai 5 gedung ini.
Jantungku semakin berdegup kencang saat karyawan itu buka sebuah pintu ruangan yang terdapat banyak sekali kamera yang menyorot ke arah diriku dan Heeseung. Tepat setelah kami masuk ke ruangan itu, karyawan yang mengantar kami kunci pintu ruangan dari luar setelah menutupnya dengan gerakan yang cukup kasar.
Heeseung berusaha membuka pintu itu kembali, sementara diriku hanya diam mematung saat melihat Jake Sim dan Jay Park keluar dari kegelapan di ujung ruangan, tepat di belakang deretan kamera yang menyorot ke arah kami. Kedua lelaki itu ulaskan senyuman di wajahnya, terutama Jay Park yang tiba-tiba mengalungkan kalung salib ke leherku yang membuat tubuhku seperti ditusuk ribuan jarum seiring denging kuat terdengar memekakkan telingaku.
Beberapa detik kemudian, aku merasa seperti tubuhku lebih ringan dari sebelumnya dan denging di telingaku perlahan mulai berkurang. Disaat keadaan tubuhku perlahan membaik, malah keseimbangan tubuhku yang tiba-tiba menghilang. Hampir aku terjatuh ke lantai jika tidak cepat Jake tahan menggunakan tubuhnya.
"Bagaimana? Apakah sudah?" tanya Jake pada Jay yang perlahan berjalan menghampiriku lalu menuntunku agar berdiri menatap matanya yang tajam. Disaat Jay tangkup wajahku menggunakan tangan kirinya, aku pejamkan sejenak mataku sambil mengatur nafasku hingga aku merasa keseimbanganku perlahan kembali.
Sialnya, tepat setelah aku membuka mata, Jay malah mencium bibirku di depan semua orang. Termasuk Jake dan Heeseung yang terus memperhatikan kami dalam diam. Aku yang merasa ciuman Jay semakin menuntut pun memukul dada bidangnya agar menyadarkan lelaki itu kalau diriku sampai tak bisa menarik napas dibuatnya.
"Sudah, dia sudah bersih dari kekuatan iblis Lucifer. Kita bisa memilikinya sekarang!" jawab Jay yang langsung Jake balas dengan teriakan gembira. Lelaki itu bawa tubuhku yang lemah ke dalam pelukannya sementara Jay mengelus belakang kepalaku lembut sebelum ia kecup puncak kepalaku cukup kuat.
"Sudah saya bawa dia pada kalian, jadi tolong lepaskan saya!" pinta Heeseung sukses merusak suasana bahagia yang sedang Jay dan Jake rasakan berdua. Aku yang terkejut atas ucapan lelaki itu pun hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Jake ubah posisi berdiri ku menjadi memunggungi dirinya agar bisa Jake peluk tubuhku dari belakang, sementara Jay tiba-tiba menggandeng tanganku erat.
"Tak semudah itu, Heeseung! Penonton kami membutuhkan konten hari ini, jadi kamu harus melakukan hubungan badan bersama model kami yang lain!" ucap Jake sambil mengecup perpotongan leherku penuh gairah. Sementara tangannya mulai menekan perut bagian bawahku seolah ingin menghantarkan sensasi aneh di tubuhku.
Aku yang merasakan tak nyaman pun berusaha melepaskan pelukan Jake hingga Heeseung berkata, "Saya pikir akan melakukannya bersama Y/n!" jujur Heeseung mampu memecah tawa semua orang dalam ruangan ini, termasuk Jay dan Jake yang terus memelukku erat.
