44: Heeseung

779 59 39
                                        

YOU POV

Berusaha aku buang seluruh rasa benci, muak, kesal, hingga marah yang aku rasakan pada Heeseung guna melancarkan perintah Lucifer kali ini. Tak bisa aku pungkiri, aku merasa begitu berat saat harus bersetubuh dengan Heeseung lagi.

Biar bagaimana pun, kami pernah bersama dalam waktu yang singkat. Heeseung tahu rasa tubuhku, sementara aku tahu benar rasa tubuh lelaki itu yang tak sebanding dengan lelaki lain yang pernah bersetubuh denganku. Terutama jika dibandingkan dengan kekasihku, Yang Jungwon.

Aku sangat bersyukur memiliki kekasih seperti Jungwon yang sangat mencintaiku dan mampu memuaskan nafsuku tanpa perlu bersusah payah. Rasanya aku sudah begitu cocok dengan segala yang ada pada kekasihku tersebut, mulai dari ukurannya, jenis permainan, foreplay yang begitu nikmat, sampai desahan Jungwon yang terdengar sangat indah.

Aku tak bisa membayangkan jika harus bersetubuh dengan Heeseung lagi, walaupun sekarang aku sudah tak menaruh hati pada lelaki itu, tetap saja aku sangat merasa bersalah pada Jungwon karena telah berselingkuh darinya.

Ya, bukankah ini termasuk tindakan perselingkuhan?

Lamunanku buyar saat mobil yang Heeseung kendarai memasuki area padang rumput yang luas di pinggiran sungai Han. Lokasinya lumayan terpencil, bahkan mobil milik Heeseung sampai membuka jalan sendiri demi mencari lokasi yang strategis.

Setelah menaikkan rem tangan mobilnya, Heeseung menoleh ke arahku dengan senyuman mesum yang terukir di wajahnya. Aku yang merasa begitu risih pun hanya bisa membuang pandangan hingga lelaki itu tarik wajahku agar mendekat ke arahnya. Tanpa kata, Heeseung cium bibirku begitu brutal yang membuatku bahkan kesusahan mengambil napas.

Perlu aku pukul beberapa kali dulu dada Heeseung agar ia mau melepaskan ciuman kami. Bahkan setelah terlepas pun, Heeseung begitu agresif dengan memundurkan posisi kursi mobil yang aku duduki sampai ujung lalu berpindah posisi ke depan tubuhku setelah berhasil menempatkan diri di antara kedua kakiku.

Sempat aku pejamkan mata saat Heeseung bawa sandaran kursinya agar sedikit jatuh ke belakang, saat ia rasa posisinya nyaman untuk ia bergerak. Langsung Heeseung turunkan celana beserta dalamannya yang memperlihatkan perkutut kecil miliknya yang terlihat sangat merindukanku.

Aku yang menyadari nafsu telah sampai di ubun-ubun Heeseung pun tanpa sadar mendesah pelan saat lelaki itu meremas kedua dadaku. Cukup lama, sambil ia satukan lagi bibir kami untuk melampiaskan rindunya mencium bibirku.

Hingga tangan Heeseung tergerak untuk membuka celana jeans dan dalaman yang aku kenakan. Setelah membuang celanaku ke kursi kemudi, Heeseung elus permukaan vaginaku dan mulai menyadari perubahan yang terjadi di tubuhku.

"Milikmu melebar pertanda kau sering melakukan hubungan seksual setelah tidak bersamaku, Y/n. Dulu rasanya tak selebar ini." Heeseung utarakan hal tersebut yang sedikit membuatku sakit hati sampai nekat mendorong tubuh lelaki itu.

"Yaudah, cari perawan lagi aja sana. Jangan melakukannya denganku!" Setelah mengatakan itu, aku dorong tubuh Heeseung yang sialnya tak berpengaruh apapun pada tubuhnya yang keras itu.

"Kenapa? Aku malah suka yang seperti ini!" goda Heeseung yang langsung aku jawab, "Ya, karena makananmu sudah di depan mata, pasti suka lah!" ucapku yang langsung mendapat kejutan oleh Heeseung berupa ciuman brutal seiring ia satukan tubuh kami tanpa pelumas apapun. Bahkan Heeseung tak peduli walau kewanitaanku terasa begitu kering  saat ini.

Rasanya tubuhku tak begitu horny saat melakukan dengan Heeseung. Apa karena tanpa bantuan pil viagra? Aku rasa tak sepenuhnya benar karena memang aku tak merasa antusias saja melakukannya dengan Heeseung walaupun lumayan terasa enak.

Yang aku suka dari Heeseung hanya dadanya yang tebal dan sangat keras, apalagi dalam posisi menindih tubuhku begitu berat sampai membuatku susah menarik napas. Sungguh nikmat diluar nalar, bahkan melebihi rasa nikmat saat para lelaki yang menyetubuhiku tak henti mencium bibirku saat mereka hentakan tubuhnya. Fuck! Aku harus berusaha terlihat menyukainya walau rasanya persetubuhan dengan Heeseung ini terasa biasa saja bagiku.

Disaat Heeseung mulai menaikkan tempo hentakan tubuhnya dan desahannya terdengar semakin kencang, aku malah melamun sambil membayangkan amarah seperti apalagi yang akan Jungwon berikan padaku. Maafkan nuna sayang, nuna harus menuruti permintaan Lucifer agar lelaki ini menjadi bagian dari tumbal untuk memperkuat hubungan kita.

Aku mencintaimu melebihi apapun di dunia ini, Jungwon.

Di saat desahan Heeseung semakin terasa berat dan hentakannya mulai terasa dalam, tiba-tiba dari arah jendela mobil Heeseung ada yang mengetuknya sangat keras hingga mampu memancing pelepasan Heeseung yang tak sengaja mengeluarkannya di dalam tubuhku.

Aku yang terkejut pun berusaha menutupi bagian dadaku, namun saat aku melihat ke arah luar jendela, begitu terkejutnya aku saat melihat keberadaan Jake Sim dengan wajah yang sempurna tanpa luka, berdiri memperhatikan kami dari luar.

"Fuck! Bagaimana bisa Jake Sim tahu keberadaan kita!" setelah mengumpat kasar, buru-buru Heeseung kembali ke kursi miliknya untuk mengenakan pakaiannya kembali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Fuck! Bagaimana bisa Jake Sim tahu keberadaan kita!" setelah mengumpat kasar, buru-buru Heeseung kembali ke kursi miliknya untuk mengenakan pakaiannya kembali. Sama sepertiku yang kalang kabut mengenakan pakaianku kembali bahkan sebelum aku bersihkan sisa cairan Heeseung di tubuhku. Aku begitu ketakutan, apalagi setelah mengingat kenyataan kalau lelaki ini telah meninggal dunia saat terakhir aku bertemu dengannya kemarin.

Lalu Jake sekarang berdiri dengan wajah yang sangat cantik tanpa luka sedikitpun di wajahnya. Bagaimana bisa? Apa aku salah lihat? Tapi tadi Heeseung sempat mengumpat kok berkat keberadaan Jake Sim!

Tok Tok Tok!!

Ketukan itu berubah menjadi gedoran yang mampu membuatku semakin ketakutan, terutama saat Jake dengan mudahnya memecahkan kaca mobil ini dengan tangannya sendiri. Ia pukul kaca mobil ini dengan gerakan yang pelan walau tekanan yang Jake berikan dalam pukulan tersebut sangat kuat. Bahkan sampai memecah kaca mobil yang membuat serpihannya jatuh ke arahku.

Seolah ada kekuatan ghaib yang membersamai nya.

Setelah berhasil membuka pintu mobil di sebelahku, Jake mengelus wajahku mengunakan tangan kanannya lalu berkata, "Apa yang kau lakukan baby girl? Baru beberapa hari daddy lepaskan, kau sudah seliar ini rupanya?" setelah mengatakan itu, Jake gendong tubuhku keluar dari dalam mobil Heeseung untuk memasuki mobil Alphard miliknya yang sebelumnya Niki curi.

"Daddy tas dan handphoneku!" ucapku yang langsung Jake turuti dengan memerintahkan beberapa anak buahnya saja yang mengambilkan semua barangku dalam mobil milik Heeseung. Sementara Jake ajak aku berbicara di kursi tengah mobil ini sambil membantuku membersihkan serpihan kaca yang mengenai tubuhku.

"Kenapa? Terkejut melihatku masih hidup?" tanya Jake membuatku tersadar, saking terkejutnya aku sampai membuatku tak bisa berpikir cepat merespon segalanya. Jantungku rasanya ingin keluar dari tubuh ini saking merasa takut dan terkejutnya aku melihat Jake Sim masih hidup.

"Bukankah Jay menembak daddy malam itu, bagaimana bisa daddy-" ucapanku itu Jake potong dengan melayangkan ciuman manis di bibirku, sekaligus ingin membuktikan kalau semua yang aku lihat ini memang benar nyata.

Ya, Jake Sim hidup kembali.

"Aku dan Jungwon merupakan segelintir orang yang terpilih oleh Lucifer secara langsung, sayang. Jadi kami tak mudah untuk disingkirkan!"

FUCK! HABISLAH AKU!

TBC

30 KOMEN YOK BISA YOK
SEMOGA GA KENA PERINGATAN KARENA ADA SEDIKIT BAGIAN DEWASANYA YA. MAU KU PINDAHIN KE KK NANGGUNG BANGET SOALNYA.

HUG ME TIGHTERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang