YOU POV
"Jungwon, maafkan nuna sayang.
Jangan tinggalkan nuna.
Nuna sangat mencintaimu, tapi nuna ingin sekali membuat hidup Jay Park dan Jake Sim hancur.
Tolong, jangan akhiri hubungan kita.
Besok nuna akan datang ke apartemen mu untuk menjelaskan semuanya ya.
Love you, Jungwon."
Setelah mengirimkan deretan pesan itu, aku tatap vibrator berjenis lovense yang Jake Sim berikan padaku. Aku harus mengenakan vibrator ini sebagai hukuman atas percobaan kabur yang aku lakukan. Namun, aku sempat teringat ucapan Jake Sim yang akan bersikap lebih posesif lagi setelah ini. Aku pun langsung menghapus riwayat pesan yang aku kirimkan pada Jungwon walau aku tahu pesan itu telah dibaca oleh kekasihku tersebut.
Rasanya aku sedih sekali, bahkan saat aku memasukkan vibrator pemberian Jake dan merasakan sakit yang belum sembuh bekas hubungan semalam malah memancing air mataku mengalir deras. Aku sendiri tak mengerti apa yang aku inginkan sebenarnya, tetapi jika bisa aku urutkan tentu Jungwon akan selalu berada di urutan pertama dalam hal apapun. Sejak awal, aku memang berniat membuka hati untuknya tetapi melihat lelaki itu menyerah atas diriku malah membuatku semakin menyalahkan diriku sendiri yang tak paham atas perasaannya.
Setelah vibrator itu masuk ke bagian paling terdalam di tubuhku, aku buka kembali handphone milikku untuk melihat seumpama ada balasan pesan dari Jungwon. Tak ada, lelaki itu malah membuat status yang menunjukkan ia sedang berkumpul bersama beberapa teman wanitanya. Membuatku menghembuskan napas dan menghapus kasar air mataku menggunakan punggung tanganku.
Berusaha aku telan seluruh perasaan sedih dan menyesal yang aku rasakan lalu keluar dari bilik toilet tersebut. Aku sudah buang air kecil, bahkan aku sudah membersihkan tubuh bagian belakangku seumpama Jake gelap mata dan nekat menggunakan bagian tersebut.
Sebelum membuka pintu yang membatasi toilet wanita dan lorong restoran tempat Jake dan Niki menunggu. Aku hembuskan napas panjang lalu memasang senyum manis di wajahku. Aku buka pintu tersebut dan berjalan menghampiri Jake yang sedang memainkan handphone miliknya, sementara Niki terus memandang ke arahku penuh arti tanpa bisa melakukan apapun.
"Kenapa lama sekali?" tanya Jake dengan ekspresi yang dingin dan kesal. Aku yang merasa ketakutan pun kembali mengaktifkan mode feminim yang berhasil Heeseung aktifkan setelah kami dekat beberapa bulan yang lalu.
Ya, dulu aku berusaha membangun tembok tinggi pada semua lelaki yang berada disekitar ku, terus berada dalam mode survival yang memaksaku terus bersikap mandiri dan membangun maskulin energi untuk bertahan hidup. Namun, setelah Heeseung hadir dalam hidupku dan berhasil meruntuhkan tembok pertahananku. Perlahan sifat feminim alami dalam diriku keluar dan menggantikan sifat maskulin yang berusaha aku pertahankan sedari kecil.
Mungkin berkat sifat dan aura feminim itulah yang membuatku lebih mudah menarik perhatian para laki-laki ketimbang dahulu, sebelum mengenal Heeseung.
"Kewanitaanku masih sakit sekali, jadi tadi aku masukin vibratornya secara perlahan agar tak semakin luka." jelasku sambil berbisik dan mendekat ke arah pemilikku tersebut. Jake pun melingkarkan tangannya di pinggangku sebelum ia bawa wajahku menatap mata indahnya, "Daddy tak peduli, akan daddy gunakan kamu sampai membuat otakmu kosong dan tak terpikirkan kabur lagi dari pelukan daddy!" ucap Jake begitu seduktif dengan bibir tebal menggodanya itu. Tanpa sadar, saat aku perhatikan bibir Jake, aku gigit bibir bawahku sendiri sambil mengelus dada lelaki itu.
"Maafkan aku daddy, aku janji nghhh!" ucapanku terhenti saat merasakan vibrator dalam tubuhku mulai bergerak memanjakanku. Tanpa sadar, aku eratknan posisi pahaku sambil mengigit bibir bawahku sendiri untuk menahan desahanku. Jake yang menyukai diriku tersiksa pun mengangkat wajahku lagi agar tatapan kami bertemu.
