Setelah aku bujuk Niki dengan berbagai cara dan iming-iming, lelaki itu akhirnya mengizinkan aku melakukan panggilan telepon dengan Sunghoon maksimal selama 20 menit di dalam kamarku. Dengan syarat, ia tidak boleh mendengarkan percakapan kami dan aku akan tidur dengannya nanti bila kesempatan itu datang pada kami. Ya, tentu saja aku harus merelakan tubuhku ini untuk meluluhkan hati para lelaki bejat dalam lingkungan ini. Aku tak peduli, yang penting Sunghoon selamat dari ancaman iblis Lucifer yang menyesatkan!
Langsung aku lakukan panggilan video dengan Sunghoon. Tak perlu menunggu lama, panggilan itu pun Sunghoon angkat dengan senyumam manis dari rekan kerjaku itu sebagai sapaannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Cantikku~" panggil Sunghoon sukses membuat jantung berdegup tak karuan seiring euforia aneh mulai memenuhi dada hingga perutku, tanpa sadar aku jawab sapaan manis dari Sunghoon dengan, "Hoonie, kau baik-baik saja?" terdengar sangat lembut walau kekhawatiran tak bisa aku tutupi lagi di wajahku. Sungguh, kenapa Sunghoon terlihat sangat tampan dalam cahaya yang remang seperti ini? Atau aku baru menyadari saja kalau lelaki itu memang sangat tampan?
"Baik-baik saja, cantik. Kamu dimana? Aku jemput ya? Aku tadi ke apartemen mu loh tapi kau tak ada disana." ucap Sunghoon tak kalah khawatir dariku. Dengan jantung yang berdegup sangat kencang, aku mengatakan, "Sunghoon, aku harus berkata jujur mengenai ini. Tapi aku yakin kamu tak akan percaya dengan ucapanku ini." ucapku yang langsung Sunghoon jawab dengan gelengan kepala.
"Mengenai Lucifer?" tanya Sunghoon yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala. Sunghoon pun mengalihkan pandangannya dari layar handphoneku, memancing diriku berkata jujur. "Saat kita melakukannya kemarin, iblis itu sempat merasuki tubuhmu dan mengancam akan mengambil nyawamu jika aku tak membawamu ke kastil untuk melakukan ritual pada Lucifer. A-aku tak bisa melakukan itu Sunghoon karena Jay dan Jake mengurungku dalam penthouse mereka. Aku ingin sekali menyelamatkanmu, tapi yang bisa aku lakukan saat ini hanya menyarankan mu untuk lebih dekat ke tuhanmu sembari aku bantu perkuat menggunakan doa dari sini." ucapku sempat membuat Sunghoon terdiam seolah dipenuhi banyak sekali pikiran.
Lelaki itu sempat terdiam sebentar sebelum mengatakan, "Iblis itu datang ke mimpiku tadi malam. Aku tak ingin percaya, tapi sialnya aku dapat melihat kegiatan yang Jay lakukan untuk melepasmu dari belenggu iblis itu." jujur Sunghoon sukses membuat jantungku berdegup semakin kencang seiring senyuman menghilang di wajahku.
"Iblis itu juga mengancam, akan mengambil nyawaku dan nyawamu jika aku tak segera datang ke sebuah kastil daerah perbatasan. Aku tak ingin percaya, tapi ada berbagai kesialan yang terjadi di hidupku yang tidak bisa aku cerna menggunakan logika. Yang paling parah, saat diriku hampir tertabrak truk saat mendata tadi." ujar Sunghoon mampu membuatku memekik takut, "Sunghoon!" bahkan air mata, telah menggenang di pelupuk mataku saking merasa khawatirnya.
"Sekarang, aku mengerti ketakutan yang kamu rasakan kemarin." ucapan Sunghoon itu sukses memecah tangisku penuh rasa takut, bahkan sampai bulu di sekujur tubuhku berdiri dibuatnya.