YOU POV
Keesokan harinya..
Hari ini, aku harus masuk kerja karena waktu izinku telah habis walau keadaan tubuhku belum sepenuhnya membaik. Aku masih merasakan sakit pada pangkal paha hingga lututku, terutama pada bagian dalam pahaku yang terus dipaksa terbuka guna melayani banyak lelaki brengsek yang merusak hidupku.
Buru-buru, aku kumpulkan berita acara dari beberapa hari yang lalu sebelum mengurus penyerahan surat izin sakit ku ke pihak instansi langsung. Aku harus bergegas, karena mulai hari ini Jungwon akan terus menemaniku bekerja sambil menunggu jadwal sidang akhir perkuliahannya keluar.
Ya, kekasihku itu memiliki tekad yang sangat kuat untuk secepatnya menyelesaikan pendidikan agar dapat mencari pekerjaan dan menikahiku secepatnya. Jungwon terlihat begitu serius dengan terus membicarakan mengenai pernikahan setelah aku memutuskan untuk tinggal bersamanya. Kegigihan Jungwon lah yang membuatku yakin, walau Jungwon masih sangat muda tapi keinginannya begitu kuat mengikatku dalam bentuk apapun agar terus bersamanya hingga akhir hayatnya.
Tak hanya mengikatku melalui ikatan haram dengan iblis lucifer, tapi Jungwon juga ingin mengikatku menggunakan ikatan suci pernikahan agar hidup kami lebih tenang dan memiliki anak bersamaku. Aku juga tak menyangka, lelaki semuda Jungwon memiliki mimpi yang sangat sederhana seolah ia telah menggantungkan seluruh harapan hidupnya padaku seorang. Tetapi berkat mimpi sederhana dari Jungwon itulah yang membuatku tersadar, lebih baik dicintai seseorang daripada mencintai orang yang salah.
Itulah sebabnya aku berusaha merubah segalanya dalam hidupku, aku akan membalas seluruh kasih sayang yang Jungwon berikan, sebesar apa yang telah ia berikan padaku sampai membuat Jungwon tak merasa rugi telah menggantungkan seluruh kebahagiaannya padaku.
"Mba Y/n gimana keadaannya?" tanya Roeun yang baru saja, sukses menghambur lamunanku yang sedang duduk guna menunggu waktu briefing bersama manajer lapangan kami. Sempat aku berikan senyuman pada rekanku tersebut, "Baik, sudah mendingan ini." jawabku berusaha terlihat biasa saja di depan semua orang.
"Mba sakit apa kemarin? Lumayan lama juga ya, tiga hari." tanya Roeun. Baru aku ingin menjawab pertanyaannya tersebut, tiba-tiba seorang rekan kami bernama Kyungmin datang dan melayangkan pertanyaan yang mampu membuatku tak bisa lagi menutupi kegugupan di wajahku, "Mba Y/n, lihat Sunghoon ngak? Dua hari yang lalu dia nyariin mba loh, eh giliran mba masuk, dia yang ga ada kabar".
Aku telan ludahku dengan susah lalu menjawab pertanyaan tersebut dengan dingin, "Gak lihat aku." begitu singkat tapi mampu membuat Kyungmin terdiam sambil menatapku penuh arti. Kyungmin pun sempat meminta kepada Roeun, "Roeun bisa tinggalin kami berdua ga? Aku perlu bicara sesuatu dengan mba Y/n!" ucap Kyungmin sempat membuat Roeun penasaran.
"Tentang apa ini, gaji kita kah?" yang langsung Kyungmin jawab dengan gelengan kepala. Aku yang tak nyaman berada dalam situasi ini pun mengajak Kyungmin naik ke atas rooftop untuk berbicara berdua.
Setelah memastikan tak ada siapapun, Kyungmin bertanya, "Mba Y/n tahu mengenai pertengkaran Sunghoon dengan pacar mba bernama Jungwon itu?". Aku anggukkan kepalaku lalu menjawab, "Aku baru mengetahuinya tadi malam, Kau ikut bersama Sunghoon mengeroyok kekasihku ya, Kyungmin?" tanyaku langsung menembak ke inti permasalahan.
Seketika, wajah Kyungmin berubah menjadi pucat yang membuatnya mulai memberikan sikap gelisah.
"Aku hanya ikut mengantar, yang mengeroyok kekasihmu adalah Sunghoon dan beberapa teman tongkrongannya. Setelah malam itu, Sunghoon hyung tak ada menghubungiku lagi, mba. Itulah sebabnya aku bertanya pada mba." ucap Kyungmin yang ku jawab dengan hembusan napas panjang.
"Aku juga mencarinya, aku ingin meminta penjelasan atas tindakannya tersebut. Sampai kekasihku babak belur begitu!" ucapku sempat membuat Kyungmin terdiam sambil menggigit bibir bawahnya keras.
