"Bangun sialan!" Kesadaranku perlahan kembali berkat tamparan keras yang aku dapatkan secara berulang kali di bagian wajahku. Tak hanya bagian wajah dan sekujur kepala yang terasa begitu sakit, telingaku bahkan sampai berdenging berkat tamparan keras tersebut.
Tanpa bisa aku kendalikan, aku menangis kencang seraya memohon ampun pada seorang pria bertubuh kekar yang terus melayangkan tamparan ke wajahku. Hingga akhirnya pria itu menghentikan kegiatannya setelah menyadari ku telah sadar seutuhnya dari obat bius yang mereka berikan.
Detik itu juga aku mengingat momen yang terjadi sebelum aku kehilangan kesadaranku. Sialnya, seseorang yang terus menampar wajahku ini adalah pria bertubuh besar yang sebelumnya memberikan obat bius padaku menggunakan sebuah sapu tangan yang ia tempelkan ke hidung dan mulutku.
Pria itu angkat wajahku yang terasa panas agar tatapan kami bertemu, beliau berkata, "Gadis ini sudah bangun, boss!" yang ditujukan untuk pria lain dalam ruangan gelap ini.
Ya, hanya ada satu penerang dalam ruangan ini yaitu sebuah lampu bertenaga kecil yang tergantung di atas kepalaku.
"Keluarlah!" ucap pria yang tak dapat aku lihat wujudnya saking gelapnya sisi ruangan yang tidak diterangi cahaya lampu. Pria bertubuh kekar itu pun akhirnya meninggalkan aku seorang diri di tangah kegelapan ini. Membuatku semakin panik dengan terus menoleh ke kanan dan kiri hingga sebuah suara tamparan terdengar di ujung ruangan sana.
Jaraknya cukup jauh dariku, namun disaat cahaya lampu di sisi ruangan itu menyala. Akhirnya aku sadar atas keberadaan korban lain dalam ruangan ini selain diriku. Berusaha aku fokuskan pandanganku pada lelaki yang terus ditampar itu, hingga aku menyadari kalau lelaki yang sedang ditampar itu adalah rekan kerjaku bernama Sunghoon.
Tak salah lagi!
Dia Sunghoon, namun bedanya Sunghoon tak kunjung tersadar yang membuat tamparan itu semakin kuat ia dapatkan. Baru aku ingin memanggil nama Sunghoon untuk menyadarkannya, seorang lelaki berwajah tampan membawa wajahku paksa untuk menatap matanya yang berdiri tepat di hadapanku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Pria pertama)
"Kau sudah sadar?" tanya pria itu yang ingin sekali aku jawab dengan, "Buta matamu?!" namun, aku terlalu takut melakukannya. Terutama setelah menyadari lelaki tampan itu tak menemui ku seorang diri. Ia bersama pria tampan lain yang tak kalah memiliki aura mengerikan sepertinya, namun lelaki itu lebih murah senyum ketimbang lelaki yang meremas wajahku kini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.