YOU POV
Aku tak sanggup untuk sekedar bangkit dari kasur ini. Kewanitaanku begitu sakit, terutama daerah selangkangan hingga kakiku yang dipaksa Niki untuk terus terbuka lebar untuknya. Lalu setelah merasa puas atas tubuhku, brengsek itu kabur menembus hutan belantara agar tak dibunuh oleh Jake Sim. Sementara diriku ia biarkan terbaring lemah dalam keadaan hina di atas kasur campervan miliknya.
Malang benar nasibku ini, setelah dipakai aku ditinggal begitu saja demi kepentingannya sendiri. Sudah ia membawaku kabur dari bosnya yang gila, sekarang Niki tinggalkan aku seorang diri meratapi rasa sakit dan tak berharga yang semakin memenuhiku.
Sebenarnya, penderitaanku bermula dari pertemuanku dengan Heeseung. Aku masih mengingat jelas, hari itu adalah hari sabtu dan kami diwajibkan hadir dalam peresmian kantor baru. Aku mengingat jelas, baru seminggu bekerja di instansi pemerintahan yang menaungi kami. Pertama kali aku bertemu dengan Heeseung di lantai dua kantor kami yang kosong untuk membicarakan mengenai ruangan-ruangan yang memungkinkan untuk dijadikan mess sementara untuk para pekerja perantau seperti kami.
Heeseung yang menghampiriku pertama kali saat sedang berbincang dengan manajer lapanganku bernama mas Jungkook. Ia bertanya mengenai kota asalku, lokasi apartemen lamaku, hingga kemungkinan untuk aku menempati salah satu ruangan di gedung tersebut jikalau jadi dijadikan mess sementara. Semula hanya perbincangan biasa hingga rasa penasaran membawaku naik menuju lantai paling atas gedung kantor kami.
Sialnya, Heeseung telah berada lebih dulu menikmati semilir angin di rooftop kantor. Aku yang tak berpikiran buruk pun melihat lihat ke sekitar sebelum ikut melihat ke arah pandang Heeseung yang memperhatikan pemandangan sambil bersandar pada pembatas area rooftop. Dari situlah perkenalan lebih mendalam terjalin di antara kami. Heeseung sangat pintar mencari topik pembahasan hingga interaksi di antara kami harus terhenti berkat kehadiran seorang rekan kerja kami yang lain.
Aku pikir, kami hanya akan berkenalan biasa. Namun, ternyata sepulang bekerja aku mendapat sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal yaitu nomor Heeseung. Aku tak berpikiran aneh saat itu, aku pikir ia hanya ingin berteman saja namun memang Heeseung merupakan tipe yang sangat agresif.
Ia tahu letak apartemen lamaku, jadi ia datangi salah satu mall yang berada sangat dekat dengan apartemenku lalu memberitahu lokasinya padaku. Ia memintaku untuk menemaninya mencari beberapa barang, namun beruntungnya aku sudah dijemput temanku untuk berwisata kuliner bersama.
Tak habis ide, Heeseung hampiri aku yang sedang menikmati waktu bersama teman-temanku hingga membuat dua temanku bernama Ireum dan Somin sedikit tak nyaman hingga memberikan kami waktu berdua. Bahkan, dengan polosnya aku menyetujui ajakan Heeseung yang minta ditemani mencari lokasi karaoke yang bagus untuk ia gunakan bersama rekan kerja divisinya.
Aku akui, aku memang begitu polos saat itu karena aku merasa begitu kesepian yang membuat interaksi sedikit saja dengan lawan jenis terasa sangat berarti bagiku. Aku berharap dapat menemukan teman dekat laki-laki yang baru, namun ternyata perkenalanku dengan Heeseung lah yang membawaku tenggelam di lingkaran setan ini.
Kedua temanku bernama Ireum dan Somin sebenarnya sudah memperingatkan diriku untuk tidak mudah dekat dengan lelaki asing dan ternyata benar. Semua ketakutan yang mereka rasakan itu benar terjadi padaku. Heeseung tak hanya mencium, membuka bajuku paksa bahkan memperkosaku di dalam ruangan karaoke itu yang ternyata telah dipasang kamera tersembunyi oleh Jay Park dan Jake Sim.
Aku bisa saja berteriak, tapi dalam posisis terlecehkan, terpojok dan penuh ketakutan seperti itu, tubuhku begitu susah diajak bekerja sama. Aku merasa begitu ketakutan dan sialnya Heeseung gunakan ketakutanku itu untuk menikmati tubuhku. Dalam posisi seperti itu, banyak wanita yang tidak bisa berpikir jernih dibuatnya dan tak tahu harus berbuat apa untuk menghentikannya
