Perjalanan pulang terasa lebih ringan dengan obrolan santai di antara mereka, seolah tak ada jarak yang sempat tercipta. Sesekali Jisoo mencuri pandang ke arah Jennie yang sibuk mengatur kantong-kantong makanan di pangkuannya, sesekali menggumamkan lagu yang sedang diputar dari radio.
"Kau menyanyi sambil menyetir? Hebat sekali, Kim," sindir Jennie sambil tersenyum kecil.
"Aku harus memanfaatkan waktu, Jennie. Siapa tahu aku harus menyaingi Chaeyoung di studio suatu hari nanti," balas Jisoo sambil tertawa.
Jennie menggeleng, matanya menyipit dengan senyum yang tulus. "Tidak akan pernah terjadi."
Saat mereka tiba di rumah, Lisa dan Rosé sudah menunggu di ruang tamu, tampak bosan.
"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Lisa sambil menyilangkan tangan di dada.
"Jennie bersikeras membelikan makanan untukku, jadi kami mampir sebentar," jawab Jisoo sambil mengangkat kantong kresek sebagai bukti.
Rosé yang sejak tadi diam langsung berseru, "Ah, akhirnya makan malam datang!"
Jennie meletakkan makanan di meja makan, sementara Jisoo pergi ke kamar untuk mengambil sesuatu yang ia sebut sebagai pemberian dari eomma mereka.
Ketika Jisoo kembali, dia membawa sebuah kotak kecil berwarna putih dengan pita merah yang rapi melilitnya. Dia menyerahkannya pada Jennie.
"Ini dari eomma. Katanya dia ingin kau memakainya untuk sesuatu yang spesial."
Jennie menatap kotak itu dengan bingung, kemudian membuka pita dengan hati-hati. Di dalamnya ada sebuah kalung perak sederhana dengan liontin berbentuk hati. Di balik liontin itu, ada ukiran kecil bertuliskan Jendeuk.
Matanya membulat, lalu ia menatap Jisoo dengan ekspresi campuran antara terharu dan bingung. "Ini... sangat cantik. Kenapa eomma memberikan ini padaku?"
Jisoo mengangkat bahu, tetapi senyumnya menyiratkan sesuatu yang lebih. "Katanya kau pantas mendapatkannya. Dan mungkin... ini juga sebagai pengingat bahwa kau selalu menjadi bagian dari keluarga kami."
Jennie menggenggam kalung itu dengan lembut, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Jisoo. Dan terima kasih juga untuk eomma. Aku akan menjaganya dengan baik."
Lisa dan Rosé yang menyaksikan momen itu langsung bersorak. "Ayo Jennie, pakai sekarang juga!"
Jennie tertawa kecil sebelum memakaikan kalung itu di lehernya. Jisoo membantu mengaitkan pengunci kalung, dan sekali lagi, tangan besar pria itu terasa nyaman dan melindungi di sekitar Jennie.
"Bagaimana? Cocok?" Jennie memutar tubuhnya sedikit ke arah mereka.
"Cocok sekali!" jawab Lisa dan Rosé hampir bersamaan.
Jisoo mengangguk, matanya memancarkan kebanggaan. "Sangat cocok, Jendeuk."
Jisoo tersenyum kecil saat melihat Jennie memandangi kalung itu dengan mata berbinar. Ia duduk di samping Jennie di sofa, lalu mulai bercerita, "Kalung itu dibuat sendiri oleh eomma, tahu tidak?"
Jennie menoleh, terlihat terkejut. "Eomma buat sendiri? Serius?"
Jisoo mengangguk. "Iya. Dia bilang membuatnya saat ikut workshop kerajinan perhiasan di luar negeri bersama ibu-ibu yang lain. Katanya, dia ingin membuat sesuatu yang spesial untuk kita semua."
Mendengar kata "kita semua," Jennie mengerutkan alisnya sedikit. "Maksudmu... hanya aku, atau...?"
Jisoo terkekeh pelan, seolah tidak menyadari nada tanya di suara Jennie. "Ah, tentu saja tidak hanya kamu, Jendeukie. Rosé dan Lisa juga dapat, tapi aku lupa membawakan milik mereka tadi. Kalau tidak salah, milik Rosé itu bentuknya bunga mawar, dan punya Lisa seperti bola basket kecil."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jisoo Unnie To Jisoo Oppa ?!
FantasyPenampilan Jisoo yang berubah 100% karena obat yang dibelinya dari situs online dengan harga puluhan juta. Bisakah dia kembali seperti semula? silahkan dibaca~ #slowupdate
